Hari Ibu 2025, Dinsos P3AKB Bondowoso Dorong Kemandirian dan Perlindungan Perempuan di Era Digital
Pemkab Bondowoso mendorong kemandirian perempuan di era digital 5.0 melalui pelatihan literasi, ekonomi kreatif, dan perlindungan dari kekerasan siber. Momentum Hari Ibu 2025 dimaknai sebagai kebangkitan intelektual perempuan dalam memperkuat ketahanan keluarga dan pembangunan daerah.
BONDOWOSO, SJP – Pemerintah Kabupaten Bondowoso terus mendorong kemandirian perempuan agar mampu beradaptasi dan berdaya di era digital 5.0. Momentum Hari Ibu 2025 dimaknai sebagai kebangkitan intelektual perempuan, khususnya dalam menghadapi tantangan ekonomi dan sosial berbasis teknologi.
Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Dinas Sosial P3AKB Kabupaten Bondowoso, Hafidhatullaily, menegaskan, peran perempuan, terutama ibu, kini tidak lagi terbatas pada pengasuhan fisik dalam keluarga, tetapi juga sebagai pengarah dan pengambil keputusan di tengah derasnya arus informasi digital.
“Hari Ibu di era digital harus kita maknai sebagai simbol kebangkitan intelektual perempuan. Kasih sayang ibu hari ini juga diwujudkan melalui kecakapan mengelola informasi, ekonomi, dan ketahanan keluarga di tengah tantangan global,” ujar Hafidhatullaily, Selasa (23/12/2025).
Menurutnya, digitalisasi menjadi peluang besar bagi perempuan untuk meningkatkan kesejahteraan. Teknologi berperan sebagai great equalizer atau penyetara, terutama bagi perempuan dengan keterbatasan mobilitas karena peran domestik.
“Melalui e-commerce dan ekonomi kreatif, perempuan tetap bisa produktif dari rumah. Ini menjadi jalan pintas menuju kemandirian ekonomi keluarga,” jelas Lely, saat dikonfirmasi suarajatimpost.com di ruang kerjanya.
Untuk mendukung hal tersebut, Pemkab Bondowoso terus memperkuat kapasitas sumber daya manusia perempuan melalui pelatihan terintegrasi, baik soft skills seperti kepemimpinan, maupun hard skills seperti digital marketing.
Program ini ditujukan untuk meningkatkan indeks pemberdayaan gender sekaligus menciptakan ekosistem ramah perempuan tanpa mengabaikan peran strategis ibu dalam ketahanan keluarga.
Sementara itu, dari aspek perlindungan, Rachmawardani, Kepala UPTD PPA Kabupaten Bondowoso menyoroti meningkatnya ancaman Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) di ruang siber. Bentuknya beragam, mulai dari cyber grooming, doxing, pelecehan di media sosial, hingga ancaman penyebaran foto pribadi tanpa persetujuan.
“Perempuan harus waspada, karena jejak digital bersifat abadi. Literasi tentang digital consent menjadi benteng utama perlindungan diri,” tegasnya.
UPTD PPA juga menyediakan mekanisme pelaporan cepat melalui aplikasi, hotline, hingga layanan panic button yang menjamin kerahasiaan identitas korban.
“Pendampingan yang diberikan bersifat holistik, mencakup bantuan hukum hingga pemulihan psikologis bagi korban perundungan siber,” jelas perempuan yang karib disapa Mawar ini.
Berdayakan Ekonomi Perempuan
Di sisi pemberdayaan ekonomi, Dinsos P3AKB Bondowoso turut mengoptimalkan program Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) dengan pendekatan literasi digital dan pemasaran daring. Program ini tidak lagi sekadar bantuan sosial, tetapi diarahkan pada penguatan kemandirian ekonomi berbasis teknologi.
Melalui pelatihan digital marketing, peserta PEKKA dibekali kemampuan mengemas produk, membuat deskripsi persuasif, menentukan harga kompetitif, hingga memanfaatkan media sosial sebagai etalase penjualan yang aktif 24 jam.
“Dengan penguasaan teknologi, para ibu kepala keluarga bisa menjangkau pasar lebih luas tanpa bergantung pada tengkulak. Ini terbukti meningkatkan pendapatan dan ketahanan ekonomi keluarga,” ungkap Nuril Qomariyah, salah satu staf Bidang PPPA didampingi Pujiarti.
Selain pelatihan, peserta PEKKA juga mendapatkan pendampingan berkelanjutan hingga berhasil melakukan penjualan pertama secara online, serta difasilitasi akses permodalan digital melalui skema pembiayaan mikro yang diawasi OJK.
Tak kalah penting, edukasi etika dan kreativitas bermedia sosial turut diberikan agar perempuan mampu membangun personal branding yang positif, sehat, dan bermakna. Perempuan didorong untuk saling mendukung melalui jejaring digital, bukan terjebak dalam persaingan tidak sehat.
“Berdaya di era digital tidak harus menjadi influencer besar. Cukup menjadi inspirasi di lingkungan terdekat melalui konten yang solutif dan edukatif,” pungkasnya.
Dengan sinergi pemberdayaan dan perlindungan ini, Pemkab Bondowoso optimistis perempuan mampu menjadi aktor utama dalam pembangunan keluarga dan masyarakat yang tangguh di era digital. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

