Granostic Dirikan GPCC, Dorong Edukasi Penanganan Nyeri Tanpa Operasi Berbasis Komunitas
Berdasarkan data pasien yang datang ke Granostic, jenis nyeri yang paling sering dialami masyarakat adalah nyeri lutut dan nyeri punggung. Nyeri lutut umumnya disebabkan oleh proses degeneratif atau penuaan, sementara nyeri punggung memiliki penyebab yang lebih kompleks.
SURABAYA, SJP - Nyeri merupakan salah satu gangguan kesehatan yang paling umum dialami masyarakat. Namun di balik keluhan yang tampak sederhana itu, setiap nyeri sebenarnya memiliki penyebab yang berbeda-beda dan membutuhkan penanganan yang tepat oleh dokter spesialis.
Dengan pendekatan medis yang tepat, sebagian besar kasus nyeri bahkan tidak perlu ditangani dengan operasi. Sekitar 80 persen kasus nyeri dapat diatasi melalui terapi intervensi yang menargetkan sumber nyeri secara langsung.
Kesadaran itulah yang mendorong Granostic Medical Center memperkenalkan Granostic Pain Clinic Community (GPCC), sebuah komunitas yang ditujukan sebagai ruang temu antara pasien, dokter, dan masyarakat untuk meningkatkan pemahaman mengenai penanganan nyeri.
Komunitas tersebut resmi diperkenalkan dalam acara silaturahmi dan peresmian yang digelar di Surabaya, sekaligus menjadi momentum untuk memperkenalkan layanan klinik nyeri yang dikembangkan oleh Granostic Medical Center kepada masyarakat luas.
Dokter Anestesi subspesialis Intervensi Nyeri, dr. Ratri Dwi Indriani SpAn-TI, FIP., FIPP, menjelaskan bahwa di Granostic dirinya memberikan layanan intervensi nyeri yang berfokus pada penanganan sumber rasa sakit, bukan sekadar meredakan gejala.
"Kami di klinik Granostic ini melakukan pelayanan intervensi nyeri," kata dr. Ratri saat dikonfirmasi pada Minggu (8/3/2026).
Menurutnya, salah satu tujuan utama pendirian komunitas itu adalah untuk memperkenalkan konsep klinik nyeri kepada masyarakat yang selama ini masih jarang dikenal. Selama ini layanan pain clinic umumnya hanya tersedia di rumah sakit dan menjadi bagian dari unit tertentu, sehingga akses masyarakat terhadap layanan tersebut masih terbatas.
"Selama ini klinik nyeri itu adanya di rumah sakit, selalu menempel di rumah sakit. Tapi di Granostic ini benar-benar berada di klinik sendiri atau mandiri," ujarnya.
Ia menyebut keberadaan layanan pain clinic di klinik mandiri menjadi terobosan baru di Surabaya, karena masyarakat dapat mengakses layanan penanganan nyeri dengan lebih mudah tanpa harus melalui prosedur panjang seperti di rumah sakit.
“Kalau orang datang dengan nyeri ke klinik mungkin lebih cepat, bisa memotong antrean dan secara administrasi juga tidak seribet di rumah sakit,” jelasnya.
Ke depan, Granostic tidak hanya menyediakan layanan medis, tetapi juga aktif melakukan edukasi kesehatan kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan sosialisasi. Edukasi tersebut dilakukan dengan menyasar berbagai kelompok komunitas.
“Selain pelayanan nyeri setiap hari, kami juga melakukan edukasi dan sosialisasi ke beberapa komunitas, seperti komunitas lawyer, ibu-ibu pejabat, dan komunitas olahraga,” kata dr Ratri.
Melalui pembentukan GPCC, Granostic berharap dapat memperluas jangkauan edukasi sekaligus membantu masyarakat yang mengalami nyeri kronis namun belum mengetahui harus mencari penanganan ke mana.
“Harapannya kalau komunitas ini terbangun, masyarakat yang mengalami nyeri dan tidak tahu harus ke mana bisa mengetahui bahwa ada klinik nyeri yang bisa membantu,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa intervensi nyeri berperan sebagai jembatan dalam penanganan pasien yang tidak membaik dengan obat-obatan, namun juga belum membutuhkan tindakan operasi.
“Intervensi nyeri ini menjembatani antara pengobatan dengan obat dan operasi,” katanya.
Menurutnya, banyak pasien yang selama ini mengonsumsi obat anti nyeri dalam jangka panjang tanpa mendapatkan perbaikan yang signifikan. Padahal, penyebab nyeri perlu dicari secara spesifik agar terapi yang diberikan tepat sasaran.
“Nyeri itu pasti ada sumbernya, ada sebabnya,” ujar dr. Ratri.
Ia juga menambahkan bahwa cabang ilmu manajemen nyeri sebenarnya masih tergolong baru berkembang di Indonesia, sehingga belum semua dokter memiliki spesialisasi di bidang tersebut.
“Ilmu manajemen atau intervensi nyeri ini baru berkembang sekitar 10 tahun terakhir di Indonesia,” jelasnya.
Secara medis, nyeri kronis biasanya ditandai dengan keluhan yang berlangsung lebih dari tiga bulan dan mulai mengganggu kualitas hidup seseorang. Pada kondisi tersebut, pasien disarankan untuk mencari penanganan medis yang lebih spesifik.
“Kalau nyeri tidak sembuh dalam tiga bulan dan kualitas hidup mulai menurun, sebaiknya mencari dokter yang khusus menangani nyeri,” katanya.
Selain faktor cedera atau gangguan fisik, dr. Ratri juga menjelaskan bahwa stres berkepanjangan dapat memicu timbulnya nyeri pada tubuh. Kondisi stres dapat menyebabkan otot berkontraksi secara terus-menerus sehingga menjepit saraf dan menimbulkan rasa sakit.
“Kalau stres berkepanjangan, otot bisa terus berkontraksi. Di dalam otot ada saraf dan pembuluh darah, kalau terjepit bisa menimbulkan sindrom nyeri,” ujarnya.
Berdasarkan data pasien yang datang ke Granostic, jenis nyeri yang paling sering dialami masyarakat adalah nyeri lutut dan nyeri punggung. Nyeri lutut umumnya disebabkan oleh proses degeneratif atau penuaan, sementara nyeri punggung memiliki penyebab yang lebih kompleks.
“Nyeri terbanyak itu nyeri lutut karena proses degeneratif, lalu nyeri punggung yang penyebabnya bisa bermacam-macam,” kata dr Ratri.
Ia menambahkan bahwa nyeri punggung tidak selalu disebabkan oleh saraf terjepit, melainkan juga bisa berasal dari peradangan sendi, spasme otot, hingga robekan ligamen atau tendon.
Karena itu, pendekatan penanganan nyeri saat ini tidak lagi langsung mengarah pada operasi seperti yang sering dilakukan di masa lalu.
“Kalau dulu nyeri punggung sering langsung diarahkan ke operasi, sekarang tidak,” ujarnya.
Berdasarkan pengalaman klinis yang mereka tangani, hanya sebagian kecil pasien yang benar-benar membutuhkan operasi.
“Pasien yang benar-benar membutuhkan operasi itu tidak sampai 20 persen, sebagian besar bisa ditangani dengan intervensi nyeri,” jelasnya.
Selain pengobatan, Granostic juga mendorong masyarakat untuk melakukan pencegahan sejak dini agar terhindar dari nyeri kronis. Salah satu penyebab nyeri yang paling sering ditemukan adalah cedera berulang akibat posisi tubuh yang tidak ergonomis dalam aktivitas sehari-hari.
“Nyeri banyak terjadi karena posisi tubuh yang tidak benar, seperti duduk atau mengangkat barang yang tidak ergonomis,” katanya.
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah proses degeneratif akibat penuaan. Karena itu, edukasi mengenai cara menjaga kesehatan sendi dan otot menjadi bagian penting dari kegiatan yang dilakukan Granostic.
Melalui GPCC, Granostic berharap dapat memperluas edukasi sekaligus membangun komunitas yang mendukung penanganan nyeri secara lebih komprehensif, tidak hanya dari sisi medis tetapi juga dari sisi kesadaran masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, komunitas ini diharapkan dapat menjadi ruang kolaborasi antara dokter, pasien, dan masyarakat dalam meningkatkan kualitas hidup mereka yang selama ini hidup dengan nyeri kronis. (*)
Editor: Danu
What's Your Reaction?

