Lahan Tidur di Tengah Kota Jember Disulap Jadi Kebun Anggur Produktif dan Edukatif
Lahan tidur di tengah Kota Jember disulap menjadi kebun anggur produktif dan edukatif. Selain bernilai ekonomi tinggi, kebun ini juga menjadi destinasi eduwisata dan laboratorium hidup bagi mahasiswa pertanian.
JEMBER, SJP - Lahan kosong yang lama terbengkalai di kawasan perkotaan Jember kini berubah wajah. Deretan tanaman anggur tumbuh rapi di dalam sebuah greenhouse, menjadikan area yang dulu tak bernilai menjadi kebun produktif sekaligus ruang belajar pertanian modern bagi masyarakat.
Transformasi lahan tidur ini menghadirkan kebun anggur dengan berbagai varietas impor, di antaranya Akademik, Ninel, Transfigurasi, Gozu, Tamaki, Urum, Heliodor, dan Takrifan. Tanaman-tanaman tersebut tumbuh subur meski berada di wilayah dengan karakter iklim panas dan kering.
Petani anggur setempat, Yohannes Hiarij, mengatakan Jember sebenarnya memiliki potensi besar untuk pengembangan anggur jika dikelola dengan pola perawatan yang tepat dan konsisten.
“Potensi anggur di Jember sangat besar karena cuacanya mendukung. Tantangannya ada pada perawatan, bukan pada iklim,” ujar Yohannes saat ditemui Sabtu (17/1/2026) pagi.
Selain menghidupkan kembali lahan tidur, kebun ini juga menghadirkan nilai ekonomi yang menjanjikan. Anggur hasil panen memiliki harga jual berkisar Rp 100.000 hingga Rp 150.000 per kilogram, tergantung jenis dan kualitas buah, dengan permintaan pasar yang relatif stabil.
Tak hanya difungsikan sebagai lahan produksi, kebun anggur tersebut juga dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi berbasis pertanian. Pengunjung dapat belajar langsung mengenai proses budidaya anggur modern, mulai dari penanaman, perawatan, hingga panen.
“Pemasaran anggur relatif mudah. Jika dikemas dengan konsep edukasi, nilai tambahnya jauh lebih besar,” tambah Yohannes.
Dari sisi akademik, kebun ini berperan sebagai laboratorium hidup bagi mahasiswa pertanian. Sebanyak 40 bibit dari tujuh varietas ditanam sebagai tahap awal untuk keperluan praktikum dan riset lapangan.
Kebun anggur tersebut menjadi ruang pembelajaran langsung, tidak hanya tentang produksi buah, tetapi juga pengembangan produk turunan dan inovasi pertanian berkelanjutan.
Salah satu mahasiswa pertanian, Warda Dwi, mengaku terkesan dengan perkembangan anggur di Jember yang jauh dari citra daerah sejuk.
“Kami sempat kaget melihat anggur bisa tumbuh sangat subur di daerah panas. Di sini kami belajar langsung cara menanam dan merawat anggur, sekaligus mengenal banyak varietas dalam satu tempat,” ujarnya.
Ke depan, kebun anggur ini diharapkan terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi petani lain di Jember untuk memanfaatkan lahan tidur menjadi aset produktif. Meningkatnya minat masyarakat terhadap tanaman anggur diyakini dapat membuka peluang usaha baru sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. (**)
Editor: Danu
What's Your Reaction?

