Dulu Ramai Diserbu Pemudik, Kini Pusat Oleh-Oleh Ketapang Probolinggo Sepi Terdampak Tol Paspro
Dulu jadi langganan pemudik, kini pusat oleh-oleh Ketapang Probolinggo mulai sepi. Dampak tol membuat banyak pelaku usaha kehilangan pembeli. Harapan kini tertuju pada solusi agar roda ekonomi kembali berputar.
PROBOLINGGO, SJP – Di tengah perubahan pola perjalanan mudik yang semakin cepat dan modern, geliat ekonomi pelaku usaha di sentra oleh-oleh Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, justru mengalami penurunan. Kehadiran jalan tol membuat arus kendaraan tidak lagi melintas di jalur lama, sehingga berdampak langsung pada penjualan para pedagang.
Dahulu, kawasan ini dikenal sebagai salah satu titik favorit pemudik untuk berburu buah tangan. Banyaknya pengunjung bahkan sempat membuat jalur Pantura yang menghubungkan Pasuruan, Probolinggo, Lumajang hingga Situbondo kerap mengalami kemacetan akibat kendaraan yang berhenti di sepanjang area pusat oleh-oleh.
Namun kondisi tersebut kini tinggal kenangan. Dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah beroperasinya Tol Pasuruan–Probolinggo (Paspro), omzet para pedagang mengalami penurunan signifikan. Pada momen arus mudik dan balik Lebaran 2026, situasi serupa kembali terjadi. Aktivitas jual beli terlihat lesu, dengan hanya sedikit pemudik yang singgah.
Lukman (61), seorang pedagang asal Madiun yang telah lama menetap di Ketapang, mengungkapkan bahwa perubahan ini sangat terasa. Ia menyebutkan bahwa sejak adanya jalan tol, jumlah pembeli terus berkurang karena pemudik memilih jalur yang lebih cepat tanpa harus keluar ke kota.
“Kondisi penurunan pembeli ini sudah dirasakan sejak ada tol, namun semakin terasa sejak pandemi Covid-19. Bahkan, kondisi sepi ini sama seperti Lebaran tahun 2025, ada pembeli tetapi hanya beberapa saja,” ujarnya, Selasa (2/3/2026).
Ia menambahkan, pada masa kejayaan dulu, kios-kios oleh-oleh bisa beroperasi tanpa henti selama 24 jam. Tingginya jumlah pengunjung membuat aktivitas perdagangan berlangsung hampir sepanjang hari. Namun kini, banyak kios memilih tutup lebih awal sekira pukul 21.00 WIB karena minimnya pembeli.
“Saya sebagai pedagang berharap ada upaya dari pemerintah untuk kembali meramaikan pusat oleh-oleh yang beberapa tahun lalu sempat menjadi primadona pemudik,” imbuhnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Sumarni (40), pedagang setempat yang turut merasakan dampak penurunan tersebut. Ia mengaku penjualan di kiosnya menurun drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, pada H-3 Lebaran yang biasanya ramai, kini hampir tidak ada pembeli yang datang.
“Meskipun kios saya buka 24 jam, pembeli tetap sepi karena adanya tol. Pemudik lebih memilih lewat sana karena lebih cepat. Meski begitu, masih ada satu-dua pelanggan tetap yang mampir saat mudik Lebaran,” katanya.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana perubahan infrastruktur transportasi membawa dampak besar terhadap roda ekonomi lokal. Tanpa adanya inovasi atau strategi baru, para pelaku usaha di kawasan tersebut berisiko terus mengalami penurunan pendapatan di masa mendatang. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

