Korban Dugaan Keracunan MBG di Mojokerto Bertambah Menjadi 384 Orang

Data korban keracunan makanan saat ini telah tembus 384 orang, sebanyak 158 orang masih menjalani rawat inap di sejumlah fasilitas kesehatan di Kabupaten Mojokerto.

13 Jan 2026 - 08:00
Korban Dugaan Keracunan MBG di Mojokerto Bertambah Menjadi 384 Orang
Pasien keracunan saat dirawat di Puskesmas Gondang. (Syaiful/SJP)

MOJOKERTO, SJP — Jumlah korban yang diduga mengalami keracunan makanan pasca-mengonsumsi menu soto ayam dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Mojokerto dilaporkan terus bertambah. 

Hingga Selasa (13/1/2026) pagi, data terbaru menunjukkan total warga yang terdampak telah mencapai 384 orang.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Mojokerto, Teguh Gunarko mengonfirmasi, data saat ini telah tembus 384 orang, sebanyak 158 orang masih menjalani rawat inap di sejumlah fasilitas kesehatan di Kabupaten Mojokerto. 

"Data terbaru sampai dengan pukul 20.00 WIB (kemarin) jumlah (korban keracunan) 384 orang, rawat inap 158 orang," kata Teguh kepada suarajatimpost.com, Selasa (13/1/2026). 

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto, Dyan Anggrahini, menambahkan bahwa data pasien yang mengalami keracunan ini bersifat dinamis. Artinya, pihak dinkes terus melakukan pembaruan. 

"Data ini bersifat dinamis dan terus kami perbarui. Kondisi pasien bervariasi, ada yang mulai membaik dan diizinkan pulang, namun ada pula yang baru masuk untuk mendapatkan penanganan," ujar Dyan.

Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto bersama pihak terkait terus memantau situasi secara ketat. Seluruh puskesmas dan rumah sakit yang menangani korban diinstruksikan untuk melaporkan perkembangan kondisi pasien secara berkala setiap satu jam.

Untuk memastikan seluruh korban tertangani secara optimal, Pemerintah Kabupaten Mojokerto telah mengerahkan 16 Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes). 

Adapun sebaran pasien saat ini berada di RS Dharma Husada Ngoro, RSUD Prof. dr. Soekandar, RSUD Sumberglagah, RS Mawaddah Medika, RSI Arofah, RS Kartini, RS Sidowaras, RSUD dr. Wahidin Sudiro Husodo, RS Dian Husada, RSI Sakinah, Puskesmas Kutorejo, Puskesmas Bangsal, Puskesmas Dlanggu, Puskesmas Pacet, dan Puskesmas Gondang.

Sebelumnya, kasus ini turut menjadi perhatian Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur. Pemprov Jatim turut melakukan investigasi mendalam terkait insiden keracunan massal yang menimpa ratusan penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Mojokerto. 

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun hingga Ahad (11/1/2026), total korban terus bertambah dan tercatat mencapai 261 orang.

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, saat meninjau kondisi korban di Pondok Pesantren Ma'had An Nur dan RSUD Prof. dr. Soekandar, memaparkan rincian data penanganan medis para korban. 

Dari total 261 warga yang terdampak, mencakup siswa hingga orang tua siswa, sebanyak 140 orang telah dinyatakan pulih dan kembali ke rumah masing-masing. Sementara 121 pasien masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan yang ada di Kabupaten Mojokerto. 

"Saat ini, fokus utama adalah penanganan medis bagi 121 pasien yang masih menjalani perawatan intensif. Sebanyak 121 orang tersebut tersebar di beberapa titik, termasuk di pondok pesantren, rumah sakit, dan Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM)," ujar Emil, Ahad (11/1/2026).

Emil menjelaskan bahwa langkah medis prioritas yang diambil adalah prosedur rehidrasi melalui pemberian cairan infus untuk menjaga stabilitas kondisi fisik pasien. 

Selain itu, pemberian obat-obatan penunjang seperti zinc dilakukan guna mempercepat proses pemulihan fungsi pencernaan pasien yang mayoritas mengalami gejala mual akut.

Terkait penyebab keracunan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) tengah melakukan investigasi epidemiologi terhadap menu soto ayam yang dikonsumsi pada Jumat (9/1/2026). Penelusuran juga difokuskan pada rantai pasok dan prosedur pengolahan bahan pangan.

Pemprov Jatim menemukan fakta yang tak wajar, yakni korban tetap mengalami keracunan meski hanya mengonsumsi makanan bagian tertentu saja dalam menu soto ayam MBG. Seperti daging ayam bahkan hanya telur saja. 

"Kami menemukan pola bahwa korban tetap terdampak meskipun hanya mengonsumsi bagian tertentu, seperti daging ayam saja atau telur saja. Ini menjadi data krusial untuk menemukan akar permasalahan," tegas Emil.

Saat ini dinas kesehatan disebutnya juga sedang menguji beberapa hipotesis teknis, di antaranya evaluasi terhadap bahan baku yang dipersiapkan pada H-1 sebelum penyajian dan pemeriksaan pada proses pengemasan dan apakah terdapat kontaminasi pada cangkang telur yang disimpan dalam satu wadah dengan bahan lain.

Insiden ini menjadi momentum bagi Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk mengevaluasi secara menyeluruh sistem pengawasan mutu dalam program Makan Bergizi Gratis. 

Wagub Emil menekankan bahwa hasil investigasi ini akan dijadikan landasan dalam penyempurnaan standar operasional prosedur (SOP) penyediaan pangan bagi masyarakat ke depannya. (*) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow