Luput dari Bantuan, Kakek Sukirno di Nganjuk Hidup di Rumah Reyot Bersama Istri
Sukirno (63) dan istrinya, warga Desa Dlururejo, Nganjuk, hidup di rumah reyot tanpa pernah mendapat bantuan BLT Dana Desa maupun PKH. Pasangan buruh tani ini berharap perhatian pemerintah, karena kondisi rumah dan ekonomi mereka sangat memprihatinkan.
NGANJUK, SJP – Di tengah gencarnya penyaluran berbagai program bantuan sosial pemerintah, masih ada warga yang terlewat dari perhatian. Adalah Sukirno (63), warga Dusun Dlururejo, Kecamatan Jatikalen, Kabupaten Nganjuk, yang hingga kini hidup dalam kondisi memprihatinkan bersama istrinya, Jaenah.
Rumah yang mereka tempati berdiri di atas tanah kecil di pinggir desa. Dindingnya dari anyaman bambu yang sudah lapuk, atapnya bocor di banyak bagian, dan lantainya masih berupa tanah. Di rumah sederhana berukuran sekitar 6x7 meter itu, pasangan suami istri buruh tani ini menjalani hari-hari dengan penuh kesabaran.
Meski hidup serba kekurangan, Sukirno belum pernah menerima Program Keluarga Harapan (PKH). Bahkan, bantuan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa (DD) yang terakhir ia terima adalah pada tahun 2024. Tahun ini, 2025, tak ada lagi bantuan yang datang.
“Terakhir saya dapat bantuan tahun 2024, itu pun BLT Dana Desa. Tahun ini tidak ada. Istri saya sampai menghubungi Bu Kades menanyakan, tapi belum ada kabar,” tutur Sukirno dengan nada pelan, Rabu (15/10/2025).
Sukirno mengaku heran. Selama ini tidak pernah ada petugas yang mendata ulang keluarganya. Ia bahkan merasa ada yang janggal dalam penyaluran bantuan di desanya.
“Ada salah satu oknum perangkat desa, di depan baik, tapi kalau soal bantuan, selalu disuruh tanya ke Bu Kades. Saya menduga ada yang tidak transparan,” ujarnya lirih.
Padahal, kata Sukirno, sudah ada petugas dari dinas maupun pihak desa yang sempat mendatangi rumahnya, namun hasilnya tetap nihil.
“Katanya sudah dicatat, tapi sampai sekarang tidak ada kabar. Rumah saya begini saja belum pernah dapat bantuan bedah rumah,” keluhnya.
Ketika dikonfirmasi, Kepala Desa Dlururejo, Ismiati, membantah tudingan tersebut. Ia menegaskan bahwa semua proses penyaluran bantuan sudah dilakukan sesuai data dan prosedur.
“Kami sudah menyalurkan sesuai data yang ada, bisa dicek kembali,” singkatnya, Kamis (16/10/2025).
Saat mendengarkan rekaman wawancara dengan Sukirno, Ismiati tampak tegang dan sesekali menarik napas dalam. Di pertengahan rekaman, ketika Sukirno menyebut bantuan tidak tepat sasaran, ekspresi Kades tampak berubah.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Nganjuk, Haris Djatmiko, menjelaskan bahwa data penerima bantuan sosial saat ini menggunakan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasiona (DTSEN), yang langsung terhubung ke pusat.
“Semua data penerima sudah diinput dari pusat melalui sistem itu. Kami hanya membantu proses input, dan selebihnya dikembalikan ke pihak desa,” jelas Haris saat dihubungi melalui WhatsApp dari Jakarta.
Ia menegaskan, tanggung jawab akhir tetap berada di tingkat desa.
“Kalau desa tidak bisa menindaklanjuti atau memperbarui data warga miskin, ya perlu dipertanyakan. Kami siap membantu jika diperlukan,” tegasnya.
Kisah Sukirno dan istrinya hanyalah satu dari banyak potret kemiskinan di Kecamatan Jatikalen. Di balik tembok bambu yang lapuk dan atap bocor, mereka masih berharap suatu hari nanti, bantuan benar-benar datang untuk mereka yang paling membutuhkan. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

