Kelurahan Mrican Kediri Puncaki Penutupan Zero Waste Academy 2026
Pemilihan Kelurahan Mrican bukan tanpa alasan. Wilayah ini dinilai sukses mengimplementasikan tata kelola sampah yang sistemik, partisipatif, serta berbasis digital.
KOTA KEDIRI, SJP — Gelaran Zero Waste Academy (ZWA) 2026 resmi berakhir pada Sabtu (31/1/2026). Kelurahan Mrican, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, dipilih menjadi lokasi penutupan sekaligus titik tinjau lapangan utama bagi para peserta dari berbagai daerah di Pulau Jawa.
Pemilihan Kelurahan Mrican bukan tanpa alasan. Wilayah ini dinilai sukses mengimplementasikan tata kelola sampah yang sistemik, partisipatif, serta berbasis digital.
Keberhasilan tersebut sebelumnya telah mengantarkan Mrican sebagai pemenang Lomba Bebas Sampah 2025, menjadikannya percontohan nasional dalam pengelolaan limbah domestik.
Direktur Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), Daru Setyorini, menegaskan bahwa Kelurahan Mrican adalah bukti nyata bahwa pengelolaan sampah yang efektif dapat dimulai dari skala terkecil.
"Mrican menunjukkan bahwa teknologi bukanlah satu-satunya kunci. Keberhasilan di sini bertumpu pada integritas sistem, kepemimpinan lokal, dan partisipasi aktif warga. Digitalisasi yang diterapkan membuat data pengelolaan sampah menjadi transparan, terukur, dan berkelanjutan," ujar dia.
Daru menambahkan bahwa ZWA 2026 berfungsi sebagai ruang kolaborasi lintas daerah untuk memperkuat tata kelola sampah berbasis komunitas, khususnya bagi wilayah yang bersinggungan langsung dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas.
Ketua RT 02 RW 01 Kelurahan Mrican, Sujarno, mengungkapkan bahwa kedisiplinan warga di Lingkungan Pringgondani menjadi fondasi utama.
Menurutnya, pemilahan dan pencatatan sampah dilakukan secara kolektif dengan semangat gotong royong.
Senada dengan hal tersebut, Lurah Mrican, Johan Firduas, menekankan bahwa teknologi digital hanya berfungsi sebagai alat bantu.
"Kekuatan utama kami tetap berada pada kesadaran warga. Digitalisasi membantu mempermudah proses, namun konsistensi masyarakatlah yang menjaga sistem ini tetap berjalan," ungkap Johan.
Camat Mojoroto, Abdurahman, turut memberikan apresiasi tinggi atas pencapaian ini. Ia menyatakan komitmen pemerintah kecamatan untuk mendorong replikasi praktik baik dari Mrican ke kelurahan-kelurahan lain di wilayahnya.
Zero Waste Academy 2026 yang dimulai sejak Kamis (29/1/2026) di Hotel Lotus Kediri ini menarik perhatian luas. Tercatat, perwakilan dari 10 kota dan kabupaten di Jawa Timur, termasuk Surabaya, Sidoarjo, Gresik, hingga Malang dan Batu mengikuti rangkaian acara hingga akhir.
Menariknya, antusiasme juga datang dari luar Jawa Timur. Kota Surakarta (Solo), Jawa Tengah, turut mengirimkan delegasinya untuk mempelajari model pengelolaan sampah berbasis komunitas yang diterapkan di Kediri.
Penutupan ZWA 2026 di Kelurahan Mrican mempertegas pesan bahwa pengelolaan sampah yang berkeadilan lingkungan hanya dapat terwujud melalui perpaduan antara inovasi teknologi, kebijakan yang mendukung, dan aksi nyata masyarakat di akar rumput. (**)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

