Hari Pendidikan Nasional, Peningkatan Kompetensi Guru Jadi PR Pendidikan Jatim
Dengan skala pendidikan yang besar, Jawa Timur kini menghadapi tantangan struktural berupa kesenjangan kompetensi guru. Tanpa percepatan peningkatan kualitas tenaga pendidik, upaya pemerataan pendidikan berisiko berjalan lambat, sekaligus menghambat kesiapan generasi muda menghadapi tuntutan era digital
KOTA BATU, SJP - Hari Pendidikan Nasional 2026, membuat Dinas Pendidikan Pemprov Jawa Timur berpacu untuk terus menekan kesenjangan kompetensi tenaga pendidik. Pasalnya, disparitas kualitas guru masih menjadi salah satu faktor penghambat dalam mewujudkan pemerataan mutu di tengah besarnya jumlah satuan pendidikan.
Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai pada Senin (4/5/2026) mengungkapkan bahwa tantangan ini semakin kompleks karena Jawa Timur mengelola total 4.688 sekolah menengah, terdiri dari 2.158 SMK, 2.132 SMA, dan 398 SLB. Distribusi yang luas membuat kualitas pengajaran tidak merata, terutama dalam hal adaptasi terhadap perkembangan teknologi digital.
"Peningkatan kompetensi guru bukan sekadar kebutuhan, tetapi keharusan yang membutuhkan investasi besar. Selama ini, keterbatasan anggaran menjadi kendala utama dalam memperluas program pelatihan secara menyeluruh," urainya.
Untuk mengatasi hal tersebut, Dindik Jatim mulai mengintensifkan program pelatihan melalui Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK). Selain itu, sertifikasi berbasis Kerangka Kerja Nasional Indonesia (KKNI) juga difasilitasi melalui UPT Pengembangan Teknologi dan Kejuruan (PTKK) yang berada di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi.
Namun, Aries menegaskan bahwa upaya ini tidak bisa berjalan optimal tanpa dukungan eksternal.
"Keterlibatan dunia usaha dan industri dinilai penting untuk mempercepat transfer pengetahuan, khususnya dalam bidang vokasi yang membutuhkan kesesuaian dengan kebutuhan pasar kerja," imbuhnya.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Batu turut memperkuat fondasi pendidikan di tingkat daerah. Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Alfi Nurhidayat, menekankan bahwa peningkatan kualitas SDM harus dimulai dari ekosistem terdekat, yakni sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.
"Tantangan pendidikan ke depan tidak hanya soal akses, tetapi juga kualitas lulusan yang mampu bersaing secara global tanpa kehilangan nilai karakter," pungkasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

