Cuaca Ekstrem Picu Longsor di Jember, Rumah Warga Terancam Ambruk

Berdasarkan analisis teknis di lapangan, pihak berwenang mengeluarkan sejumlah rekomendasi bahwa pemilik rumah diimbau mengosongkan area belakang dan memindahkan aktivitas ke bagian bangunan yang lebih stabil.

20 Jan 2026 - 12:00
Cuaca Ekstrem Picu Longsor di Jember, Rumah Warga Terancam Ambruk
Kondisi tanah longsor di dekat rumah warga. (Ulum/SJP)

JEMBER, SJP — Intensitas curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Jember dalam sepekan terakhir mulai memicu rentetan bencana hidrometeorologi. 

Sebuah insiden tanah longsor dilaporkan mengancam keselamatan warga di Lingkungan Krajan, Kelurahan Patrang, Kecamatan Patrang, pada Senin (19/1/2026).

Peristiwa tersebut terjadi tepat di belakang kediaman Endang Wahyuni (76), yang berlokasi di Jalan Moch. Sroedji No. 7. 

Material tanah dengan dimensi panjang 30 meter dan tinggi 20 meter runtuh akibat kejenuhan air tanah pascahujan lebat yang terjadi sejak Ahad (18/1/2026).

Dampak dari pergerakan tanah ini tergolong signifikan. Pondasi bagian belakang rumah korban kini dalam kondisi menggantung tanpa penopang. Tekanan tanah yang bergeser juga memicu kerusakan struktural serius, berupa retakan lebar pada lantai dan dinding bangunan.

Kepala BPBD Jember, Edi Budi Susilo, mengonfirmasi bahwa meskipun tidak ada korban jiwa, risiko keamanan penghuni menjadi prioritas utama.

"Kami telah mendistribusikan dan memasang dua lembar terpal berukuran besar untuk menutup rekahan tanah. Langkah darurat ini krusial guna mencegah air hujan meresap langsung ke celah tanah yang dapat memicu longsoran susulan," ujar Edi pada Rabu (20/1/2026).

Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, perangkat kelurahan, dan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR) telah melakukan kaji cepat (assessment) di lokasi. 

Meski penanganan awal dinyatakan selesai pada Senin pukul 10.40 WIB, pemantauan ketat tetap dilakukan karena dilaporkan adanya pergerakan tanah secara perlahan.

Berdasarkan analisis teknis di lapangan, pihak berwenang mengeluarkan sejumlah rekomendasi bahwa pemilik rumah diimbau mengosongkan area belakang dan memindahkan aktivitas ke bagian bangunan yang lebih stabil.

Tim PUPR didorong untuk segera merencanakan pembangunan dinding penahan tanah (plengsengan) permanen guna menstabilkan struktur tanah.

Masyarakat yang tinggal di kawasan lereng atau tebing diminta tetap waspada terhadap cuaca ekstrem yang diprediksi masih akan berlangsung.

"Kondisi saat ini masih sangat rawan. Kami meminta warga tidak meremehkan rekahan tanah sekecil apa pun dan segera melapor jika melihat tanda-tanda pergerakan tanah baru," pungkas Edi. (*) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow