Jejak Emas Perry Warjiyo: Dari QRIS hingga Rupiah Digital di Bank Indonesia

Mengulas 8 tahun kepemimpinan Perry Warjiyo di Bank Indonesia (2018–2026). Dari QRIS, BI-FAST, SNAP, QRIS Cross-Border, hingga Proyek Garuda Rupiah Digital.

27 Jul 2026 - 10:39
Jejak Emas Perry Warjiyo: Dari QRIS hingga Rupiah Digital di Bank Indonesia
Perry Warjiyo saat dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) Rabu, 24 Mei 2023. (Foto: Dokumentasi BI)

JAKARTA, SJP -  Perry Warjiyo mengundurkan diri sebagai Gubernur Bank Indonesia. Surat pengunduran diri Perry disampaikan pada Presiden Prabowo, Minggu (27/7/2026). 

"Beliau menyampaikan pengunduran diri berkirim surat," kata Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo seusai konferensi pers di kantor Bank Indonesia, Jakarta, Senin (27/7/2026).

Masa kepemimpinan Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2018 - 2026 mencatatkan tinta emas dalam sejarah modernisasi keuangan nasional. Selama delapan tahun menjabat, bank sentral tidak hanya fokus menjaga stabilitas moneter, tetapi juga berhasil ditransformasi menjadi motor utama digitalisasi ekonomi tanah air.

Lewat Visi Sistem Pembayaran Indonesia (SPI), Perry meletakkan fondasi digital terintegrasi yang menghubungkan transaksi ritel harian masyarakat hingga arsitektur keuangan global.

5 Inovasi Masif Warisan Era Perry Warjiyo

Berdasarkan rekam jejak dan arsitektur sistem pembayaran yang dibangun, berikut pilar inovasi utama yang menjadi legacy kepemimpinan Perry Warjiyo di Bank Indonesia:

1. QRIS Nasional (Satu QR untuk Semua)

Standardisasi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) merombak total gaya hidup transaksi masyarakat. Dengan prinsip "Satu QR untuk Semua," QRIS menyatukan berbagai aplikasi pembayaran baik dari perbankan maupun e-wallet. Langkah ini menjadi penggerak utama inklusi keuangan hingga ke UMKM di berbagai pelosok daerah.

2. BI-FAST (Fast Payment 24/7)

Peluncuran infrastruktur BI-FAST memberikan solusi transfer dana ritel yang beroperasi real-time selama 24 jam penuh. Dengan efisiensi biaya (Rp2.500 per transaksi), BI-FAST menjadi tulang punggung transaksi antarbank yang aman, cepat, dan terjangkau bagi masyarakat luas.

3. SNAP (Standar Open API)

Melalui pengesahan Standar National Open API Pembayaran (SNAP), BI berhasil menjembatani integrasi antara industri perbankan, fintech, serta platform e-commerce/marketplace. SNAP memastikan konektivitas antar-sistem berlangsung lebih cepat, efisien, dan memiliki tingkat keamanan tinggi.

4. QRIS Cross-Border (Interoperabilitas ASEAN)

Tak berhenti di dalam negeri, inovasi pembayaran melebarkan sayap ke tingkat regional. Inisiatif QRIS Cross-Border memungkinkan warga negara Indonesia bertransaksi langsung menggunakan mata uang lokal di beberapa negara ASEAN (seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura) tanpa perlu menukar uang tunai.

5. Proyek Garuda & Rupiah Digital (CBDC)

Sebagai langkah visioner menghadapi era aset digital, BI menginisiasi Proyek Garuda untuk menerbitkan Central Bank Digital Currency (CBDC) atau Rupiah Digital. Inovasi ini disiapkan sebagai bentuk modernisasi mata uang sekaligus menegakkan kedaulatan moneter Indonesia di era ekonomi digital masa depan.

Inovasi yang dihadirkan sepanjang 2018- 2026 bukan sekadar modernisasi teknologi, melainkan strategi terstruktur untuk memastikan pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif, efisien, dan mandiri. Jejak langkah Perry Warjiyo telah mengukuhkan posisi Indonesia sebagai salah satu pelopor digitalisasi sistem pembayaran terbaik di kawasan Asia Tenggara. (**)

Sumber: beritasatu.com

Editor: Danu

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow