KSOP Probolinggo Perketat Pengawasan Pelayaran Menyusul Peringatan Cuaca Ekstrem BMKG

BMKG memprediksi cuaca ekstrem akan berlangsung hingga 20 Januari 2026. Kecepatan angin mencapai 27 km/jam dan tinggi gelombang bisa menyentuh angka 10 meter. Olehkarenanya petugas perketat pengawasan.

17 Jan 2026 - 20:59
KSOP Probolinggo Perketat Pengawasan Pelayaran Menyusul Peringatan Cuaca Ekstrem BMKG
Sejumlah kapal tampak bersandar di Dermaga Probolinggo. (Foto: Rizky Putra/SJP)

PROBOLINGGO, SJP - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Juanda secara resmi merilis peringatan dini mengenai potensi cuaca buruk yang akan melanda wilayah Jawa Timur, termasuk area perairan laut.

Fenomena alam ini diprediksi berlangsung selama sepuluh hari, mulai dari 11 hingga 20 Januari 2026.

Ancaman yang membayangi meliputi curah hujan tinggi yang berisiko memicu banjir bandang dan tanah longsor, hingga angin kencang yang memicu gelombang tinggi di pesisir utara dan selatan.

Data prakiraan menunjukkan peningkatan kecepatan angin yang signifikan mencapai kisaran 24–27 km/jam. Kondisi ini berimplikasi langsung pada ketinggian gelombang laut yang bervariasi secara ekstrem, mulai dari 0,5 meter hingga mencapai puncaknya di angka 10 meter.

Menanggapi situasi yang mengancam keselamatan transportasi laut tersebut, Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Probolinggo bergerak cepat dengan memberikan instruksi ketat kepada seluruh pelaku usaha pelayaran dan nelayan.

Imbauan Keselamatan dan Kesiagaan Petugas Humas KSOP Kelas IV Probolinggo, Hendra Yulis Priyanto, menekankan pentingnya standarisasi keselamatan bagi seluruh awak kapal. Fokus utama diberikan pada jalur penyeberangan lokal yang cukup padat, seperti rute menuju Pulau Gili Ketapang.

“Khusus kapal penyeberangan Gili Ketapang, para operator atau nakhoda diimbau untuk selalu memastikan kondisi kapal dalam keadaan laik laut, memastikan penumpang mengenakan life jacket, serta tidak berlayar saat cuaca buruk,” tegas Hendra dalam keterangannya, Sabtu (17/1/2026).

Langkah preventif ini diperkuat dengan penerbitan surat edaran resmi serta penyiagaan sarana darurat. KSOP telah menyiagakan satu unit kapal patroli dan mengoptimalkan fungsi Maritime Coordination Center (MCC) guna memantau pergerakan kapal secara real-time. Hendra mengingatkan bahwa kepatuhan terhadap aturan adalah harga mati untuk menghindari tragedi di laut.

“Keselamatan dan keamanan pelayaran merupakan tanggung jawab bersama. Oleh karena itu, mari bersama-sama menjaga zero accident dan mematuhi imbauan ini demi keselamatan bersama,” tambahnya.

Di sisi lain, kondisi alam yang tidak bersahabat mulai berdampak pada sektor ekonomi kelautan. Hambali, seorang nelayan kapal purse seine dari Mayangan, mengakui bahwa tantangan di tengah laut semakin berat dalam tiga hari terakhir. Meski risiko mengintai, tuntutan ekonomi memaksa para nelayan untuk tetap melaut, meskipun volume tangkapan menurun drastis.

“Namanya mencari nafkah, meski cuaca buruk kami tetap melaut. Namun saat mencari ikan tidak kami paksakan. Jika cuaca benar-benar ekstrem, kami memilih kembali dengan hasil tangkapan seadanya,” ujar Hambali, menggambarkan situasi dilematis yang dihadapi para pekerja laut saat cuaca ekstrem melanda. (*)

Editor: Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow