Kaburkan Sejarah Leluhur, Warga Tiga Desa di Jombang Bongkar Makam Palsu
Keberadaan petilasan makam palsu di kawasan situs Jeladri, Kecamatan Kabuh membuat resah warga, hingga akhirnya dibongkar secara paksa.
JOMBANG, SJP - Puluhan warga dari tiga desa, yaitu Manduro, Sumbergondang, dan Sumberingin, melakukan pembongkaran makam palsu yang berada di area Situs Jeladri di Kabuh, Jombang pada Rabu (16/4/2024) kemarin.
Sebuah petilasan makam palsu yang bibangun oleh warga setempat dua tahun terakhir membuat resah warga.
Petilasan makam diberi nama Sunan Candramata bin Sunan Geseng, atau dikenal juga sebagai Sunan Elang Putih diduga tidak sesuai dengan sejarah situs Jeladri, Kecamatan Kabuh, Jombang.
Kepala Desa Manduro, Jamilun, mengatakan, pembongkaran petilasan makam berada di wilayah administrasinya. Namun, situs Jeladri sebagai kawasan makam leluhur yang dihormati oleh dua desa.
Polemik petilasan makam palsu itu bermula pada tahun 2023. Saat itu, ada seorang warga Desa Sumbergondang bernama Kucan membangun sebuah petilasan makam di area situs Jeladri.
"Petilasan itu diberi nama Sunan Candramata bin Sunan Geseng, atau dikenal juga sebagai Sunan Elang Putih," ungkap Jamilun lewat pesan kepada wartawan, Kamis (17/4/2025).
Pembangunan petilasan makam palsu tersebut merupakan inisiatif Kucan sendiri. Berangkat dari adanya perintah dari guru spiritualnya.
Tiga guru Spiritual yang bernama Kyai Muhajir dari Madiun, Habib Sholeh dari Mojokerto, dan Suwari dari Desa Jatigedong, Kecamatan Ploso.
"Ketiga tokoh tersebut diklaim memberikan isyaroh atau petunjuk bahwa Situs Jeladri merupakan tempat peristirahatan Sunan Candramata," bebernya.
Keberadaan petilasan makam Sunan Candramata diragukan kebenarannya. Apa yang dinarasikan oleh Kucan tidak sesuai dengan keaslian sejarah Situs Jeladri.
"Berdasarkan catatan dan kepercayaan masyarakat setempat, Situs Jeladri hanya memiliki dua petilasan utama, yaitu petilasan Eyang Wirorojo atau Wiro Sakti dan petilasan Sembilan, serta sebuah punden bernama Nambi," terang Kades Jamilun.
Justru dengan keberadaan petilasan makam baru ini menimbulkan keresahan di antara tokoh masyarakat, sesepuh adat, tokoh agama, dan perwakilan pemerintah dari ketiga desa.
Kades Jamilun khawatir jika petilasan yang dianggap palsu itu dibiarkan, akan muncul lagi makam atau pesarean lain di kemudian hari, yang semakin menjauhkan generasi mendatang dari sejarah yang sebenarnya.
"Setelah melalui musyawarah, kami sepakat untuk membongkar petilasan Sunan Candramata," ujarnya.
Pembongkaran petilasan makam tersebut juga bertujuan agar generasi penerus tidak melenceng dari sejarah. Demikian juga sejarah dari tiga desa di kawasan Situs Jeladri tidak dikaburkan dengan sejarah yang fiktif.
"Keputusan untuk membongkar petilasan Sunan Candramata disambut dengan antusias oleh warga ketiga desa," tandasnya.
Setelah pembongkaran, area situs Jeladri diharapkan menjadi warisan sejarah sebagaimana sediakala. Hanya mempertahankan dua petilasan dan satu punden yang telah lama diyakini keberadaannya oleh masyarakat setempat. (**)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

