Gus Ipul Apresiasi Proses Sekolah Rakyat di Trenggalek, Target Tampung 1.000 Siswa dari Keluarga Rentan
Gus Ipul menegaskan bahwa Sekolah Rakyat merupakan upaya negara untuk menjangkau kelompok masyarakat paling rentan yang selama ini luput dari perhatian.
TRENGGALEK, SJP - Program Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto mulai menunjukkan progres signifikan. Kabupaten Trenggalek menjadi salah satu dari 104 titik pembangunan tahap pertama yang saat ini tengah berjalan.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul mengapresiasi komitmen Pemerintah Kabupaten Trenggalek dalam mempersiapkan program tersebut, mulai dari kesiapan lahan hingga pemenuhan berbagai persyaratan administratif.
“Progres Sekolah Rakyat bagus sekali. Sejak awal Pak Bupati datang ke Jakarta, beliau sudah menunjukkan minat dan semangat tinggi serta mengikuti seluruh proses. Ini tidak mudah karena harus menyiapkan lahan dan memenuhi syarat yang clear and clean, tetapi semua bisa dipenuhi,” ujar Gus Ipul, Minggu (29/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat di Trenggalek telah masuk dalam tahap pembangunan awal dan dirancang mampu menampung hingga 1.000 siswa dari jenjang SD, SMP, hingga SMA.
“Sekarang sudah menjadi salah satu dari 104 titik yang dibangun tahap pertama. Ini sudah dalam proses, termasuk Kabupaten Trenggalek. Sekolah ini nantinya bisa menampung sekitar 1.000 siswa SD, SMP, dan SMA, khusus untuk warga Kabupaten Trenggalek,” jelasnya.
Gus Ipul menegaskan bahwa Sekolah Rakyat merupakan upaya negara untuk menjangkau kelompok masyarakat paling rentan yang selama ini luput dari perhatian.
lah gagasan Presiden yang ingin memberikan kesempatan kepada mereka yang paling miskin, paling tidak mampu, yang belum terbawa dalam proses pembangunan, termasuk anak-anak yang tidak sekolah, putus sekolah, atau berpotensi putus sekolah,” katanya.
Ia menyoroti fenomena “invisible people” atau kelompok yang sering tidak terlihat dalam data maupun perhatian publik.
“Mereka sering disebut sebagai invisible people. Penderitaan mereka tidak kelihatan oleh kita. Bisa jadi mereka ada di sekitar kita, bahkan tetangga kita, tapi kita tidak melihatnya,” ungkapnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), lanjutnya, terdapat hampir 4 juta anak di Indonesia yang tidak bersekolah atau berisiko putus sekolah.
“Banyak anak-anak kita lulus SMP tidak melanjutkan ke SMA. Ini pekerjaan rumah kita semua yang ingin dijawab oleh Bapak Presiden,” tegas Gus Ipul.
Berbeda dengan sekolah pada umumnya, Sekolah Rakyat tidak membuka sistem pendaftaran. Sebaliknya, pemerintah menggunakan pendekatan penjangkauan aktif.
“Sekolah Rakyat itu tidak ada pendaftaran. Yang ada penjangkauan. Data dijangkau, dicek ke lapangan, jika benar, baru bisa masuk,” jelasnya.
Ia menambahkan, proses penjangkauan melibatkan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) bersama dinas terkait hingga pemerintah daerah.
“Setelah dicek dan sesuai, ditandatangani Pak Bupati, baru saya sahkan sebagai siswa Sekolah Rakyat,” imbuhnya.
Menurut Gus Ipul, saat ini terdapat 166 titik Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia dengan total sekitar 16.000 siswa.
Gus Ipul juga menyoroti perubahan positif yang dialami para siswa Sekolah Rakyat Trenggalek setelah mengikuti pendidikan selama beberapa bulan terakhir.
“Kalau sekarang sudah bisa menyanyi, lebih percaya diri, itu karena mereka telah melalui proses pendidikan sekitar 4-5 bulan. Sebelumnya mereka takut, punya masalah kesehatan, tapi sekarang terlihat lebih percaya diri,” ujarnya.
Gus Ipul juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut berperan aktif dalam menyukseskan program ini melalui tiga bentuk kontribusi.
“Kita semua harus bergerak. Pertama sedekah informasi, kedua sedekah partisipasi, dan ketiga sedekah rezeki. Ini mari kita lakukan bersama,” ajaknya.
Ia menekankan bahwa peran perangkat desa seperti kepala desa, RT, dan RW sangat penting dalam mengidentifikasi warga miskin ekstrem yang membutuhkan intervensi pendidikan.
Gus Ipul menegaskan komitmen pemerintah untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan inklusif di Sekolah Rakyat.
“Tidak boleh ada bullying, tidak boleh ada kekerasan fisik dan seksual, dan tidak boleh ada intoleransi di Sekolah Rakyat,” pungkasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

