Di Balik Senyum Kecil Alesha, BPJS Kesehatan Hadir sebagai Penjaga Asa
Alesha, balita asal Desa Karangrejo, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik ini didiagnosis mengalami Ventricular Septal Defect (VSD) atau lubang di sekat bilik jantung bagian bawah. Orang tuanya melakukan segala upaya demi kesembuhan sang buah hati.
GRESIK, SJP - Tubuh kecil Alesha tampak lemah. Nafasnya pendek-pendek, seolah setiap tarikan udara menjadi beban. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya.
Ekspresi wajah anak semata wayangnya pada November 2024 itu tergambar jelas dalam benak Farid. Awalnya, sang ayah mengira Alesha yang kala itu berusia 16 bulan hanya demam biasa. Tapi, karena tak kunjung membaik, Farid membawanya ke puskesmas di Kecamatan Sidayu, sekitar enam kilometer dari rumah mereka di Desa Karangrejo, Kecamatan Ujungpangkah, Gresik.
Namun, pemeriksaan itu membuat hidup mereka berubah. Dokter mendengar suara yang tidak biasa dari jantung Alesha, seperti bunyi bising yang seharusnya tidak ada.
“Saya ingat, dokter bilang detak jantungnya ada suara ‘mur’. Saya lemas. Saya cuma orang kampung, nggak ngerti istilah medis, tapi saya tahu ini bukan sakit biasa,” ujar Farid.
Dokter merujuk Alesha ke RSUD Ibnu Sina Gresik. Farid akhirnya membawa anak perempuannya itu ke dokter spesialis anak sub-kardiologi di rumah sakit yang terletak di Kebomas ini.
Bak petir di siang bolong, Farid terkejut begitu mengetahui Alesha didiagnosis mengalami Ventricular Septal Defect (VSD) atau lubang di sekat bilik jantung bagian bawah. Ukurannya lebih dari 5 milimeter. Masuk kategori sedang namun pada batas atas. Bila dibiarkan, bisa berakibat fatal.
Hati Farid hancur. “Saya sampai berpikir, ya Allah apa salahku, kenapa menimpakan sakit seperti ini pada anakku?” tutur Farid dengan mata berkaca-kaca.
Pikirannya berkecamuk. Seberapa parah sakit Alesha? Lalu, biaya pengobatannya dari mana?
Farid bukan tergolong keluarga berada. Dia pekerja swasta yang penghasilannya hanya cukup untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Ikhtiar Panjang Mewujudkan Kesembuhan Alesha
Sejak vonis dokter itu, Farid tak punya pilihan selain menempuh ikhtiar panjang. Perjalanan dari kediamannya menuju RSUD Ibnu Sina sejauh lebih dari 35 kilometer ditempuhnya tiap berobat sebulan sekali. Namun, dengan semangat dan cinta seorang ayah, Farid tempuh semuanya. Tak peduli hujan atau terik, dia membawa Alesha bersama istrinya dengan mengendarai motor.
“Kadang perjalanan harus berangkat agak pagi yaitu jam 07.00 WIB agar bisa kontrol lebih awal. Tapi Alesha anak yang kuat. Meski sering lemas, dia tetap tersenyum,” ucap Farid sambil mengusap kepala Alesha yang duduk di pangkuannya.
Mulanya, dokter memberikan Alesha obat. Dengan bantuan obat, lubang di jantung Alesha diharapkan menutup sendiri seiring pertambahan usia. Ternyata, harapan itu pupus ketika usia Alesha genap dua tahun lubangnya masih tetap ada.
Walhasil, dokter menyarankan prosedur lanjutan katerisasi jantung. Bentuk tindakan medis non-bedah untuk memperbaiki kelainan jantung tanpa harus operasi terbuka. Farid sempat ragu. Selain masalah biaya, dia gamang membayangkan tubuh mungil Alesha di ruang tindakan.
“Saya takut sekali. Tapi saya juga sadar, ini kesempatan satu-satunya supaya dia bisa sembuh,” ujar Farid dengan suara parau.
Akhirnya, dia sepakat Alesha menjalani katerisasi jantung. Hanya saja, karena keterbatasan fasilitas di Gresik, dia dirujuk ke RS Siti Khodijah di Kabupaten Sidoarjo sekitar 64 kilometer dari desa mereka.
Bagi Farid, jarak itu tak hanya mengukur kilometer, tapi juga kecemasan, kesabaran, dan keberanian seorang ayah yang ingin melihat anaknya sembuh. Di RS Siti Khodijah, Alesha langsung ditangani oleh tim medis yang dipimpin dr. Taufik, Sp.A (K), spesialis anak konsultan kardiologi.
Setelah dilakukan evaluasi, katerisasi dijadwalkan tiga hari kemudian. Hari katerisasi pun tiba. Alesha dibawa masuk ke ruang tindakan, sedangkan Farid menunggu di luar dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
“Saya baca-baca, prosedur ini minim risiko. Tapi tetap saja, yang namanya tindakan di jantung, apalagi anak sekecil itu, bikin saya dag dig dug. Saya cuma bisa terus berdoa,” ungkapnya.
Tiga jam kemudian, pintu ruang tindakan terbuka. Dokter keluar dan memberi kabar baik: tindakan katerisasi berjalan lancar. Lubang pada jantung Alesha berhasil ditutup menggunakan alat khusus. Tak ada komplikasi. Semua sesuai harapan.
Tangis haru pecah di wajah Farid. Setelah berbulan-bulan menahan kecemasan, akhirnya ada harapan baru untuk Alesha.
Sementara, beban biaya yang selama ini menghantui Farid ternyata berujung solusi. Ada BPJS Kesehatan yang membersamai Alesha.
BPJS Kesehatan Penopang Perjuangan
Seluruh rangkaian pengobatan Alesha, dari awal pemeriksaan hingga tindakan katerisasi, ditanggung penuh oleh BPJS Kesehatan. Farid mengaku, tanpa program ini, ia tak akan mampu membiayai semuanya.
“Kalau tidak ada BPJS, saya tidak tahu bagaimana caranya. Katerisasi saja bisa 30 juta rupiah, belum kontrol dan obat setiap bulan. Saya bersyukur sekali negara hadir membantu kami lewat BPJS,” ucapnya tulus.
Kini, Alesha yang berusia 2,3 tahun ini masih menjalani kontrol rutin. Tapi kondisinya jauh lebih baik. Ia bisa bermain, belajar menyebut kata-kata baru, dan menunjukkan senyum cerianya setiap pagi.
Bagi Farid, perjuangan bukan hanya tentang menyembuhkan anaknya, tetapi juga tentang harapan. Tentang cinta seorang ayah yang tak kenal lelah. Dan tentang betapa pentingnya sistem jaminan kesehatan yang berpihak pada rakyat kecil.
Puluhan Anak Menderita VSD di Gresik Terbantu BPJS
Rupanya tidak hanya Alesha, ada puluhan anak serupa mengidap kasus VSD di Kabupaten Gresik tertopang pembiayaan BPJS. Dokter Jantung Anak RSUD Ibnu Sina Gresik, dr.Tri Rahmadianto,SpA(K), menyebut selama satu bulan bisa menangani hingga 40 pasien kasus VSD.
"Rata-rata 30 sampai 40 pasien per bulan yang melakukan skrining dan pasien kontrol," kata Tri.
Tri mengungkap, penyakit jantung bawaan kritis pada anak adalah kondisi serius yang membutuhkan penanganan segera. Tindakan yang diambil akan sangat tergantung pada jenis dan tingkat keparahan kelainan jantung yang diderita anak.
Penyebab jantung bawaan itupun multifaktor, dokter menyebut genetik, riwayat keluarga dengan PJB (Penyakit Jantung Bawaan), infeksi saat hamil, dan lain sebagainya bisa menjadi salah satu faktor.
Sejak dibuka pelayanan jantung di poli anak dua sekitar tiga tahun lalu, kebutuhan layanan ini pun disambut gembira. Pasalnya pemeriksaan atau diagnosis dini jantung anak tidak perlu jauh-jauh ke Surabaya. Pihak RSUD juga tidak ada pembatasan layanan terhadap pasien JKN. Layanan akan diberikan kepada pasien sesuai kebutuhan.
Komitmen BPJS Kesehatan atas Layanan Penyakit Kronis
BPJS Kesehatan berkomitmen memberikan pelayanan ke masyarakat terutama dengan penyakit kronis seperti jantung bawaan pada anak Alesha. Penyelenggaraan JKN melalui BPJS Kesehatan merupakan bukti negara hadir dalam komitmen memberikan pelayanan kesehatan bagi rakyatnya.
"Pelayanan kesehatan dapat diberikan selama melalui indikasi medis dan dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku," kata Janoe Tegoeh Prasetijo, Kepala BPJS Kesehatan Cabang Gresik.
Menurut Janoe, kasus jantung bawaan pada anak ini masuk kategori dalam penyakit dalam pembiayaan berat. Dalam sebuah kasus layanan umum, pasien jantung bawaan pada anak ini membutuhkan biaya tidak sedikit.
Pasien perlu diagnosis dini ke dokter spesialis, pengobatan, kontrol, hingga katerisasi dalam pembayaran bisa mencapai puluhan juta rupiah. Pihaknya juga menegaskan tidak ada pembatasan layanan selama sesuai indikasi medis.
Buah komitmen yang dirasakan oleh wong cilik. Alesha hanyalah satu dari banyak anak Indonesia yang hidup dalam keterbatasan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang layak. Namun, BPJS Kesehatan menjadi jembatan yang mewujudkan jaminan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat, tanpa memandang latar belakang ekonomi. (*)
Editor : Danu S
What's Your Reaction?

