Kopi Robusta Blitar Raih Peringkat Kedua Nasional di IGCC 2026
IGCC merupakan kompetisi kualitas biji kopi mentah (green bean) berskala nasional yang mengadopsi sistem penilaian standar Specialty Coffee Association (SCA).
BLITAR, SJP — Kopi Robusta asal Blitar kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Ahrian Festyananda, seorang prosesor kopi asal Kota Blitar, berhasil meraih peringkat kedua kategori Robusta dalam ajang Indonesia Green Coffee Competition (IGCC) 2026 yang merupakan bagian dari gelaran WE Kopi Kolaborasi Season 6.
Dalam kompetisi tersebut, Ahrian menyertakan kopi Robusta Selorejo, Kabupaten Blitar, yang diolah dengan metode honey anaerobic. Biji kopi tersebut memperoleh skor 82,80, sekaligus mengukuhkan posisinya dalam jajaran kopi Robusta terbaik nasional tahun ini.
IGCC merupakan kompetisi kualitas biji kopi mentah (green bean) berskala nasional yang mengadopsi sistem penilaian standar Specialty Coffee Association (SCA).
Proses seleksi berlangsung ketat, meliputi verifikasi administrasi, proses sangrai (roasting) terstandar, cita rasa melalui metode blind cupping.
"Ini bukan sekadar lomba, melainkan pembuktian bahwa kualitas Robusta Blitar diakui secara nasional," ujar Ahrian, Senin (9/2/2026).
Dari ratusan sampel yang berasal dari berbagai daerah penghasil kopi di Indonesia, hanya 73 peserta yang berhasil lolos ke tahap penilaian akhir.
Seluruh sampel diuji oleh panel juri nasional dan internasional dari sejumlah negara Asia. Kopi Robusta Blitar dinilai memiliki profil rasa yang bersih, seimbang, dan stabil, sehingga mampu bersaing dengan komoditas dari daerah sentra kopi lainnya.
Capaian ini dipandang tidak hanya sebagai prestasi personal, tetapi juga memberikan dampak positif bagi citra kopi Blitar.
"Keberhasilan ini membuka peluang peningkatan nilai jual kopi serta memperluas akses pasar bagi petani dan pelaku usaha kopi lokal," tambahnya.
Selain mengelola usaha pengolahan kopi, Ahrian yang menjabat sebagai Ketua Asosiasi Kopi Blitar Raya aktif melakukan pendampingan kepada petani. Pendampingan tersebut mencakup pengelolaan pascapanen, peningkatan mutu biji kopi, hingga penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM).
Ia menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari pendampingan berkelanjutan dan kolaborasi petani yang rutin mengikuti bimbingan teknis serta pelatihan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Blitar. Menurutnya, program pelatihan tersebut menjadi ruang krusial untuk memperkuat ekosistem kopi daerah.
"Harapannya, kopi Blitar semakin dikenal luas dan mampu bersaing di pasar nasional secara berkelanjutan," pungkasnya. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

