Jumlah Wisnus di Jawa Timur Menurun Pasca Mudik Lebaran, Hotel Bintang Bertahan Berkat Event MICE
Wisatawan domestik turun lebih dari 30 persen usai lebaran, namun tingkat hunian hotel bintang tetap terjaga di beberapa kota berkat penyelenggaraan kegiatan MICE.
SURABAYA, SJP - Setelah memuncak pada April karena momentum Idulfitri, mobilitas wisatawan nusantara (wisnus) di Jawa Timur mengalami penurunan cukup tajam pada Mei 2025.
Kendati demikian, tingkat hunian hotel berbintang tetap relatif stabil di beberapa kota berkat penyelenggaraan sejumlah kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition).
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur mencatat bahwa jumlah perjalanan wisatawan nusantara menuju provinsi Jatim turun sebesar 32,68 persen dibanding April, menjadi sekitar 16,98 juta perjalanan.
Tidak hanya wisatawan nusantara yang masuk ke daerah Jawa Timur, penurunan juga terjadi pada jumlah perjalanan keluar dari Jawa Timur yang mencapai 16,29 juta, turun 28,59 persen dibanding bulan sebelumnya.
"Mei adalah bulan transisi pasca-libur panjang, sehingga penurunan kunjungan wisatawan domestik cukup wajar. Tidak ada momen besar seperti mudik atau cuti bersama,” ujar Zulkipli, Kepala BPS Provinsi Jawa Timur, Senin (7/7/2025).
Perjalanan Wisnus Turun, Hotel Nonbintang Terpukul
Dampak dari turunnya mobilitas wisatawan domestik paling terasa di sektor akomodasi menengah ke bawah. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel nonbintang pada Mei hanya mencapai 21,54 persen, turun 1,54 poin dibandingkan April.
Sebagai perbandingan, TPK hotel nonbintang pada April masih mencatat angka 23,08 persen, didorong oleh lonjakan pemesanan selama libur Lebaran.
"Hotel nonbintang memang lebih bergantung pada wisatawan nusantara dan kunjungan keluarga saat hari besar. Setelah lebaran, mereka langsung kena imbas," kata Zulkipli.
Hotel Berbintang Tetap Stabil
Meski secara rata-rata TPK hotel berbintang di Jawa Timur menurun tipis dari 49,81 persen pada April menjadi 49,26 persen di Mei, beberapa kota justru mencatat peningkatan hunian karena adanya kegiatan formal dan pertemuan berskala besar.
Kota/kabupaten dengan TPK tertinggi di hotel berbintang:
- Jombang: 63,59%
- Gresik: 62,81%
- Kota Mojokerto: 57,39%
"Kegiatan MICE menjadi penyangga utama hunian hotel berbintang di bulan Mei, terutama di daerah industri atau yang jadi pusat pelatihan, seminar, dan pertemuan lembaga," jelas Zulkipli.
Hotel Bintang 5 bahkan mencatat peningkatan hunian menjadi 46,65 persen, naik 3,58 poin dibandingkan April.
Durasi Menginap Wisnus Pendek
Durasi tinggal rata-rata wisatawan domestik (RLMT) hanya 1,45 hari, jauh lebih pendek dibanding wisatawan mancanegara (1,67 hari). Ini mencerminkan pola kunjungan cepat-pulang yang umum terjadi pada wisatawan lokal, terutama di bulan-bulan tanpa momentum libur panjang.
"Mayoritas wisatawan nusantara melakukan perjalanan singkat, terutama karena tidak adanya cuti nasional. Ini berbeda dengan bulan sebelumnya yang dipadati kegiatan mudik dan rekreasi keluarga," tambah Zulkipli.
Meskipun sektor pariwisata domestik menunjukkan penurunan pada bulan Mei, data BPS mengindikasikan bahwa industri perhotelan tetap bergerak, terutama pada segmen premium yang mampu menarik pelanggan dari kegiatan institusional.
"Penurunan ini bersifat musiman, dan selama ada kegiatan yang mendorong pergerakan antarwilayah, sektor perhotelan dan pariwisata tetap bisa bertahan," tutup Zulkipli. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

