Kunjungan Wisatawan Naik, Produksi Sampah di Kota Batu Ikut Melonjak

DLH Kota Batu membeberkan mayoritas sampah yang dikumpulkan selama periode ini berasal dari sektor horeka (hotel, restoran, dan kafe), serta kawasan destinasi wisata. Bahkan, sampah nonorganik seperti sisa makanan dan kemasan sekali pakai mendominasi hingga 60 persen dari total timbulan.

04 Jul 2025 - 17:19
Kunjungan Wisatawan Naik, Produksi Sampah di Kota Batu Ikut Melonjak
Suasana mesin incenerator sampah di TPA Tlekung Kota Batu (Arul/SJP)

KOTA BATU, SJP – Meskipun Kota Batu tengah menikmati lonjakan kunjungan wisatawan berkat libur sekolah dan gelaran Porprov IX Jatim 2025, namun di balik euforia meningkatnya perputaran uang di sektor pariwisata, muncul pekerjaan rumah yang tak bisa diabaikan, yakni lonjakan produksi sampah.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu Dian Fachroni pada Jumat (4/7/2025) menguraikan, selama momen libur panjang ini, timbunan sampah harian meningkat drastis, menyentuh angka 35 ton per hari. Jumlah itu naik sekitar 10 ton dibanding hari-hari biasa, di mana produksi harian hanya berkisar antara 10 hingga 25 ton.

"Pada momen seperti ini, terjadi peningkatan yang cukup signifikan. Jumlah kunjungan wisatawan naik, maka volume sampah otomatis ikut meningkat. Kenaikan produksi sampah ini memang tidak mengejutkan. Sebab berdasarkan data Dinas Pariwisata, tercatat ada sekira 13 ribu wisatawan yang datang ke Kota Batu selama masa libur," urainya.

Dian membeberkan mayoritas sampah yang dikumpulkan selama periode ini berasal dari sektor horeka (hotel, restoran, dan kafe), serta kawasan destinasi wisata. Bahkan, sampah nonorganik seperti sisa makanan dan kemasan sekali pakai mendominasi hingga 60 persen dari total timbulan.

Meski DLH telah mengoperasikan lima unit insinerator di TPA Tlekung dan dua TPS3R di Sisir serta Dadaprejo, ia menegaskan bahwa pengolahan berbasis pembakaran bukan solusi jangka panjang. Sehingga pihaknya kini tengah mendorong pengurangan penggunaan insinerator dengan memperluas sistem pemilahan dan pengolahan sampah secara mandiri, termasuk melalui biokomposter untuk sampah organik.

"Kalau semua sampah dikirim tanpa pemilahan, maka proses pemusnahan akan memakan waktu lebih lama. Itu jadi tantangan ketika volume harian sedang tinggi seperti sekarang," imbuhnya.

Untuk itu, DLH juga aktif melakukan edukasi kepada wisatawan dan pelaku usaha, agar lebih sadar dalam memilah sampah dan mengurangi penggunaan bahan sekali pakai. Kampanye dilakukan melalui media sosial dan di sejumlah titik destinasi wisata. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow