Diyakini Masih Hidup, Pencarian Pemancing yang Hilang di Sungai Brantas Tulungagung Dihentikan
Selama tiga hari beroperasi, Tim Search and Rescue (SAR) gabungan yang terdiri dari Basarnas Trenggalek, BPBD Tulungagung, TNI, Polri, dan relawan telah menyisir aliran Sungai Brantas hingga ke wilayah Kediri.
TULUNGAGUNG, SJP — Operasi pencarian terhadap Nurkolis Sugiono (45), warga Desa Srikaton, Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung, resmi dihentikan.
Pemancing yang sebelumnya dilaporkan hilang di Sungai Brantas ini diduga masih hidup. Penghentian penyisiran di sungai tersebut dilakukan atas permintaan resmi dari pihak keluarga korban.
Selama tiga hari beroperasi, Tim Search and Rescue (SAR) gabungan yang terdiri dari Basarnas Trenggalek, BPBD Tulungagung, TNI, Polri, dan relawan telah menyisir aliran Sungai Brantas hingga ke wilayah Kediri. Radius pencarian bahkan diperluas sampai ke Bendungan Waru Turi sebagai titik pemantauan terakhir. Namun, petugas tidak menemukan tanda-tanda keberadaan korban di sepanjang sungai.
Komandan Operasi SAR Basarnas Trenggalek, Ahmad Taufik, menjelaskan bahwa penghentian ini murni berdasarkan surat pernyataan resmi dari keluarga. Sesuai prosedur, Tim SAR memenuhi permohonan tersebut dan menyerahkan penanganan kasus ini kepada pihak kepolisian.
"Intinya kenapa kok keluarga itu minta dihentikan, ya karena meyakini kalau Pak Nurkolis itu masih hidup. Kalau secara detail kenapa meyakini masih hidup, itu sudah masuk ranah kepolisian sama ranah pihak keluarga. Kita cuma diminta menghentikan pencarian, yang penting ada hitam di atas putih dari keluarga untuk permintaan penghentian pencarian di sungai," ujar Ahmad Taufik, Sabtu (11/7/2026).
Taufik menambahkan, penyisiran terakhir dilakukan hingga Jumat sore sampai ke wilayah Semampir, Kediri. Sejak hari kedua, personel juga telah bersiaga di Dam Gerak Waru Turi untuk mengantisipasi jika korban hanyut ke arah hilir.
Dengan ditutupnya operasi ini, sebanyak 25 personel SAR gabungan telah ditarik kembali ke instansi masing-masing. Penyelidikan selanjutnya diserahkan penuh kepada Polsek Ngantru karena diduga ada persoalan pribadi yang perlu didalami.
Di sisi lain, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Tulungagung, Teguh Abianto, mengungkapkan bahwa keputusan ini diambil setelah menggelar rapat bersama antara Basarnas, BPBD, kepolisian, pemerintah desa, dan keluarga korban.
Salah satu petunjuk kuat yang mendasari keyakinan bahwa korban masih hidup adalah aktivitas kamera CCTV di rumah korban.
"Kemarin rapat bersama. Dilihat dari tanda-tanda ternyata sampai ke Kediri tidak ada tanda-tanda korban yang ditemukan. Terus kemudian dengan adanya indikasi CCTV yang ada di rumah itu bergerak. Geraknya ini karena HP-nya istri dibawa korban. Apabila tidak digunakan mungkin tidak bisa digerak-gerakkan," kata Teguh Abianto.
Akun pengendali kamera CCTV tersebut diketahui tertanam di ponsel milik istri korban, yang ikut dibawa oleh Nurkolis saat ia dilaporkan hilang.
Berdasarkan indikasi itu, rapat koordinasi menyimpulkan adanya peluang besar bahwa korban masih hidup, sehingga pencarian fisik di air tidak lagi efektif.
Berdasarkan hasil asesmen awal yang dilakukan oleh BPBD dan kepolisian, hubungan antara korban dan istrinya tergolong harmonis. Petugas tidak menemukan adanya riwayat pertengkaran atau konflik rumah tangga sebelum korban dinyatakan hilang.
Polisi kini tengah menyelidiki faktor dan motif lain di balik hilangnya Nurkolis untuk memastikan keberadaan dan kondisi sebenarnya dari warga Ngantru tersebut. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

