Jelang Lebaran, Produksi Blangkon di Tulungagung Meningkat

Lonjakan permintaan datang baik dari penjualan online maupun pembeli yang datang langsung ke rumah produksinya.

20 Mar 2026 - 17:30
Jelang Lebaran, Produksi Blangkon di Tulungagung Meningkat
Sutopo menunjukkan berbagai jenis dan model blangkon buatannya. (Beny/SJP)

TULUNGAGUNG, SJP – Di sudut Desa Kaliwungu, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung, suasana rumah produksi blangkon milik Sutopo tampak berbeda. Tumpukan kain batik, pola yang mulai terbentuk, hingga suara jahitan manual berpadu menjadi irama kesibukan yang kian terasa sejak Ramadan tiba. 

Pesanan yang terus mengalir dari berbagai daerah mengakibatkan aktivitas produksi meningkat signifikan, terutama menjelang Lebaran.

“Alhamdulillah, menjelang Lebaran pada hari-hari puasa ini ada permintaan yang signifikan,” ujar Sutopo, Jumat (20/3/2026).

Ia menambahkan, lonjakan permintaan datang baik dari penjualan online maupun pembeli yang datang langsung ke rumah produksinya.

Sebelum bulan puasa, Sutopo mengaku hanya memproduksi dua hingga tiga blangkon per hari menyesuaikan jumlah pesanan. Namun kini, jumlah tersebut melonjak dua hingga tiga kali lipat. Dalam sehari, ia mampu menyelesaikan enam hingga sepuluh blangkon, bergantung pada tingkat kerumitan.

“Kalau sebelum puasa itu paling 2 sampai 3. Tapi sekarang sudah masuk bulan puasa, per hari bisa 6 sampai 10,” katanya.

Peningkatan ini mengharuskan Sutopo bekerja lebih lama demi memenuhi pesanan yang terus berdatangan. Ragam jenis blangkon diproduksi di tempat ini, mulai dari gaya Jawa Timuran, Solo, Yogyakarta, hingga model yang sedang digemari kalangan muda, yakni blangkon Sente Rewe. Dari sekian banyak pilihan, dua jenis menjadi favorit pelanggan.

“Yang paling laris itu Jogjaan dan Sente Rewe. Kalau Sente Rewe ini biasanya untuk kalangan muda, sedangkan Jogjaan lebih ke orang tua,” jelas Sutopo.

Permintaan tidak hanya berasal dari wilayah sekitar Tulungagung. Pesanan justru banyak berdatangan dari berbagai kota di Pulau Jawa, bahkan luar daerah. Yogyakarta menjadi salah satu daerah dengan permintaan rutin, khususnya dari Bantul, Sleman, hingga Gunungkidul.

“Dari Jogja itu sering, terutama Bantul, Sleman, dan Gunungkidul. Kemarin juga ada dari Bekasi dan Bandung Barat,” ungkapnya.

Ia mengaku, sebagian pelanggan membeli dalam jumlah banyak untuk kebutuhan komunitas maupun acara khusus.

Di balik tingginya permintaan, proses pembuatan blangkon di rumah produksi ini tetap dilakukan secara manual. Mulai dari menyiapkan kain batik, membentuk pola, hingga menjahit setiap bagian dilakukan dengan telaten. Hal ini menjadi ciri khas sekaligus menjaga kualitas produk yang dihasilkan.

“Harga bergantung pada kain dan tingkat kerumitan. Yang paling murah sekitar 100 ribu rupiah, rata-rata 150 ribu rupiah, hingga batik khusus bisa 250 sampai 450 ribu rupiah,” terang Sutopo.

Menurut Sutopo, bagi sebagian pembeli, blangkon bukan sekadar pelengkap busana. Aksesori tradisional ini memiliki makna lebih dalam, terutama saat momen Lebaran. Selain digunakan untuk salat Tarawih selama Ramadan, blangkon juga menjadi simbol identitas budaya saat bersilaturahmi.

“Biasanya dipakai untuk menjalin silaturahmi, juga penanda identitas komunitas orang Jawa, terutama bagi yang tinggal di luar Jawa,” tuturnya.

Meningkatnya permintaan di bulan Ramadan menjadi berkah bagi Sutopo. Di tengah arus modernisasi dan tren busana yang terus berubah, blangkon tetap memiliki tempat di hati masyarakat. Bagi para perajin seperti Sutopo, setiap jahitan bukan sekadar pekerjaan, melainkan upaya menjaga warisan budaya agar tetap lestari dari generasi ke generasi. (*) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow