Imbas Efisiensi Anggaran, Kemenag Kota Batu Kurangi Pendamping Jemaah Haji
Satu kloter jemaah hanya akan didampingi oleh satu dokter dan satu perawat. Hal itu berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang menyediakan satu dokter dan dua perawat untuk setiap kloter.
KOTA BATU, SJP — Saat pemerintah Indonesia menambah jumlah petugas haji, tahun ini Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Batu justru mengurangi jumlah petugas pendamping jemaah haji. Hal itu karena kebijakan efisiensi anggaran.
Kepala Seksi (Kasi) Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Kota Batu, Basuki Rachmat mengatakan, akibat kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat, pihaknya terpaksa mengurangi jumlah tenaga medis pendamping jemaah haji.
Basuki menyebut, pada penyelenggaraan haji tahun ini, satu kloter jemaah hanya akan didampingi oleh satu dokter dan satu perawat. Hal itu berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang menyediakan satu dokter dan dua perawat untuk setiap kloter.
"Petugasnya di sini kalau kemarin untuk TKHK (tim kesehatan haji kloter) tiap satu kloter satu dokter dua perawat. Kini cuma satu dokter satu perawat. Juga karena efisiensi," ucapnya, Sabtu (26/4/2025).
Basuki menambahkan, formasi petugas kloter tahun ini hanya empat orang. Yakni ketua kloter, pembimbing ibadah, dokter, dan satu perawat. Untuk petugas daerah, telah ditunjuk Ludi Tanarto, wakil ketua DPRD Kota Batu, dan dr. Wahyu dari Puskesmas Bumiaji.
Tidak hanya pengurangan petugas, efisiensi juga berdampak pada pelaksanaan manasik haji. Tahun ini, calon jemaah haji (CJH) Kota Batu melaksanakan manasik praktik di kantor KONI Kota Batu. Bukan lagi di Islamic Center Kepanjen seperti tahun-tahun sebelumnya.
"Tahun ini jemaah Kota Batu yang murni jumlahnya 130-an itu praktik manasik di KONI Kota Batu Sabtu depan. Dulu kan di Kepanjen. Tapi karena efisiensi, maka kebijakannya kita ikuti," sambung Basuki.
Adapun jumlah CJH Kota Batu saat ini tercatat sebanyak 183 orang. Ditambah jemaah mutasi menjadi sekitar 200 orang. Mereka terdiri atas 130 jemaah reguler, 41 mutasi dari Kabupaten Malang, 10 dari Kota Malang, dan 2 dari mutasi antar embarkasi.
"Kami tetap prioritaskan pelayanan terbaik dengan keterbatasan yang ada. Petugas yang kami siapkan sudah berpengalaman. Sehingga diharapkan mampu mengawal jemaah secara maksimal," tandasnya. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

