Gelombang Pensiun Guru di Kota Batu Berpotensi Dongkrak Beban Mengajar, Kualitas Pembelajaran Terancam
Ketika jumlah guru terus menyusut, sementara kebutuhan pembelajaran tetap harus dipenuhi dan tanpa kebijakan rekrutmen tenaga pendidik yang lebih agresif, beban guru yang tersisa berpotensi semakin berat yang berujung kualitas layanan pendidikan bisa terganggu
KOTA BATU, SJP - Kota Batu memasuki fase kritis terkait kebutuhan tenaga pendidik. Puluhan guru di jenjang SD dan SMP negeri dipastikan pensiun pada 2025, sementara penambahan formasi ASN tidak mampu mengimbangi laju kekosongan. Kondisi ini membuat beban mengajar guru yang tersisa semakin berat dan berpotensi memengaruhi kualitas pembelajaran di sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu M. Chori pada Jumat (28/11/2025) menerangkan, sebanyak 52 guru akan pensiun tahun depan, naik dari 49 guru yang purna tugas tahun ini. Pada saat yang sama, angka kekurangan guru mencapai 63 orang, terdiri dari 47 guru SMP dan 16 guru SD.
"Lonjakan pensiun inilah yang menjadi penyumbang terbesar kekosongan guru. Tahun depan yang pensiun sudah terdata 17 orang, dan tren ini terus naik,” ujarnya.
Untuk mengatasi kekosongan tersebut, Dindik menerapkan skema merangkap mengajar lintas sekolah. Guru dengan jumlah jam mengajar yang belum memenuhi standar akan ditugaskan ke sekolah lain yang membutuhkan.
Pada praktiknya, guru dari sekolah kecil seperti SMPN Satap Gunungsari 04 dan Pesanggrahan 2 kerap harus berpindah ke beberapa sekolah dalam satu pekan.
Seperti skema serupa diterapkan di SMPN 7 Batu, sekolah baru yang belum memiliki komposisi tenaga pendidik lengkap. Guru-guru dari sekolah lain ditarik untuk menutup kekosongan mapel tertentu.
“Kami memaksimalkan guru yang ada. Satu guru idealnya 24 jam dan secara aturan bisa mengajar sampai 37 jam,” imbuhnya.
Meski dianggap solusi jangka pendek, kebijakan ini membuat sebagian guru menangani beban mengajar jauh di atas rata-rata, terutama di mapel yang kekurangan pengajar. Kondisi itu dikhawatirkan menurunkan fokus, kualitas pembelajaran, serta intensitas pendampingan siswa.
Sementara itu di jenjang SD, situasinya tidak berbeda jauh dimana kekurangan 16 guru saat ini sebagian besar terjadi karena guru kelas merangkap sebagai kepala sekolah yang akan purna tugas.
"Tahun ini SD mencatat 34 guru yang pensiun, dan tahun depan jumlahnya kembali naik menjadi 35 guru. Ada juga potensi begitu kepala sekolah pensiun, posisi guru kelas ikut kosong, selain itu sebagian guru juga berpotensi meninggalkan kelas jika lolos seleksi calon kepala sekolah," tandasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

