Kasus Leptospirosis di Kota Batu Menurun, Dinkes Perketat Pencegahan dan Deteksi Dini
Untuk mengantisipasi lonjakan kasus, Dinkes tengah meningkatkan deteksi dini di fasilitas kesehatan.
KOTA BATU, SJP – Kasus Leptospirosis di Kota Batu mengalami peningkatan dalam dua tahun terakhir. Setelah nihil kasus pada 2023, tercatat dua kasus pada 2024, dan hingga Februari 2025 sudah ada satu kasus yang merupakan pindahan dari Tanjung Pinang.
Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit, dan Penanganan Bencana Dinkes Kota Batu dr. Susana Indahwati pada Sabtu (15/3/2025) menguraikan, pihaknya terus mengantisipasi lonjakan kasus, dengan meningkatkan deteksi dini di fasilitas kesehatan.
"Sebagai langkah awal, Pemkot Batu telah mengeluarkan Surat Kewaspadaan Leptospirosis yang ditujukan kepada desa/kelurahan serta rumah sakit," ucapnya.
Dinkes juga menggencarkan pemeriksaan terhadap pasien yang menunjukkan gejala seperti mual, lemas, sakit kepala, nyeri betis, mata merah, dan kulit kuning.
"Untuk memastikan diagnosa yang akurat, Kota Batu berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi guna memenuhi kebutuhan reagen rapid test Leptospirosis," urainya.
Lebih lanjut, Leptospirosis sendiri ditularkan melalui urine tikus yang mengandung bakteri Leptospira sehingga kedepannya Dinkes berencana melibatkan Dinas Pertanian dan Dinas Lingkungan Hidup dalam upaya pengendalian populasi tikus, serta sosialisasi kebersihan lingkungan.
Masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan rumah, memastikan tidak ada lubang tempat tikus masuk, serta menggunakan alas kaki saat beraktivitas di area berisiko seperti sawah dan kebun.
Dinkes juga menekankan pentingnya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala mencurigakan.
"Jagalah kebersihan lingkungan serta perilaku hidup bersih dan sehat agar terhindar dari berbagai penyakit menular," tandasnya. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

