Kinerja Penanganan Stunting Diakui Pusat, Kota Mojokerto Raih Dana Insentif Fiskal Rp6 Miliar
Kementerian Keuangan Republik Indonesia (Kemenkeu) menetapkan Kota Mojokerto sebagai salah satu penerima dana insentif fiskal senilai Rp6 miliar, sebagai penghargaan atas kinerja unggul daerah tersebut dalam penanganan stunting.
KOTA MOJOKERTO, SJP – Komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto dalam menanggulangi masalah stunting menuai apresiasi dari pemerintah pusat.
Kementerian Keuangan Republik Indonesia (Kemenkeu) menetapkan Kota Mojokerto sebagai salah satu penerima dana insentif fiskal senilai Rp6 miliar, sebagai penghargaan atas kinerja unggul daerah tersebut dalam penanganan stunting.
Alokasi dana tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 330 Tahun 2025, yang resmi ditetapkan pada 10 November 2025.
Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari, menyambut capaian ini dengan rasa syukur. Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan buah dari sinergi dan kolaborasi kuat yang melibatkan perangkat daerah, kader kesehatan, PKK, hingga seluruh mitra pemerintah.
"Alhamdulillah, capaian ini merupakan buah kerja keras dan sinergi seluruh pihak dalam menurunkan angka stunting di Kota Mojokerto. Kami tidak hanya fokus pada penanganan, tetapi juga pencegahan dari hulu ke hilir," ujarnya.
Berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM), Kota Mojokerto menunjukkan tren penurunan prevalensi stunting yang sangat signifikan dan berkelanjutan, tahun 2019 sebesar 9,04%, tahun 2024 sebesar 1,54%, hingga September 2025 urun drastis hingga mencapai 1,16%.
Penurunan hingga mencapai 1,16% ini disebut sebagai capaian prevalensi stunting terendah sepanjang sejarah Kota Mojokerto, menempatkan daerah ini sebagai contoh daerah kecil dengan komitmen besar dalam mewujudkan generasi sehat.
"Penurunan yang sangat signifikan ini menjadi bukti nyata bahwa berbagai program intervensi yang kita lakukan berjalan efektif dan tepat sasaran," imbuh Wali Kota yang karib disapa Ning Ita tersebut.
Wali Kota Mojokerto menjelaskan bahwa strategi komprehensif yang diterapkan mencakup pendekatan dari hulu ke hilir, kolaborasi lintas sektor, serta pendekatan keluarga dan masyarakat.
Beberapa program kunci yang dijalankan antara lain: Edukasi Berkelanjutan berupa sosialisasi dan edukasi intensif kepada calon pengantin, ibu hamil, dan keluarga dengan balita.
Selanjutnya, Intervensi Gizi, yakni penguatan intervensi gizi spesifik dan sensitif, didukung pemanfaatan aplikasi digital untuk pemantauan tumbuh kembang anak.
Ketiga, Keterlibatan Komunitas, yakni penggerakan aktif PKK dan kader posyandu, serta pendampingan keluarga berisiko stunting melalui Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH).
Terakhir, Inovasi Daerah, yakni .enciptaan inovasi seperti Canting Gula Mojo (Cegah Stunting, Gerak Unggul Pemberdayaan Masyarakat Kota Mojokerto) dan DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting).
Pemkot Mojokerto juga rutin memberikan Bantuan Pangan dengan menargetkan Keluarga Risiko Stunting (Wasting).
Ning Ita menegaskan bahwa dana insentif fiskal sebesar Rp6 miliar tersebut akan dimanfaatkan secara optimal untuk memperkuat program penanganan stunting yang sudah berjalan, demi mewujudkan target Kota Mojokerto bebas dari stunting.
"Capaian ini sejalan dengan Cita Pertama dalam Panca Cita Kota Mojokerto, yaitu Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)," tandasnya. (**)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

