Soroti Kasus di Sidoarjo, Menteri PPPA Minta Masyarakat Stop Diskriminasi Anak dengan HIV

Imbauan ini disampaikan menyusul sorotan atas tingginya data anak dan remaja yang terinfeksi HIV di Kabupaten Sidoarjo.

28 Jul 2026 - 15:00
Soroti Kasus di Sidoarjo, Menteri PPPA Minta Masyarakat Stop Diskriminasi Anak dengan HIV
Menteri PPPA, Arifah Fauzi saat ditemui awak media usai hadiri acara Hari Anak Nasional 2026 di Kecamatan Prigen (Foto: Isbi/SJP)

PASURUAN, SJP — Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, mengingatkan masyarakat untuk menghentikan segala bentuk stigma negatif dan diskriminasi terhadap anak yang hidup dengan HIV (ADHA). 

Imbauan ini disampaikan menyusul sorotan atas tingginya data anak dan remaja yang terinfeksi HIV di Kabupaten Sidoarjo.

Arifah menegaskan bahwa pencegahan penularan HIV pada anak harus diperkuat secara menyeluruh. Langkah ini meliputi peningkatan edukasi, deteksi dini, kemudahan akses layanan kesehatan, serta pendampingan yang berkelanjutan.

Ia mengingatkan, anak-anak yang hidup dengan HIV memiliki hak yang setara dengan anak lainnya, terutama dalam memperoleh akses pendidikan, layanan kesehatan, pengasuhan yang layak, serta perlindungan dari perilaku diskriminatif.

"Yang harus kita perbaiki yakni pondasi-pondasi agama yang ada di dalam keluarga, sehingga penanganan HIV pada anak tidak hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga membutuhkan dukungan psikososial serta lingkungan yang inklusif agar mereka dapat tumbuh dan berkembang secara optimal," kata Arifah Fauzi saat ditemui usai menghadiri acara Peringatan Hari Anak Nasional di Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Selasa (28/7/2026).

Arifah menjelaskan, masyarakat tidak perlu takut berlebihan karena HIV tidak menular melalui interaksi sosial harian. Penularan tidak terjadi hanya karena belajar bersama, berjabat tangan, bermain, berbagi makanan, ataupun menggunakan fasilitas umum yang sama.

Ia berharap pemahaman masyarakat yang makin membaik dapat menghapus ketakutan yang salah soal HIV. Dengan begitu, anak-anak dengan HIV tetap bisa diterima di lingkungan sosial dan memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan mereka.

"Kalau saya menganalisa, ada sebagian orang tua yang bangga dengan prestasi anaknya di intelektualnya saja itu boleh saja, namun pondasi keagamaan dan budi pekerti itu harus ditanamkan menjadi benteng hati anak-anak," jelasnya. (*) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow