Demi Sepatu Murah Viral TikTok, Ribuan Warga Antre Berjam-jam di Mojokerto, Anak-Anak Terjepit

Promosi viral TikTok pemicu FOMO membuat ribuan warga memadati pembukaan toko di Mojokerto. Demi sepatu murah, warga antre berjam-jam hingga anak-anak terjepit kerumunan.

26 Jul 2026 - 16:34
Demi Sepatu Murah Viral TikTok, Ribuan Warga Antre Berjam-jam di Mojokerto, Anak-Anak Terjepit
Ribuan orang berebut sandal murah di toko perlengkapan kaki di Desa Brangkal, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Minggu 26 Juli 2026. (Foto: Beritasatu.com/Supriyadi)

MOJOKERTO, SJP -” Pengaruh promosi di media sosial kembali memicu fenomena fear of missing out (FOMO) massal yang mengabaikan faktor keselamatan publik. Ribuan warga dari berbagai daerah rela mengantre sejak subuh dan saling berdesakan demi berburu sandal serta sepatu murah pada pembukaan sebuah toko di Desa Brangkal, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Minggu (26/7/2026).

Kerumunan massa yang membludak sejak pagi buta membuat situasi di lokasi sempat tak terkendali. Antrean mengular hingga berjam-jam dan aksi saling dorong tak terhindarkan. Risiko keselamatan, sejumlah anak-anak yang berada dalam gendongan orang tua ikut terjepit di tengah padatnya kerumunan hingga menangis ketakutan.

Daya tarik utama yang menyedot perhatian massa ini adalah penawaran harga jauh di bawah pasar yang disebarkan secara masif melalui TikTok. Barang-barang seperti kaus kaki dibanderol Rp5.000, sandal Rp10.000, hingga sepatu seharga Rp35.000.

Dampaknya, dorongan FOMO membuat warga rela mengabaikan kenyamanan dan keamanan fisik. Annisa, seorang pembeli asal Lamongan, mengaku mengantre selama tiga jam tanpa kepastian akibat tergiur unggahan viral.

"Antre mulai jam delapan, sekarang sudah jam sebelas masih belum dapat nomor. Ya karena ada di TikTok, korban TikTok ini. Rencananya beli sepatu buat anak karena harganya murah," ujar Annisa di lokasi kejadian.

Hal senada dirasakan Fatkurohman, warga Mojokerto. Ia mendatangi lokasi sejak pukul 05.30 WIB dan baru berhasil menyelesaikan transaksi sekitar pukul 11.00 WIB. Demi mendapatkan barang murah, ia harus bertahan di tengah situasi yang menguras energi selama lebih dari lima jam.

"Cari sepatu dan sandal. Ini dapat dua sepatu sama satu sandal. Antre dari jam setengah enam, baru selesai sekitar jam sebelas," katanya.

Melihat kondisi yang nyaris ricuh akibat aksi saling seruduk antar pengunjung, pihak pengelola toko baru menerapkan sistem pembatasan durasi belanja dan nomor antrean untuk menekan potensi bahaya yang lebih besar.

Pemilik toko, Inka, mengakui bahwa pihaknya tidak mengantisipasi skenario ledakan massa akibat dorongan promosi media sosial tersebut. Langkah darurat terpaksa diambil demi menghindari jatuhnya korban jiwa.

"Kalau tidak dibatasi nanti seruduk-serudukan. Bisa ada yang semaput. Makanya kami kasih nomor antrean dan waktu belanja hanya 10 menit," ungkap Inka.

Peristiwa ini menjadi potret nyata bagaimana algoritma promosi media sosial mampu menggerakkan massa secara impulsif dalam jumlah besar, yang jika tidak diimbangi dengan kesadaran keselamatan, berpotensi membahayakan keselamatan publik. (**)

Sumber: beritasatu.com

Editor: Danu

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow