Langgar Gantung An Nur, Jejak Laskar Diponegoro di Blitar

Warga setempat mengenalnya sebagai Langgar Gantung, bangunan tua yang diyakini sebagai jejak pelarian laskar Pangeran Diponegoro pasca-pecahnya Perang Jawa pada tahun 1825.

26 Feb 2026 - 14:00
Langgar Gantung An Nur, Jejak Laskar Diponegoro di Blitar
Langgar Gantung atau Musala An Nur yang berada di Jalan Kemuning, Kelurahan Plosokerep, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar. (Foto : Ninda Kinanti/SJP)

KOTA BLITAR, SJP– Di tengah pemukiman warga Jalan Kemuning, Kelurahan Plosokerep, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, berdiri sebuah musala kayu sederhana yang menyimpan nilai sejarah besar. 

Warga setempat mengenalnya sebagai Langgar Gantung, bangunan tua yang diyakini sebagai jejak pelarian laskar Pangeran Diponegoro pasca-pecahnya Perang Jawa pada tahun 1825.

Musala bernama An Nur ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan penanda sejarah dan saksi gerilya sekaligus pusat syiar Islam di kawasan yang dahulunya merupakan hutan lebat.

Berdasarkan penuturan keluarga, Langgar Gantung didirikan pada tahun 1824 oleh Mbah Irodikoro atau Abdus Sjakur. 

Ia merupakan salah satu laskar Pangeran Diponegoro yang menyingkir dari kolonial Belanda bersama empat rekannya, yakni Singodongso, Irodongso, Irokerto, dan Iromerto. Kelimanya kemudian membuka perkampungan baru di wilayah Plosokerep.

Ketua Takmir Musala An Nur, Isman Hadi, yang merupakan keturunan pendiri, menyatakan bahwa para pejuang tersebut tidak hanya bersembunyi, tetapi juga membangun basis dakwah.

"Mbah Irodikoro dan kawan-kawan tidak hanya bergerilya, tapi juga mengajarkan agama kepada warga sekitar. Dari situlah langgar ini berdiri," terang Isman, Kamis (26/2/2026).

Julukan Langgar Gantung merujuk pada konstruksi bangunan yang unik. Musala ini tidak menggunakan fondasi permanen yang ditanam, melainkan berdiri di atas umpak batu layaknya rumah panggung tradisional Jawa.

Model bangunan tersebut dipilih karena pada awal abad ke-19, kawasan Plosokerep masih berupa hutan yang rawan gangguan hewan liar. Struktur panggung dianggap lebih aman dari ancaman ular dan binatang buas lainnya.

Hingga saat ini, sekitar 90 persen bagian bangunan masih asli. Pilar kayu, kusen pintu, jendela, hingga dinding anyaman bambu tetap dipertahankan. Perbaikan hanya dilakukan pada bagian yang lapuk, seperti penggantian genteng, usuk, reng, serta lantai yang mulai rapuh.

"Bagian plafon sempat diganti asbes, lalu dikembalikan ke model semula yaitu dengan anyaman bambu," ujarnya.

Meski telah berusia hampir dua abad, aktivitas ibadah di dalamnya tidak pernah berhenti. Setiap bulan Ramadan, Langgar Gantung ramai digunakan untuk salat berjamaah, tarawih, hingga tadarus Al-Qur'an. Nuansa kayu tua dan dinding bambu dinilai memberikan suasana ibadah yang lebih khusyuk bagi warga.

"Masih seperti biasa kegiatan yang dilakukan di sini. Setiap Ramadan, sudah pasti salat berjamaah lima waktu, tarawih, tadarus dan lainnya," kata Isman.

Namun, di balik nilai sejarahnya yang tinggi, perhatian Pemerintah Kota Blitar dinilai masih minim. Musala An Nur yang telah masuk dalam daftar cagar budaya ini sepenuhnya dirawat secara swadaya oleh keluarga keturunan Mbah Irodikoro.

Meskipun pihak pemerintah pernah melakukan peninjauan dan meminta proposal perawatan, hingga kini belum ada bantuan konkret yang diterima pengelola.

"Secara swadaya kami lakukan perawatan sendiri," pungkasnya. (*) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow