ESCape: Robot dari Rongsokan, Pameran Seni Upcycle di Wisma Jerman
Robot setinggi hampir satu meter berdiri gagah di Wisma Jerman, tubuhnya tersusun dari botol oli, mouse rusak, dan kabel bekas membuktikan limbah bisa “escape” menjadi karya seni futuristik bernilai.
SURABAYA, SJP - Bayangkan sebuah robot setinggi hampir satu meter berdiri gagah di tengah ruangan. Sekilas ia tampak seperti mainan mahal di etalase toko koleksi hobi. Padahal, tubuhnya tersusun dari botol oli bekas, mouse komputer rusak, kabel-kabel kecil, hingga wadah tip-ex yang nyaris dibuang ke tempat sampah.
Karya itulah yang tersaji dalam pameran bertajuk “ESCape” oleh Henry Siswanto dan Rachmad Priyandoko di Wisma Jerman, Surabaya. Pameran yang dibuka sejak 11 Februari 2026 itu menghadirkan sekitar 30 karya, terdiri dari robot tiga dimensi serta karya dua dimensi berupa sketsa dan lukisan kanvas.
Meski desain robotnya memanjang mata, khususnya bagi para pecinta model-kit dan figur aksi, fokus utama pameran itu bukan sekadar bentuk robotnya, melainkan bagaimana barang-barang tak terpakai dibebaskan dari fungsi lamanya dan diubah menjadi karya seni penuh karakter.
Menghidupkan Limbah Jadi Karya
Seluruh karya 3D dalam pameran tersebut dibuat dengan metode upcycled atau scrap built. Tidak ada bahan baru yang digunakan. Henry dan Rachmad bahkan berburu material hingga ke tempat rongsokan.
Mainan pistol rusak, botol parfum kosong, komponen printer, hingga kabel kecil dibongkar, dipotong, lalu dirakit ulang menjadi figur robot dengan detail mekanis yang rumit. Beberapa di antaranya bahkan bisa digerakkan, rodanya berputar dan tangannya fleksibel.
“Semangat yang kita bawa dalam pameran ini sebenarnya sederhana, yakni selama suatu hal atau barang itu bisa kita manfaatkan, kenapa harus dibuang?” ucap Henry saat dikonfirmasi pada Sabtu (14/2/2026).
Ukuran robot yang dipamerkan pun beragam, dari yang kecil hingga yang bobotnya mendekati 20 kilogram. Ketika dipajang di Ruang Halle Wisma Jerman, karya-karya itu tampak kokoh dan futuristik, tak lagi menyisakan kesan sebagai limbah.
ESCape: Bebas Dari Rasa Capek
Judul pameran “ESCape” menyimpan makna ganda. Rachmad menjelaskan, ide itu lahir dari obrolan ringan bersama istrinya saat merasa lelah atau "capek" dengan pekerjaan sehari-hari dan keinginan untuk merasakan kebebasan.
“Escape kan artinya keluar. Melepaskan diri dari rasa lelah, dari kepentingan pekerjaan.”
Ia juga memaknai ESCape sebagai permainan kata, yang mana es dalam ESCape diwujudkan sebagai minuman yang menyegarkan saat capek atau lelah, tidak hanya soal pekerjaan tetapi juga lelah karena harus menyusun robot sedetail itu.
"ESCape. Es-nya segar plus capek," kelakarnya.
Lebih jauh, tema tersebut merepresentasikan proses kreatif mereka membebaskan benda bekas dari bentuk awalnya menjadi entitas baru bernama karya seni. Limbah yang sebelumnya tak bernilai, “lepas” dari nasibnya sebagai sampah.
Nostalgia dan Imajinasi Masa Kecil
Bentuk robot-robot itu terinspirasi dari imajinasi masa kecil generasi 80–90-an, yang akrab dengan tontonan seperti Voltron dan serial Power Rangers. Dulu, keinginan memiliki mainan robot sering terbentur kondisi ekonomi.
"Dulu pengen punya, tapi orang tua nggak cukup duitnya. Sekarang ya bikin sendiri," ungkapnya
Nostalgia itu kini menjelma menjadi karya nyata. Robot-robot yang dulu hanya ada dalam layar televisi, kini berdiri sebagai hasil kreativitas dari barang-barang terbuang.
Selain karya tiga dimensi, pameran tersebut juga menghadirkan lukisan dan sketsa di atas kanvas. Karya 2D tersebut melengkapi eksplorasi visual kedua seniman.
"Biar nggak monoton. Kita juga mau nunjukin punya skill sketsa dan merakit," ucap Rachmad.
Dengan demikian, publik tidak hanya melihat kepiawaian merakit benda bekas, tetapi juga kemampuan artistik dalam medium dua dimensi.
Pesan Lingkungan dari Wisma Jerman
Direktur Wisma Jerman, Mike Neuber, menyambut positif pameran tersebut. Ia menilai karya Henry dan Rachmad bukan sekadar karya visual, tetapi juga bukti nyata bahwa barang bekas masih memiliki nilai dan masa depan.
“Ya impresi saya ini karya-karya yang luar biasa menurut saya, karena bisa merubah sampah untuk tidak menjadi menjadi limbah, tetapi menjadi karya seni 3D yang unik dan penuh karakter," ujar Mike.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru membuang barang yang dianggap tidak berguna, karena masih ada kemungkinan untuk dimanfaatkan kembali.
"Jadi sesuatu yang mungkin dalam mata kita sudah tidak berguna, tidak perlu langsung dibuang. Maksudnya karena kemungkinan besar masih ada masa depan untuk barang atau apa tersebut," tuturnya.
Mike menambahkan, alasan Wisma Jerman mendukung pameran itu juga berkaitan erat dengan budaya dan karakter masyarakat Jerman yang sangat menjunjung tinggi prinsip daur ulang dan keberlanjutan lingkungan.
"Di Jerman memang isu lingkungan menjadi perhatian besar, dan sikap berkelanjutan di masyarakatnya itu sangat tinggi, sangat penting di Jerman. Dan itu setara dengan karakter masyarakat Jerman," tukas Mike.
Ia berharap pameran seperti “ESCape” dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk melihat limbah dari sudut pandang yang berbeda, bukan sebagai akhir, melainkan sebagai awal dari kemungkinan baru.
Di tengah meningkatnya produksi sampah, “ESCape” hadir sebagai pengingat bahwa kreativitas dapat menjadi jalan keluar. Limbah bukan akhir dari sebuah benda, ia bisa menjadi awal dari sebuah karya. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

