Dua Bayi Jadi Korban Pembuangan di Jombang, WCC Sebut Fenomena KTD
Fenomena KTD dimana perempuan terancam kesejahteraan sosialnya. Padahal negara mempunyai perangkat untuk menjawab kesulitan perempuan.
JOMBANG, SJP - Belum genap sepekan, dua bayi tak berdosa di Jombang di buang oleh orang tuanya. Peristiwa pertama di sebuah warung kosong Desa Jatipelem, Kecamatan Diwek, dan yang kedua di belakang Puskesmas Pembantu (Pustu) Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang.
Bersyukur kedua bayi berjenis kelamin laki-laki itu ditemukan dalam keadaan hidup oleh warga. Bayi pertama diketahui berusia sekira 4 bulan, sementara bayi kedua terlihat dalam rekaman video diterima wartawan masih seumur jagung.
Direktur Women's Crisis Center (WCC) Jombang, Ana Abdillah mengatakan, fenomena pembuangan bayi dari awal Januari 2025 sampai sekarang marak terjadi di berbagai daerah. Baik kondisi bayi dalam keadaan meninggal maupun hidup.
Ia menilai, untuk di Kabupaten Jombang tidak biasa, belum genap sepekan sudah terjadi dua kali pembuangan bayi di Kecamatan berbeda. Bisa dimungkinkan peristiwa menyentak hati nurani ini, karena posisi rentan perempuan.
"Aku melihatnya fenomena KTD atau kehamilan tidak diinginkan," ucap Ana Abdillah, Selasa (4/2/2025).
Faktor utama yang mendorong tindakan KTD adalah situasi sulit yang dihadapi oleh perempuan. Terutama bagi perempuan yang tidak mendapatkan dukungan dari pasangan atau keluarga.
Kehamilan yang tidak diinginkan, baik oleh perempuan yang sudah menikah ataupun belum, sering kali menjadi beban psikologis dan finansial yang berat.
"Perempuan sebagai ibu tidak hanya menghadapi kehamilan, tetapi juga harus memastikan tumbuh kembang anak dengan kualitas gizi dan kebutuhan yang memadai, yang tentu membutuhkan dukungan finansial," terangnya.
Tidak jarang, perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) atau dalam kondisi ekonomi yang sangat terbatas merasa terpaksa membuang bayinya.
Ana menekankan, meskipun perbuatan tersebut tidak dapat dibenarkan, sering kali perempuan dalam situasi ini merasa bahwa tidak ada pilihan lain selain menyerahkan bayi mereka kepada pihak yang dianggap lebih mampu secara ekonomi.
Aktivis pemerhati perempuan dan anak ini menilai bahwa minimnya pemahaman dan informasi tentang fasilitas sosial dari negara, menjadi salah satu penyebab tragedi ini.
"Padahal ada sarana negara yang bisa membantu perempuan dalam mengatasi kesulitan. Termasuk panti asuhan atau lembaga kesejahteraan sosial lainnya," ujarnya.
Pemerintah daerah, khususnya Kabupaten Jombang perlu lebih gencar mensosialisasikan layanan seperti Sistem Layanan Rujukan Terpadu (SLRT) yang memungkinkan perempuan korban kekerasan mendapatkan pendampingan serta akses ke jaminan sosial.
Ana juga mengingatkan bahwa penting bagi pemerintah untuk memastikan bahwa perempuan, terutama yang miskin dan mengalami kekerasan, tidak merasa diabaikan dalam hal kesejahteraan sosial.
"Penting untuk memastikan bahwa ibu hamil ini mendapatkan dukungan psikologis, finansial, dan akses ke layanan sosial yang memadai, serta memberi mereka informasi tentang tempat di mana mereka bisa menitipkan anak mereka dengan aman, seperti panti asuhan," terang Ana.
Selain itu, Ana juga menyoroti peran suami dan keluarga dalam mendukung perempuan, mengingat banyaknya kasus di mana perempuan harus menghadapinya sendirian tanpa dukungan dari pasangan.
"Tidak hanya ibu, tetapi juga ayah harus berperan dalam proses pengasuhan dan pemenuhan kebutuhan bayi," ujarnya.
Kasus penelantaran bayi ini mengingatkan masyarakat dan pemerintah akan pentingnya penyuluhan dan pemahaman tentang hak-hak sosial serta fasilitas yang ada untuk mendukung perempuan dalam kondisi tertekan.
"Pemerintah Kabupaten Jombang diminta untuk lebih serius dalam memperbaiki implementasi kebijakan kesejahteraan sosial, serta meningkatkan akses informasi kepada masyarakat tentang lembaga-lembaga yang bisa membantu dalam situasi seperti ini," pungkasnya.
Kilas Balik Penemuan Bayi di Jombang
Perlu diketahui, rentetan penemuan bayi untuk kali pertama diketahui oleh seorang tukang parkir usai pulang kerja. Tangisan bayi membuat tukang parkir tergerak untuk memeriksa. Benar saja, bayi menangis tergeletak dalam bak mandi samping warung kosong di Dusun Jaten, Desa Jatipelem, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang pada Minggu (2/2/2025) pagi.
Bayi ditemukan dalam kondisi hidup, disertai tas dan botol susu sesaat ditemukan tukang parkir inisial Y. Temuan tersebut sontak dilaporkan perangkat desa setempat dan Polsek Diwek, Jombang.
Kapolsek Diwek, AKP Edy Widoyono mengatakan jika bayi tersebut ditemukan pertama kali oleh seorang tukang parkir yang baru dari bekerja.
Melihat adanya bayi yang tergeletak di sebuah warung kosong itu ia pun menghubungi perangkat desa setempat yakni Dudut Suheryanto. Setelah perangkat desa setempat tiba, ia pun mengecek kondisi bayi yang masih sehat.
Bersama warga lalu membawa bayi tersebut ke rumah bidan desa, Luluk Mufarrokah untuk mendapat perawatan medis. Di sekitar lokasi, pihaknya menemukan juga tas berisi perlengkapan bayi dan susu, diduga milik orang tua bayi yang sengaja meletakkan di area tersebut.
"Kami juga berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kabupaten Jombang untuk melanjutkan penanganan kasus ini. Penyelidikan masih kami lakukan. Mengecek siapa yang membuang dan apa alasan dibaliknya," tandasnya.
Bayi kedua, Bayi mungil berjenis kelamin laki-laki ditemukan warga Dusun Gondang, Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang pada Selasa (4/2/2025) sekira pukul 06.15 WIB.
Bayi itu ditemukan kondisi sehat dalam sebuah kardus dengan sehelai selimut warna hijau. Penemuannya pun tepat di belakang Pondok Bersalin Desa (Polindes) Kecamatan Wobosalam.
"Kondisi bayi sehat saat ditemukan," ucap Kapolsek Wonosalam, AKP Darul Huda, Selasa (4/2/2025).
Data terkait kronologis dan penanganan bayi lebih lanjut diserahkan ke Polres Jombang. Kondisi bayi terakhir sudah dibawa ke Puskesmas Wonosalam untuk perawatan lebih lanjut.
"Saat ini dirawat di Puskesmas Wonosalam," ujarnya.
Sementara itu, Kasi Humas Polres Jombang AKP Kasnasin merinci kronologi penemuan bayi dalam kardus. Pagi itu, pelapor hendak membeli tahu melintasi daerah dekat Puskesmas Pembantu (Pustu).
"Melihat ada kardus yang terikat tali tampar kecil berwarna kuning di bahu jalan kurang lebih sekitar 10 meter sebelah barat Pustu Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam," ungkap AKP Kasnasin, Selasa (4/2/2025).
Melihat kardus itu bergerak, pelapor ingin melihat isi dalam kardus. Betapa kagetnya saat dibuka terdapat sesosok bayi mungil yang terbungkus dengan kain hijau. Sontak pelapor memanggil tetangga sekitar bernama Imam untuk melihat bayi tersebut.
"Tidak lama kemudian banyak warga yang berdatangan, bersama dengan bidan Desa Carangwulung bernama Vida. Lalu Bidan Vida membawa bayi ke Pustu Desa Carangwulung," terangnya.
Setelah dilakukan perawatan dan datang anggota polisi dari Polsek Wonosalam. Bayi mungil tersebut dibawa ke Puskesmas Wonosalam.
Dalam rekaman video berdurasi 34 detik, terlihat seorang perempuan mengenakan setelan baju warna ungu dan membawa sehelai handuk mengeluarkan bayi dalam kardus. Bayi tampak sehat dengan balutan kain hijau.
"Selanjutnya anggota Polsek Wonosalam dan Bidan Vida membawa bayi tersebut ke Puskesmas Wonosalam untuk penanganan selanjutnya," bebernya.
Pihak kepolisian kini tengah melakukan penyelidikan untuk mengetahui motif dan pelaku yang tega melakukan pembuangan bayi. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

