Mengenal Kesenian 'Tari Ojung' di Bondowoso: Ritual dan Simbol Perlawanan kepada Penjajah
Darah yang keluar akibat sabetan rotan dari punggung dua orang penari yang sedang melakukan Tari Ojung dipercaya sebagai penanda bakal segera turun hujan
BONDOWOSO, SJP - Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan budaya, adat istiadat, tradisi, dan kesenian yang diwariskan oleh nenek moyang.
Satu kesenian yang hingga kini masih terus dilestarikan yaitu Tari Ojung. Kesenian tradisional ini merupakan perpaduan seni bela diri, ketangkasan dan kental dengan nilai keagamaan.
Tari Ojung berasal dari pulau Madura. Kesenian ini dapat ditemukan di wilayah Tapal Kuda. Seperti Kabupaten Bondowoso, Situbondo, Jember, Lumajang dan Probolinggo.
Tidak hanya di Tapal Kuda, seni Tari Ojung juga dapat ditemukan di daerah lain yang di dalamnya banyak dihuni oleh warga suku Madura.
Tari Ojung merupakan seni bertarung yang dilakukan oleh dua orang pria yang sama-sama bertelanjang dada. Mereka saling memukul menggunakan cambuk rotan.
Tak ada istilah menang atau kalah dalam kesenian ini. Sebab, kesenian tradisional ini adalah ritual yang dipercaya bisa mendatangkan hujan saat musim kemarau.
Darah yang keluar dari punggung dua orang yang sedang melakukan Tari Ojung akibat sabetan rotan itu dipercaya sebagai penanda bakal segera turun hujan.
Tari Ojung juga menjadi ritual untuk menolak bala dan menghindari mara bahaya. Seperti bencana alam, berbagai macam penyakit dan kematian hewan ternak.
Tari ojung juga dipercaya sebagai ritual agar terhindar dari peristiwa carok. Kemudian juga dipercaya sebagai ritual untuk menghindari gagal panen.
Di Kabupaten Bondowoso, kesenian Tari Ojung dapat dinikmati sebagai bagian dari kesenian 'Ronteg Singo Ulung.' Bahkan, berdiri sebagai tarian yang mandiri.
Kepala Desa (Kades) Blimbing, Samin mengatakan, Tari Ojung merupakan salah satu kesenian dari bentuk perlawanan kepada para penjajah.
"Menurut kisahnya, itu yang dilakukan oleh nenek moyang di Desa Blimbing saat melawan penjajah," jelasnya usai menggelar 'Ghedisah,’ Jumat (14/2/2025).
Dirinya berharap, semua kesenian peninggalan nenek moyang agar jangan sampai dihilangkan. Karena dinilai memiliki makna yang sangat mendalam.
"Ini patut dilestarikan. Sehingga anak cucu kita mengerti tentang perjuangan leluhur melawan penjajah," pungkasnya. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

