Indeks Pelayanan Publik Jember Meroket, Antara Capaian Angka dan Realitas Inovasi
Capaian ini menempatkan Jember di peringkat ke-7 nasional kategori kabupaten sekaligus memimpin di wilayah Tapal Kuda, Jawa Timur.
JEMBER, SJP — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember mencatatkan kenaikan signifikan pada nilai Indeks Pelayanan Publik (IPP) tahun 2025.
Berdasarkan Keputusan Menteri PANRB Nomor 3 Tahun 2026, Jember kini mengantongi skor 4,68, naik dari angka 4,62 pada tahun sebelumnya.
Capaian ini menempatkan Jember di peringkat ke-7 nasional kategori kabupaten sekaligus memimpin di wilayah Tapal Kuda, Jawa Timur.
Bupati Jember, Muhammad Fawait, menegaskan bahwa peningkatan skor IPP merupakan manifestasi dari reformasi birokrasi yang berorientasi pada hasil (outcome).
Ia mengklaim bahwa transparansi dan kecepatan akses menjadi fondasi utama dalam perbaikan layanan di era kepemimpinannya.
"Alhamdulillah, ini hasil kerja kolektif. Namun, kami tidak ingin pelayanan hanya bagus di atas kertas. Yang terpenting, masyarakat merasakan kepastian dan tidak lagi dipersulit," ujar bupati yang karib disapa Gus Fawait tersebut, Selasa (20/1/2026).
Salah satu instrumen yang dianggap mendongkrak penilaian ini adalah program Wadul Guse. Kanal pengaduan terintegrasi ini diposisikan sebagai 'mata dan telinga' pemerintah untuk merespons keluhan warga secara real-time.
Keberadaan kanal ini disebut-sebut telah memangkas sumbatan komunikasi antara birokrat dan warga.
Memasuki awal 2026, Pemkab Jember meluncurkan inovasi terbaru bertajuk PETA CINTA (Pelayanan Tuntas Cetak E-KTP di Kecamatan). Inovasi ini bertujuan mendelegasikan wewenang pencetakan dokumen kependudukan langsung ke tingkat kecamatan guna mengurai antrean panjang di pusat kota.
"Sekarang warga cukup ke kecamatan. Lebih dekat dan efisien. Ini adalah langkah konkret mendekatkan negara kepada rakyatnya," tambah Gus Fawait.
Walaupun menduduki posisi elit secara nasional, pengamat kebijakan publik mengingatkan bahwa tingginya nilai IPP membawa tanggung jawab besar. Tantangan utamanya adalah konsistensi pelayanan di tingkat akar rumput (kecamatan dan desa) yang sering kali masih mengalami kendala teknis maupun sumber daya manusia.
Kenaikan IPP sebesar 0,06 poin dalam setahun mencerminkan adanya penguatan sistem, namun publik tetap menantikan apakah inovasi seperti PETA CINTA mampu bertahan dari masalah klasik seperti ketersediaan blangko atau gangguan jaringan yang kerap dikeluhkan di daerah.
Bupati Fawait menegaskan bahwa peringkat ke-7 nasional bukanlah titik henti. Artinya inovasi akan terus dilakukan dan harus ada jaminan kepastian bahwa pelayanan publik di Jember benar-benar naik kelas.
"Target kami bukan sekadar mempertahankan peringkat, tapi memastikan pelayanan publik di Jember benar-benar naik kelas menjadi lebih profesional dan humanis," pungkasnya. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

