Kondisi Terkini Pemain Perseta 1970, Firman Nugraha Alami Retak Tulang Rusuk
Meski secara umum Firman masih bisa berjalan, aktivitas fisik berat belum memungkinkan dilakukan. Bahkan, ia masih merasakan nyeri saat bernapas.
TULUNGAGUNG, SJP - Insiden keras mewarnai laga sepak bola antara PS Putra Jaya Kabupaten Pasuruan melawan Perseta 1970 Tulungagung yang digelar di Bangkalan, Senin (5/1/2026) sore. Seorang pemain Perseta 1970 Tulungagung, Firman Nugraha, mengalami cedera serius berupa retak tulang rusuk akibat tendangan keras yang disebut menyerupai tendangan kungfu dari pemain PS Putra Jaya Pasuruan, Muhamad Hilmi Gimnastiar.
Manajer Perseta 1970 Tulungagung, Rudi Iswahyudi, menjelaskan kondisi terkini Firman masih dalam tahap observasi medis. Menurutnya, hasil pemeriksaan awal menunjukkan adanya retakan pada tulang rusuk korban yang membutuhkan penanganan lanjutan.
“Secara medis memang harus total. Ada retak kecil di tulang rusuk, jadi masih perlu observasi lanjutan. Rencananya akan kami konsultasikan lagi, kemungkinan dibawa ke rumah sakit di Tulungagung atau Kediri untuk penanganan lebih lanjut,” ujar Rudi Iswahyudi, Rabu (7/1/2026) melalui sambungan telepon.
Saat ini, Firman masih bersama tim di Bangkalan dan berada dalam pengawasan pihak medis. Rudi menegaskan manajemen Perseta bertanggung jawab penuh atas kondisi pemainnya dan tidak mungkin melepas begitu saja.
“Kami tetap mendampingi. Dari dokter juga sudah ada arahan terkait pengobatan lanjutan. Kami bertanggung jawab penuh atas perawatan Firman,” tegasnya.
Setelah sempat menjalani perawatan di RSUD Bangkalan, Firman dipindahkan ke hotel pada Rabu sore. Keputusan tersebut diambil atas pertimbangan kenyamanan Firman dan atas izin dokter.
“Firman merasa kurang nyaman di rumah sakit karena terlalu ramai. Dokter juga menyampaikan tidak masalah jika istirahat di hotel, asalkan tetap dalam pantauan,” jelas Rudi.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pihak RSUD Bangkalan atas pelayanan yang diberikan.
“Kami ucapkan terima kasih kepada RSUD Bangkalan yang sangat membantu kami,” imbuhnya.
Meski secara umum Firman masih bisa berjalan, aktivitas fisik berat belum memungkinkan dilakukan. Bahkan, ia masih merasakan nyeri saat bernapas.
“Untuk jalan sebenarnya bisa, tapi harus sangat hati-hati. Kegiatan berat jelas belum bisa. Saat bernapas pun masih terasa sakit,” ungkap Rudi.
Terkait komunikasi dengan manajemen PS Putra Jaya Pasuruan, Rudi menyebut sudah ada pihak ketiga yang menyampaikan permintaan maaf. Namun hingga kini belum ada inisiatif resmi terkait bantuan biaya pengobatan.
“Sudah ada yang menyampaikan permintaan maaf dan saya merespons secara positif. Tapi sejauh ini belum ada komunikasi resmi terkait biaya perawatan. Semua masih menjadi tanggung jawab kami,” katanya.
Rudi juga menanggapi isu kemungkinan membawa kasus ini ke ranah hukum. Ia menegaskan langkah tersebut bukan dilandasi dendam, melainkan sebagai pembelajaran bagi semua pihak.
“Saya tidak bermaksud dendam. Ini murni pembelajaran. Supaya pemain memahami bahwa tindakan di luar konteks permainan itu ada risikonya, termasuk risiko pidana,” jelasnya.
Menurut Rudi, statuta FIFA sendiri membuka ruang penyelesaian hukum di masing-masing negara apabila terjadi unsur kekerasan dalam sepak bola. Oleh karena itu, ia telah melakukan koordinasi dengan Asosiasi Kabupaten (Askab), penyidik, serta berencana membuka komunikasi dengan Asprov PSSI.
“Kalau terjadi kekerasan, FIFA menyerahkan ke hukum di negara masing-masing. Kita punya hukum sendiri. Saya sudah koordinasi, tujuannya agar ini jadi pembelajaran dan tidak menimbulkan efek negatif ke depan,” paparnya.
Rudi juga menyoroti kepemimpinan wasit dalam pertandingan tersebut yang dinilai membiarkan pelanggaran sejak awal sehingga memicu eskalasi emosi di lapangan.
“Sejak awal saya sudah melihat potensi kericuhan karena pelanggaran-pelanggaran dibiarkan. Ini yang kami sayangkan. Pembenahan perangkat wasit harus serius dilakukan,” tegasnya.
Terkait keputusan Komisi Disiplin (Komdis) yang menjatuhkan sanksi larangan bermain seumur hidup kepada pelaku, Rudi menyatakan sikap tegas mendukung keputusan tersebut.
“Saya sepakat sekali. Harus begitu. Lapangan sepak bola harus menjadi zona aman. Kalau usia pemainnya masih sangat muda mungkin bisa dipertimbangkan, tapi kalau sudah dewasa, tindakan seperti itu tidak bisa ditoleransi,” pungkasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

