Dugaan Keracunan MBG di Bondowoso, Mitra SPPG Sebut Susu Kedelai Didatangkan di Luar Prosedur

Kasus keracunan massal siswa di Sumberwringin diduga berasal dari susu kedelai yang dibeli tanpa prosedur dan tanpa sepengetahuan mitra. Mitra SPPG, Angwar, menegaskan minuman berasal dari luar dapur dan seluruh siswa kini membaik.

04 Dec 2025 - 20:30
Dugaan Keracunan MBG di Bondowoso, Mitra SPPG Sebut Susu Kedelai Didatangkan di Luar Prosedur
Mitra SPPG Al Hidayah 3 bersama Forkopincam Sumberwringin saat menjenguk siswa korban dugaan keracunan susu kedelai yang disajikan dalam menu MBG (Foto : Rizqi/SJP)

BONDOWOSO, SJP - Keracunan massal Makan Bergizi Gratis di Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso yang diduga disebabkan oleh susu kedelai milik salah satu UMKM setempat, mulai menemukan titik terang. 

Mitra SPPG Al Hidayah 3 Reces Rejogung, Kecamatan Sumberwringin, Angwar, mengungkap adanya miskomunikasi antar-petugas yang menyebabkan susu kedelai masuk ke dapur, tanpa sepengetahuan dan tanpa konfirmasi resmi, sebelum akhirnya dikonsumsi siswa yang kemudian mengalami gejala keracunan

Angwar, akhirnya memberikan penjelasan atas kasus dugaan keracunan massal yang menimpa 77 siswa di wilayah tersebut. 

Kepada suarajatimpost.com, Kamis (4/12/2025), ia menegaskan, susu kedelai yang diminum para siswa dibeli tanpa sepengetahuan mitra dan tidak melalui prosedur pembelanjaan yang seharusnya.

“Sangat benar sekali. Susu itu dibeli tanpa memberitahu mitra, tanpa konfirmasi. Biasanya ada konfirmasi dulu ke bagian belanja. Tapi kemarin tahu-tahunya susu kedelai sudah datang dan masuk ke dapur,” ujarnya.

Menurutnya, susu kedelai tersebut langsung diminum sejumlah siswa tanpa didahului makanan yang cukup, sehingga mereka mengalami reaksi muntah dalam waktu singkat.

“Saya tanya ke beberapa pasien, mereka bilang sudah makan atau belum. Kebanyakan jawab langsung minum susu lalu muntah-muntah. Ada yang minum enam sampai delapan botol,” ungkapnya.

Angwar menegaskan, dalam juknis operasional, mitra seharusnya bertugas melakukan pembelanjaan sekaligus pengawasan kualitas. Namun pada insiden ini, peran tersebut bergeser tanpa pemberitahuan.

“Ini kemarin malah kebalik. Mitra hanya menunggu, yang belanja justru kepala SPPG. Padahal selama ini sudah berjalan lancar, mitra menjaga kualitas, sekolah juga nyaman,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa banyak sekolah sebelumnya bahkan membuat pernyataan resmi agar tidak dipindahkan ke dapur lain karena kenyamanan pelayanan dari dapur MBG miliknya. 

“Ada sekitar 15 sekolah yang membuat pernyataan, dari total 59 sekolah dengan sekitar 3.400 siswa dari KB, TK, SD, SMP hingga SMK,” ujar Angwar saat dikonfirmasi di SPPG.

Terkait kondisi siswa yang sempat menjalani tindakan medis, Angwar memastikan bahwa semuanya telah membaik. Bahkan, dirinya mendatangi rumah korban untuk memastikan langsung kondisinya.

“Sudah ditangani. Ada yang sudah kembali sekolah, ada yang tadi masih didampingi guru. Semua membaik,” tambahnya.

Menanggapi sikap keluarga siswa, Angwar menyebut tidak ada yang menyalahkan dapur SPPG, karena sumber minuman (susu kedelai) bukan berasal dari dapur produksi.

“Tanggapan keluarga tidak menyalahkan dapur, karena sumbernya dari luar, dari supplier. Jadi bukan dari makanan. Minuman itu juga bukan diproduksi oleh dapur,” tegasnya.

Kasus ini masih dalam penelusuran pihak terkait, sementara pihak SPPG memastikan operasional kembali berjalan dengan pengawasan lebih ketat untuk mencegah insiden serupa.

Saat ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso masih melakukan uji laboratorium pada makanan dan minuman yang disajikan dalam menu MBG, yang diproduksi oleh SPPG Al Hidayah 3 Desa Rejoagung. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow