Mahasiswa UK Petra Bongkar ‘Titik Buta’ Surabaya Lewat Film Dokumenter
Tiga film yang ditayangkan masing-masing mengangkat isu berbeda, namun tetap dalam koridor “titik buta” Kota Surabaya, yakni ragam isu konflik sosial yang belum banyak diketahui bahkan oleh warga Kota Pahlawan itu sendiri.
SURABAYA, SJP - Film selama ini kerap dipahami sebagai medium hiburan, penuh cerita fiksi, drama, hingga visual memikat untuk mengajak penonton sejenak lepas dari realitas. Namun di balik gemerlapnya, ada satu genre yang justru melakukan hal sebaliknya, ia adalah dokumenter.
Alih-alih menghibur dengan imajinasi atau animasi yang memanjakan mata, dokumenter mengajak publik menatap kenyataan, bahkan yang paling tidak nyaman sekalipun, dengan tujuan untuk membedah realitas, menguji nurani, dan membuka mata publik terhadap persoalan yang luput dari sorotan.
Semangat itulah yang diusung mahasiswa Creative Media Communication angkatan 2023 Universitas Kristen Petra (PCU) lewat screening film dokumenter karya para mahasiswa dengan mengangkat tajuk “Titik Buta” di CGV Maspion Square, Surabaya.
“Titik Buta”: Yang Tak Terlihat, Tapi Nyata
Dosen pengampu mata kuliah Produksi Film Dokumenter UK Petra, Daniel Budiana, menjelaskan bahwa tajuk “Titik Buta” bukan sekadar tema, melainkan cara pandang, sekaligus menjadi benang merah dari seluruh karya yang ditayangkan.
"Teman-teman (mahasiswa) kali ini memang lebih banyak memotret ke arah konflik sosial. Sekaligus ada banyak hal yang belum pernah kita ketahui dengan detail, tapi itu sebetulnya ada di sekitar kita," ucap Daniel, saat dikonfirmasi pada Sabtu (14/2/2026).
Sejak 2021, pasca pandemi, program screening film rutin digelar setiap tahun di bioskop komersial. Tujuannya bukan hanya memamerkan karya, tetapi memberi mahasiswa pengalaman autentik dalam ekosistem industri film, dari produksi hingga bertemu langsung dengan audiens.
"Jadi ini sudah yang ke-lima (5) kalinya kami rutin membawa karya mahasiswa ke layar bioskop komersial agar bisa dinikmati khalayak luas sekaligus memberikan pengalaman kepada para mahasiswa," ujar Daniel.
Tahun ini, tiga film dipilih setelah melalui proses pitching ide, riset lapangan intensif, produksi, hingga pascaproduksi selama empat bulan, dari September hingga Desember 2025. Setiap film digarap oleh enam hingga tujuh mahasiswa dan dikawal penuh oleh dosen.
"Tidak bisa kalau kita bikin film hanya filmnya jadi. Tapi perlu ada diskusi. Karenanya, kami berharap setiap orang yang menonton memberikan feedback kepada filmmaker-nya supaya film mereka lebih berdampak," tegas Daniel.
Diskusi usai pemutaran menjadi ruang evaluasi agar film tidak berhenti sebagai tugas akademik, melainkan tumbuh sebagai karya yang berdampak. Daniel menegaskan, proses screening adalah bagian penting dalam membangun budaya kritik dan evaluasi
Tiga Isu, Satu Benang Merah
Tiga film yang ditayangkan masing-masing mengangkat isu berbeda, namun tetap dalam koridor “titik buta” Kota Surabaya, yakni ragam isu konflik sosial yang belum banyak diketahui bahkan oleh warga Kota Pahlawan itu sendiri.
“All You Can’t Eat” karya garapan Whitnie Odelyn Siauw dan tim, film pertama yang tayang di "titik buta" itu membongkar ironi antara tingginya angka food waste dengan masih banyaknya masyarakat yang kesulitan mengakses makanan layak, dengan lokasi TPA Benowo, Surabaya menjadi sorotan utama.
“Ini Belum Selesai” karya Shanelle Keisha Susanto dan tim menyoroti sengketa tanah warga Tambak Bayan dengan pihak swasta yang telah berlangsung sejak 2009, lengkap dengan bagaimana warga kampung pecinan tertua di Surabaya menghadapi konflik hukum itu dengan jalur kesenian sebagai napas perlawanan sosial mereka.
Sementara “Rail Estate” buah karya Nathalie Celine Gunawan dan tim merekam kehidupan warga Dupak Magersari yang terdampak fenomena urban heat island (UHI), memotret bagaimana panas ekstrem dan minim ruang hijau berdampak pada kesehatan masyarakat salah satu kampung pinggir rel di Surabaya.
Ketiganya menegaskan bahwa persoalan sosial tidak selalu hadir dalam bentuk dramatis, melainkan tersembunyi dalam keseharian. Melalui pemutaran itu, mahasiswa berharap karya mereka dapat memberikan perspektif baru mengenai Surabaya sebagai kota dengan persoalan nyata yang dialami warganya.
"Lebih dari sekadar tontonan, kehadiran film-film ini diharapkan mampu mengajak masyarakat untuk lebih peka dan memberikan perhatian terhadap isu-isu sosial di sekitar yang selama ini jarang terdengar atau luput dari perhatian kolektif," kata Daniel.
Dari Kampus ke Festival Internasional
Tak berhenti di layar bioskop Surabaya, seluruh film dalam proyek “Titik Buta” didaftarkan ke berbagai festival nasional dan internasional. Karena itu, proses publikasi luas akan ditahan sekitar dua tahun demi kepentingan festival.
"Kami biasanya hold dulu film itu dua tahun untuk berpartisipasi di beberapa international film festival," terang Daniel.
Strategi tersebut dirancang agar mahasiswa memiliki portofolio kuat sebelum lulus. Daniel bahkan mengungkapkan bahwa beberapa alumni UK Petra, khususnya mereka yang mengikuti screening film edisi sebelumnya bahkan telah menembus industri televisi dan perfilman nasional.
"Harapannya sampai lulus itu jadi satu pencapaian sendiri dan bekal mereka masuk dunia industri," imbuhnya.
Di tengah arus industri perfilman yang semakin kompetitif dan cenderung berorientasi komersial, “Titik Buta” menghadirkan wajah lain sinema: sebagai medium tanggung jawab sosial. Daniel menekankan pentingnya kepekaan dalam produksi konten.
"Kontennya jangan cuma berburu viralitas, tetapi harus tetap bertanggung jawab," tandas Daniel.
Apresiasi Pemerintah
Ikut hadir dalam acara screening film, Kepala Bidang Pemasaran dan Kelembagaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Disbudpar Jatim, Ali Afandi, mengapresiasi keberanian mahasiswa dalam mengangkat isu-isu yang dekat namun sering terabaikan.
"Film yang diangkat ini sangat luar biasa dan itu merupakan kejadian-kejadian yang ada di sekitar kita," ujar Ali.
Ia mengaku terkejut mengetahui adanya beragam permasalahan sosial yang sampai saat ini kurang mendapat sorotan. Ia menegaskan bahwa kegiatan kali ini menjadi bukti bahwa dunia kreatif bisa menjadi ruang informasi dan kritik dengan wujud yang lebih elegan.
"Itu menjadi catatan bahwa ada sosial, ada lingkungan, ada banyak hal yang terkait dengan kehidupan kita," katanya.
Menurut Ali, momentum ini dapat menjadi dorongan bagi pemerintah daerah untuk mengembangkan kompetisi film dokumenter, melengkapi program film pendek yang selama ini telah berjalan, sekaligus menyelesaikan permasalahan yang diangkat dalam film-film tersebut.
Melalui forum yang dihadiri sekitar 112 penonton dari beragam kalangan tersebut, mahasiswa tidak hanya belajar membuat film, tetapi juga belajar berdialog dengan publik, menerima kritik, dan memahami dampak karya mereka.
“Titik Buta” akhirnya bukan hanya tajuk acara, melainkan sikap. Sebuah ajakan agar generasi muda perfilman tidak terlena pada gemerlap industri, tetapi tetap menyalakan lampu pada sudut-sudut kota yang selama ini gelap dan terabaikan. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

