Kenapa Jemaah Gelombang Dua Sudah Pakai Ihram Sejak di Embarkasi?
Berbeda dengan gelombang pertama, jemaah haji gelombang dua Embarkasi Surabaya kini wajib memakai ihram sejak dari asrama, apa alasannya?
SURABAYA, SJP - Gelombang kedua pemberangkatan jemaah haji dari Embarkasi Surabaya resmi dimulai pada Sabtu (17/5/2025). Kloter 51 menjadi yang pertama berangkat menuju Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, setelah 50 kloter sebelumnya (gelombang satu) diterbangkan ke Madinah.
Namun, tak seperti sebelumnya, kali ini para jemaah tidak lagi mengenakan seragam batik haji saat meninggalkan asrama haji. Sebaliknya, mereka telah mengenakan kain ihram putih sejak dari tanah air. Perubahan ini bukan sekadar simbolik, melainkan ada alasan praktis dan prosedural di baliknya.
Fast Track jadi Ubah Prosedur
Menurut Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris PPIH Embarkasi Surabaya, Sugiyo, penggunaan ihram sejak dari asrama menjadi bagian dari penyesuaian dengan sistem Fast Track Makkah Route yang kini diterapkan.
"Saat ini Embarkasi Surabaya telah menerapkan sistem Fast Track Makkah Route sehingga urusan dokumen imigrasi para jemaah dapat terselesaikan sejak di Indonesia, tepatnya di Bandara Juanda," jelas Sugiyo saat dikonfirmasi pada Senin (19/5/2025).
Sistem tersebut membuat seluruh proses keimigrasian selesai sebelum keberangkatan, sehingga sesampainya di Jeddah, jemaah langsung naik bus ke Makkah. Tak ada lagi waktu untuk mengenakan ihram di bandara Arab Saudi.
"Sekarang begitu tiba di Jeddah, langsung naik bus menuju Makkah. Jadi sudah tidak ada waktu untuk memakai baju ihram di Bandara King Abdul Aziz di Jeddah," tegas Sugiyo.
Tiga Pilihan Waktu Miqat
Sugiyo juga menjelaskan bahwa jemaah tetap memiliki beberapa pilihan untuk mengambil miqat atau niat ihram, meskipun telah memakai kain ihram dari Indonesia, diantarnya:
- Sebelum berangkat di Embarkasi Surabaya
- Dalam pesawat ketika sampai di atas wilayah Yalamlam
- Usai tiba di Bandara King Abdul Aziz Jeddah
"Untuk hal ini bergantung dari fiqih yang dianut masing-masing jemaah," ungkapnya.
Bagi banyak jemaah, mengambil miqat sejak dari tanah air dianggap sebagai langkah aman agar tidak melewati miqat dalam kondisi belum berihram.
Susunan Jemaah Gelombang Kedua
Ada pula perbedaan teknis dalam penyusunan kloter pada gelombang dua. Jika gelombang satu disusun berdasarkan asal daerah, gelombang dua justru disusun berdasarkan kesamaan syarikah atau perusahaan penyedia layanan di Arab Saudi.
"Karena disusun berdasarkan syarikah, jadi satu kloter terdiri dari beberapa kabupaten/kota yang bergabung," terang Sugiyo.
Jemaah Lansia Jadi Prioritas Pelayanan
Dalam kesempatan yang sama, Sugiyo menegaskan bahwa perhatian khusus juga diberikan kepada jemaah lansia. PPIH berkoordinasi dengan petugas daerah, KBIHU, dan jemaah lainnya agar para lansia mendapat pelayanan terbaik.
"Sejak awal kita telah melakukan koordinasi dalam hal melayani jemaah lansia. Bagaimanapun, membantu orang lain khususnya lansia itu jauh lebih penting, dan pahalanya lebih banyak daripada beribadah sendiri-sendiri," ujarnya.
Ia pun mengingatkan bahwa lansia adalah tanggung jawab kolektif. Meski tanggung jawab utama dipegang oleh PPIH, namun ia berharap jemaah lain juga bisa saling membantu dan memperhatikan jemaah lansia yang berada disekitar mereka.
"Mari kita layani jemaah lansia sebaik-baiknya," pungkasnya. (*)
Editor: Rizqi ArdianĀ
What's Your Reaction?

