Kolaborasi PMI dan PWI Bondowoso, Setetes Darah untuk Sesama Warnai Peringatan HPN 2026
PMI Bondowoso berkolaborasi dengan PWI dalam peringatan HPN 2026 dan HUT ke-80 PWI dengan menggelar donor darah dan penanaman pohon di lereng Gunung Raung. Kegiatan tersebut berhasil mengumpulkan 20 kantong darah sebagai bentuk komitmen kemanusiaan dan kesiapsiagaan bencana.
BONDOWOSO, SJP – Bagi relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Bondowoso, membantu sesama bukan sekadar slogan. Dari kegiatan donor darah hingga turun langsung ke lokasi bencana, semangat kemanusiaan selalu menjadi panggilan utama.
Tak hanya aktif menjemput bola untuk menambah stok darah bagi masyarakat yang membutuhkan, PMI Bondowoso juga membuka ruang kolaborasi dengan berbagai instansi pemerintah, swasta, maupun organisasi kemasyarakatan untuk menggelar kegiatan donor darah.
Kali ini, PMI Bondowoso berkolaborasi dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Bondowoso dengan menggelar donor darah serta penanaman bibit pohon di lereng Gunung Raung. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 dan HUT ke-80 PWI, Rabu (11/2/2026).
Dalam kegiatan donor darah yang dilaksanakan oleh Unit Donor Darah (UDD) PMI Bondowoso di Rest Area Kampung Kopi Kluncing, Desa Sukorejo, Kecamatan Sumberwringin, berhasil dikumpulkan sedikitnya 20 kantong darah.
Ketua PMI Bondowoso, Juni Sukarno, mengatakan, kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan terus berjalan, meski tidak selalu dalam forum formal. Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga ketersediaan stok darah bagi masyarakat.
“Kita saling berkoordinasi dengan pihak kesehatan, BPBD, dan unsur lainnya. Misalnya dengan PWI Bondowoso yang rutin kita lakukan setiap peringatan HPN,” ungkapnya.
Kolaborasi Lintas Lembaga, Kemanusiaan Jadi Prioritas
Menurut Juni Sukarno, sinergi antar-lembaga selama ini terbangun dengan kuat. PMI bersama BPBD, Dinas Kesehatan, TNI-Polri, organisasi keagamaan, hingga relawan sosial selalu berada dalam satu barisan saat terjadi bencana.
“Kalau bencana, komandannya BPBD. Kita selalu bersama dalam mitigasi dan penanganan. PMI pasti terlibat di bidang sosial dan kemanusiaan,” jelasnya.
Ia menambahkan, sesuai arahan Ketua Umum PMI, maksimal enam jam setelah terjadi bencana, tim PMI harus sudah berada di lokasi.
“Kita datang pertama untuk asesmen, melihat apa yang dibutuhkan dan seperti apa level bencananya. Jika di luar kemampuan, kita akan berkoordinasi dengan PMI provinsi atau pusat,” tambah pria yang akrab disapa Juni tersebut.
Langkah cepat itu menjadi bentuk komitmen bahwa kehadiran PMI bukan sekadar simbol, melainkan aksi nyata di lapangan.
Donor Darah, Tabungan Kemanusiaan
Selain respons kebencanaan, PMI juga aktif menggelar kegiatan donor darah. Bagi mereka, setiap tetes darah adalah harapan hidup bagi orang lain.
“Kegiatan olahraga sekaligus donor darah sangat baik. Selain menambah stok darah PMI, juga mengedukasi masyarakat tentang pentingnya saling membantu,” ujarnya.
Ia menegaskan, kebutuhan darah tidak pernah benar-benar kosong, namun stok kerap menipis. Karena itu, PMI rutin membagikan informasi kebutuhan darah melalui media sosial.
“Itu bukan berarti stok habis, tetapi untuk menjaga ketersediaan tetap aman. Sekaligus mengingatkan masyarakat yang mungkin sudah waktunya donor kembali,” katanya.
Secara medis, donor darah dapat dilakukan setiap dua bulan sekali bagi usia produktif. Sementara bagi pendonor berusia 60 tahun ke atas, disarankan satu kali dalam setahun.
“Selain membantu orang lain, donor darah juga berdampak baik bagi kesehatan pendonor,” tambahnya.
Media Sosial Jadi Jembatan Kebaikan
Untuk menjangkau lebih banyak masyarakat, PMI memanfaatkan berbagai platform digital seperti Instagram, TikTok, hingga WhatsApp Group.
“Semua media sosial kita gunakan agar informasi cepat tersampaikan dan masyarakat mudah tergerak,” ujar Juni Sukarno di Rest Area Kampung Kopi Kluncing.
Bagi PMI, membangun kesadaran kemanusiaan tidak cukup hanya dengan ajakan lisan. Diperlukan pendekatan yang mengikuti perkembangan zaman agar pesan tentang pentingnya donor darah dan kesiapsiagaan bencana dapat diterima semua kalangan.
"Di balik 20 kantong darah yang terkumpul hari itu, tersimpan semangat gotong royong yang terus dijaga. Sebab bagi PMI, setetes darah bukan sekadar cairan merah, melainkan kehidupan yang mengalir dari satu kepedulian ke kepedulian lainnya," tandasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

