Lagi, Satpam Sekolah di Mojokerto Diduga Cabuli Siswi SD
Mirisnya, ada dua korban yang diduga dicabuli oleh oknum satpam SD di Kota Mojokerto itu. Keduanya adalah siswi di tempat A bekerja.
KOTA MOJOKERTO, SJP - Dugaan kasus pencabulan yang dilakukan oleh sekuriti atau satuan pengaman (satpam) sekolah terhadap siswi kembali terjadi di Kota Mojokerto.
Mirisnya, ada dua korban yang diduga dicabuli oleh oknum satpam SD di Kota Mojokerto itu. Keduanya adalah siswi di tempat A bekerja.
Kasus ini terungkap, setelah Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak (PA) Jawa Timur mendatangi lembaga pendidikan negeri di Kota Mojokerto itu.
"Ada beberapa hal yang Komnas PA Jatim temukan, pertama kejadian ini ternyata sudah berlangsung selama kurang lebih tahun yang lalu," kata Sekretaris Jendral (Sekjen) Komnas PA Jatim, Jaka Prima, saat diwawancarai usai mendatangi sekolah, Kamis (7/8/2025).
Informasi yang diterima oleh Jaka, modus yang dilakukan merayu anak itu seolah seperti orang tua dengan anaknya.
Jaka menyebut, terduga pelaku itu tidak mempunyai anak, sehingga selalu dekat dengan anak-anak seakan tidak ada yang curiga hingga sampai berujung ke perbuatan cabul.
Jaka menambahkan, terduga pelaku ini juga sudah bekerja menjadi satpam di sekolah itu terbilang cukup lama, sekitar 14 tahun.
"Pelakunya ini mencoba mendekati dengan merayu, memangku, sambil melihat hanphone, kemudian melakukan sesuatu yang dianggap kurang baik," urai Jaka.
Hasil isvestigasi Komnas PA Jatim menyebutkan bahwa korban sementara ini yang diketahui ada dua anak. Modusnya sama, namun korban yang pertama tidak lapor polisi karena pelaku membuat surat pernyataan untuk tidak mengulanginya.
Namun, surat pernyataan itu dilanggar sendiri oleh A, sehingga orang tua korban kedua langsung melaporkan kelakuan A setelah sang anak bercerita.
"Puncaknya lada bulan Juli kemarin ada yang laporan lagi ke Polres Kota Mojokerto dengan hal yang sama, tapi korban yang berbeda. Sudah ada dua korban. Yang lapor hanya satu, satunya hanya saksi saat ini," lontarnya.
Disinggung adanya korban lain selain dua anak di SD itu, Jaka bilang masih menggali informasi lebih dalam.
"Kami meminta sekolah koperatif menyamlaikan semuanya, apapun yang menjadi kendala atau ada korban lain, segera sampaikan," ujarnya.
Komnas PA Jatim mengaku akan komitmen membantu pihak korban. Baik memberikan pendampingan secara hukum maupun memberikan trauma healing.
"Kondisi anak saat ini, korban sudah aktif, pihak sekolah sudah menyampaikan sudah pulih, sebelumnya sempat takut sekolah, tidak mau cerita, sekarang sudah aktif sekali," terangnya.
Usai mendatangi pihak sekolah, Komnas PA Jatim segera mendatangi Mapolres Mojokerto Kota untuk menanyakan perkembangan laporan itu.
"Kami akan langsung ke pak kanit dan pak kasat, kami mengatensi perkara ini, agar langsung ditindaklanjuti, dan kami meminta naik, dan ditetapkan tersangka, bukti saksi sudah cukup kuat, berdasarkan pernyataan juga, pelaku mengulangi perbuatannya, pelaku harus mempertanghingjawankan perbuatannya dan menjadi pembelajaran bagi siapapun," pungkasnya.
Terpisah, kepala sekolah tempat A bekerja mengaku telah memecat oknum sekuriti itu sebelum adanya laporan polisi.
Ia mengaku kooperatif dalam perkara ini, termasuk akan memberikan informasi kepada Komnas PA ketika muncul korban baru. Meski ia berharap tidak ada lagi korban asusila di lembaga pendidikan yang ia pimpin itu.
"Sudah kami pecat 18 Juli 2025. Laporan dilakukan orang tua pada Sabtu 19 juli 2025. Psikologis anak saat ini sudah kembali ceria," tutupnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

