Jejak-Jejak Tersisa dari Kotaku Tercinta: Ali Shodiqin dan Karya Sketsanya yang Menghidupkan Sejarah Kediri
Pameran tunggal yang digelar di rumah budaya Warung Setono Gurih (WSG) di Pakelan, Kota Kediri.
KEDIRI, SJP – Di sudut rumah budaya Kediri yang sarat makna, Ali Shodiqin mengundang kita untuk berjalan menyusuri jejak-jejak yang tersisa dari kota tercintanya: Kediri.
Sebanyak 35 karya sketsa karya Ali berbicara banyak tentang bangunan-bangunan tua, candi, patung, dan benda-benda bersejarah yang tersebar di bumi Kediri.
Pameran tunggal kedua Ali Shodiqin ini bertajuk "Jejak-Jejak Tersisa dari Kotaku Tercinta," digelar pada 24 hingga 30 Januari 2025 rumah budaya Warung Setono Gurih (WSG) di Pakelan, Kota Kediri.
Pameran ini adalah kolaborasi indah antara Rumah Budaya Kediri WSG dan Bringin Art Gallery. Dengan media tinta di kertas, beberapa karya Ali Shodiqin hadir dengan sentuhan cat air dan pena, menampilkan keabadian sejarah yang seakan tak terucapkan oleh waktu.
Setiap guratan pada kertas membawa kita pada perjalanan menembus ruang dan waktu, mengungkap kisah-kisah yang tersembunyi di balik siluet kota ini.
Ali Shodiqin sendiri menegaskan bahwa pameran ini merupakan obsesi tiap perupa, sebagai tanda bahwa dirinya masih ada, tetap menggali dan menyuguhkan kebaruan dari pengalaman dan pengamatannya yang terus berkembang.
"Pameran ini adalah bentuk penghormatan kepada Kediri, kota yang begitu kaya akan sejarah dan budaya. Melalui sketsa-sketsa ini, saya berharap dapat mengajak masyarakat untuk lebih mengenal dan menghargai jejak-jejak yang telah ditinggalkan oleh masa lalu," ujarnya.
Ragam kegiatan budaya memeriahkan pameran sketsa ini. Di buka oleh ketua pembina Yayasan Pawyatan Daha Kediri H Lilik Sutrisno. Saat pembukaan pada 24 Januari 2025, SMP Pawyatan Daha 2 Kediri mempersembahkan tari kreasi baru disusul teater merah putih yang menyajikan drama 1 babak.
Dilanjutkan 26 Januari 2025, digelar sketsa model on the spot / bersama teman teman perupa dan partisipan. Lantas, 29 Januari 2025, acara workshop nyekets dengan media Tinta cina di kertas.
Sebagai penutup, pada 30 Januari 2025 malam, acara sarasehan yang mengangkat tema pemajuan budaya, khususnya di Kediri Raya, mengundang berbagai elemen masyarakat, pemerhati budaya, serta pelaku seni dari berbagai kalangan.
Dalam suasana penuh kekeluargaan, acara ini menjadi momen refleksi tentang pentingnya pelestarian budaya dan pengembangan seni di tanah Kediri.
Pameran ini bukanlah yang pertama. Pada tahun 1999, Ali Shodiqin pernah menggelar pameran tunggal pertama dengan tema "Pageblug Songo Songo" di Gedung Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri. Kini, dengan pameran keduanya yang penuh makna ini, ia melanjutkan perjalanan seni yang tak pernah berhenti.
Ali, bersyukur, acara yang digelar berjalan lancar dari awal hingga akhir. Selain itu, antusiasme pengunjung sangat tinggi. Pengunjung tidak pernah sepi tiap hari bergantian datang pergi. Apresiasi pengunjung juga cukup bagus, terutama dari kalangan pelajar SMA dan masyarakat umum.
"Alhamdulillah acara dari mulai pembukaan pameran selama pameran berlangsung sampai akhir acara penutupan berlangsung lancar sesuai harapan," ujar Ali.
Tak sabar menantikan, rencananya pada Juni mendatang, pameran tunggal ketiganya akan digelar di Galeri Merah Putih, Balai Pemuda Surabaya, sebagai bagian dari upaya meluaskan wawasan dan karya seni kepada khalayak yang lebih luas. (**)
Editor : Danu S
What's Your Reaction?

