JKJT Gelar Aksi Bagi-Bagi Singkong dan Rempah, Warga Dibuat Curiga

Kegiatan tersebut menyusul batalnya pelaksanaan diskusi publik mengenai dampak paparan unsur aluminium dari udara

11 Jun 2025 - 14:38
JKJT Gelar Aksi Bagi-Bagi Singkong dan Rempah, Warga Dibuat Curiga
Suasana aksi bagi-bagi singkong dan rempah-rempah yang dilakukan oleh JKJT di Kota Malang. (Foto: Yg/SJP)

KOTA MALANG, SJP—Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT) menunjukkan aksi nyata dengan membagikan satu ton singkong dan satu kuintal rempah kepada para pengguna jalan di Kota Malang pada Rabu (11/6/2025).

Aksi bagi-bagi singkong dan rempah berupa kunyit ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat. Khususnya dalam upaya meningkatkan daya tahan tubuh masyarakat secara alami dan jauh dari zat kimia.

Ketua Umum JKJT, Ag Tedja G.K. Bawana menjelaskan, kegiatan ini merupakan respons cepat atas tertundanya diskusi publik mengenai dampak paparan unsur aluminium dari udara. Meski acara diskusi harus dijadwalkan ulang karena kendala teknis, semangat untuk berkontribusi pada kesehatan masyarakat tidak luntur.

“Semangat kita untuk peduli tidak boleh berhenti. Kami dari JKJT bersama Fasliya Karya dan program MDI berupaya meningkatkan imun masyarakat. Terutama dari dampak paparan aluminium,” ujar Ag Tedja.

Dia mengungkapkan, aluminium yang tersebar di udara bisa berdampak buruk bagi tubuh manusia. Terutama dalam jangka panjang. Karena itu, masyarakat didorong mengonsumsi makanan yang bisa memperkuat unsur tembaga dalam tubuh, yang dinilai penting untuk menangkal dampak negatif dari logam berat tersebut.

JKJT memilih singkong dan kunyit sebagai “senjata” utama dalam kampanye peningkatan imun ini. Singkong rebus berukuran panjang 10 sentimeter tanpa tambahan gula atau garam disarankan dikonsumsi setiap pagi.

Sementara kunyit, baik dalam bentuk minuman rebusan, disarankan diminum setiap hari—seperempat hingga setengah gelas untuk anak-anak, dan dua cangkir kecil untuk orang dewasa.

“Untuk bapak-bapak, kopi tanpa gula juga sangat baik untuk meningkatkan unsur tembaga. Sebaliknya, kami imbau masyarakat untuk menghindari minuman kemasan yang justru bisa meningkatkan kadar aluminium dalam tubuh,” jelas Ag Tedja.

Selain pembagian pangan, JKJT juga berencana menyapa warga secara langsung melalui kunjungan ke tingkat RT dan RW untuk menyosialisasikan pentingnya konsumsi pangan sehat dan air rebusan rumah tangga sebagai upaya sederhana menjaga imun.

Menanggapi kekhawatiran akan fase baru Covid-19 yang mulai menunjukkan gejala-gejala kemunculan kembali, Ag Tedja menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik, namun harus tetap waspada.

“Kita hadapi dengan tenang. Dengan penguatan imun dan konsumsi bahan-bahan alami yang mudah didapat di sekitar kita, kesehatan bisa tetap terjaga,” tegasnya.

Langkah ini mendapat apresiasi dari berbagai komunitas relawan yang tergabung dalam gerakan kemanusiaan di Malang. Mereka bahu-membahu mendorong perubahan pola hidup masyarakat. Dari konsumtif terhadap produk instan, menjadi kembali pada kekuatan pangan lokal yang menyehatkan.

Dengan semangat kolaboratif dan pendekatan berbasis komunitas, JKJT berharap bisa terus mendorong perubahan positif di masyarakat. Meski diskusi publik harus ditunda, aksi nyata terus berjalan demi Indonesia yang lebih sehat dan mandiri.

Diketahui, sebelumnya telah tersebar informasi bahwa akan dilaksanakan diskusi publik dengan tema "Kuatkan Stamina Imunitas Antisipasi Cuaca Ekstrem." Namun acara tersebut tiba-tiba batal.

Padahal  rencananya diskusi tersebut akan menghadirkan narasumber tokoh nasional. Di antaranya Komjen Pol (Purn) Dharma Pongrekun dan Mantan Menteri Kesehatan RI, dr. Siti Fadilah Supari.

Wawan, salah satu warga Kota Malang yang melintas di depan aksi bagi-bagi singkong dan rempah-rempah tersebut, mengaku curiga. Dia menduga kegiatan tersebut erat hubungannya dengan isu merebaknya pandemi Covid-19 serta adanya keanehan cuaca di Kota Malang.

"Saya mengapresiasi aksi tersebut, dan berharap ini akan menyadarkan masyarakat untuk lebih waspada dengan apa pun yang akan terjadi di sekitarnya, termasuk pandemi dan upaya untuk menjaga ketahanan pangan rakyat, dimulai dari komunitas terkecil," ucap Wawan.

Lebih lanjut, Wawan merasa sangat heran dengan kondisi cuaca di Kota Malang belakangan ini. Menurutnya, cuaca Kota Malang kini di luar kewajaran perilaku alam.

Namun saat diwawancarai Suarajatimpost.com, Wawan enggan untuk memberikan keterangan detail tentang kecurigaannya tersebut. (**)

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow