Khidmat di Pusara Leluhur, Ratusan Warga Trenggalek Padati TPU Sambut Ramadan Lewat Tradisi Nyekar Bareng

Bagi masyarakat Desa Karanganom, Nyekar Bareng bukan sekadar ritual tahunan. Ia menjadi ruang silaturahmi, sarana pendidikan spiritual bagi anak cucu, sekaligus pengingat bahwa kehidupan di dunia hanya sementara.

15 Feb 2026 - 22:04
Khidmat di Pusara Leluhur, Ratusan Warga Trenggalek Padati TPU Sambut Ramadan Lewat Tradisi Nyekar Bareng
Suasana TPU Desa Karanganom, Kecamatan Durenan Trenggalek, ramai para peziarah dalam rangka Nyekar Bareng sambut bulan Ramadan. (Beny/SJP)

TRENGGALEK. SJP - Di bawah langit cerah Trenggalek, langkah-langkah warga Desa Karanganom terdengar berderap menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU). Aroma bunga tabur dan tanah basah menyatu dengan lantunan ayat suci yang menggema pelan. Menjelang datangnya Bulan Suci Ramadan, ratusan warga larut dalam tradisi “Nyekar Bareng” ziarah kubur bersama yang kini menjadi penanda spiritual sebelum memasuki bulan penuh ampunan.

Sejak Minggu (15/2/2026) pagi, kawasan makam desa di Kecamatan Durenan itu mulai dipadati warga. Orang tua menggandeng anak-anak mereka, para remaja berjalan beriringan, sementara kaum bapak dan ibu membawa kantong berisi bunga serta air doa. Semua membaur tanpa sekat, duduk bersila di antara pusara keluarga, mengikuti pembacaan Surah Yasin dan tahlil dengan khusyuk.

Muhammad Mahfur dari Bidang Pembinaan Kemasyarakatan Pemerintah Desa Karanganom menuturkan, tradisi nyekar sebenarnya telah lama hidup di tengah masyarakat. Namun, dalam tiga tahun terakhir, kegiatan itu dikemas secara kolektif agar lebih terarah dan memperkuat kebersamaan warga.

“Alhamdulillah, kegiatan Nyekar Bareng ini sudah berjalan tiga tahun. Bisa berlangsung khidmat dan lancar berkat dukungan pemerintah desa serta para tokoh agama,” ujarnya.

Menurut Mahfur, antusiasme warga tahun ini meningkat signifikan. Selain sosialisasi yang dilakukan melalui banner dan pamflet, cuaca cerah turut mendukung jalannya acara. Sekitar 500 warga tercatat hadir, tidak hanya dari Karanganom, tetapi juga dari luar desa yang memiliki leluhur dimakamkan di TPU setempat.

“Ini bagian dari ikhtiar menyongsong Ramadan. Kami ingin kebersamaan ini terus terjaga dan semakin banyak generasi muda yang mengenal serta mendoakan ahli kuburnya,” imbuhnya.

Sementara itu bagi Puput Supriyanto (54), warga setempat, Nyekar Bareng menghadirkan suasana berbeda dibanding ziarah secara pribadi. Menurutnya, kegiatan yang dikemas bersama membuat masyarakat lebih khusyuk dan tertib dalam berdoa.

“Alhamdulillah, acaranya berjalan bagus, rapi, dan aman. Warga sangat antusias, bahkan ada yang datang dari luar desa karena punya keluarga yang dimakamkan di sini,” tuturnya.

Ia melihat kekompakan antara ulama dan umara’ menjadi kekuatan utama terselenggaranya kegiatan ini. Keterlibatan organisasi kepemudaan seperti Gerakan Pemuda Ansor dan Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Desa Karanganom memperlihatkan kolaborasi lintas generasi yang harmonis.

“IPNU, NU, tokoh masyarakat, perangkat desa semua jadi satu. Rasanya hampir tidak ada kekurangan,” tambah Puput.

Prosesi ditutup dengan doa yang dipimpin empat sesepuh dari empat penjuru wilayah yakni Dempok Etan, Nglengkong, Mboto, dan Dempok Lor. Suara mereka bersahut-sahutan memanjatkan harap agar arwah para leluhur mendapat tempat terbaik di sisiNya, serta warga Karanganom diberi kesehatan dan kekuatan menjalani Ramadan.

Bagi masyarakat Desa Karanganom, Nyekar Bareng bukan sekadar ritual tahunan. Ia menjadi ruang silaturahmi, sarana pendidikan spiritual bagi anak cucu, sekaligus pengingat bahwa kehidupan di dunia hanya sementara.

Di antara nisan-nisan yang berdiri sunyi, warga menemukan makna kebersamaan. Dan dari tanah yang dipijak itu, mereka menata hati, bersiap menyambut Ramadan dengan jiwa yang lebih bersih dan saling menguatkan.(*)

Editor: Danu

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow