Gagal Cair! Empat Bocah di Bojonegoro Coba Tukar Kerikil dengan Uang di Toko Emas
Para bocah ini mengaku mendapatkan batu mulia tersebut dari pemberian seseorang. Tanpa membuang waktu untuk riset pasar lebih dalam, mereka langsung menuju toko emas terdekat dengan harapan pulang membawa modal jajan yang melimpah.
BOJONEGORO, SJP — Dunia bisnis Kabupaten Bojonegoro mendadak gempar, bukan karena fluktuasi harga logam mulia, melainkan akibat aksi ekspansi pasar yang dilakukan oleh empat investor cilik.
Dengan modal kepercayaan diri setingkat menteri, keempat bocah ini mendatangi sebuah toko emas di Jalan Trunojoyo Nomor 39 pada Sabtu (31/1/2026) siang, demi menjual bongkahan batu yang mereka yakini sebagai giok bernilai tinggi.
Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 13.00 WIB ini sontak menjadi tontonan publik dan viral di media sosial.
Dalam video yang beredar, tampak empat bocah tersebut sangat meyakinkan saat menyodorkan komoditas dagangannya kepada penjaga toko.
Kepolosan mereka dalam bernegosiasi membuat warganet menyematkan julukan kehormatan sebagai CEO Cilik dan Investor Masa Depan.
Hingga Senin (2/2/2026), video aksi tersebut telah meraup puluhan ribu tanda suka. Warganet pun ramai memberikan apresiasi atas keberanian mereka dalam melakukan market testing sejak dini, meski barang yang ditawarkan jauh dari standar perhiasan.
Penanggung jawab toko emas setempat, Tri Puspitasari, mengonfirmasi kedatangan para bocil penjual bongkahan batu tersebut.
Menurutnya, keempat bocah itu datang tanpa janji temu dan langsung menyodorkan aset mereka untuk diuangkan.
"Benar, mereka datang secara tiba-tiba dan sangat yakin bahwa batu yang mereka bawa adalah batu giok," ujar Tri saat dikonfirmasi, Senin (2/2/2026).
Secara visual, batu yang dibawa memang cukup menipu mata awam. Batu tersebut berukuran lumayan besar dengan gradasi warna putih kristal dan kecokelatan. Namun, setelah dilakukan uji laboratorium sederhana dan pemeriksaan kasat mata oleh ahlinya, realita berkata lain.
"Setelah kami lakukan pengecekan secara profesional, ternyata itu hanya batu biasa yang menyerupai giok. Jelas bukan barang yang bisa masuk etalase kami," ucap Tri sembari menahan tawa.
Para bocah ini mengaku mendapatkan batu mulia tersebut dari pemberian seseorang. Tanpa membuang waktu untuk riset pasar lebih dalam, mereka langsung menuju toko emas terdekat dengan harapan pulang membawa modal jajan yang melimpah.
Meski transaksi gagal total dan divestasi batu tersebut ditolak mentah-mentah, pihak toko tetap memberikan pelayanan prima.
Petugas memberikan penjelasan edukatif secara persuasif agar para CEO cilik ini tidak berkecil hati dan tetap semangat mencari peluang bisnis lain, tentunya yang bukan berasal dari kerikil jalanan. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

