Dua Abad Ponpes Bahrul Ulum Jombang, Gus Miftah: Teladani Para Pendiri Pesantren!

Ribuan santri, masyarakat, dan tokoh memadati kompleks pesantren dalam acara yang diisi selawat, budaya, dan tausiah inspiratif dari Gus Miftah.

19 Oct 2025 - 18:47
Dua Abad Ponpes Bahrul Ulum Jombang, Gus Miftah: Teladani Para Pendiri Pesantren!
Kegiatan puncak dua abad Ponpes Bahrul Ulum, Tambakberas Jombang. (Ist/SJP)

JOMBANG, SJP – Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang, merayakan puncak peringatan dua abad (1825-2025) dengan khidmat dan penuh semangat kebangsaan, Sabtu (18/10/2025) malam. Ribuan santri, masyarakat, dan tokoh memadati kompleks pesantren dalam acara yang diisi selawat, budaya, dan tausiah inspiratif dari Gus Miftah.

Suasana semarak terasa sejak dibukanya acara dengan lantunan selawat kebangsaan oleh para santri. Kemeriahan terus berlanjut dengan penampilan grup musik Amed Uye yang membawakan selawat berirama reggae, serta hiburan sarat pesan kebangsaan dari budayawan Cak Percil Cs.

Puncak acara adalah tausiah dari dai kondang Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah. Pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji, Sleman, Yogyakarta itu mengajak para santri untuk meneladani para pendiri pesantren dalam menjaga keseimbangan antara ilmu agama dan semangat nasionalisme.

Acara ini juga dihadiri oleh jajaran Forkopimda Kabupaten Jombang, para kiai, serta tokoh masyarakat yang turut memberikan doa dan dukungan bagi perjalanan panjang pesantren tertua di Indonesia ini.

Refleksi Dua Abad dan Visi Ke Depan

Sebelumnya, dalam rangkaian peringatan pada Rabu (16/10/2025), Ketua Umum Yayasan PPBU Tambakberas, KH. Wafiyul Ahdi, menegaskan bahwa usia dua abad bukan sekadar perayaan, melainkan momentum refleksi dan pembenahan.

“Abad pertama ditandai oleh perjuangan Mbah Sikha sebagai pendiri cikal bakal pesantren. Memasuki abad kedua, Mbah Wahab berhasil membawa Bahrul Ulum menjadi pesantren yang menyinergikan pendidikan agama dengan pendidikan nasional,” ujarnya.

KH. Wafiyul Ahdi menambahkan, semangat pembaruan telah dirintis sejak era KH. Abdul Wahab Chasbullah pada 1912, dengan mengenalkan huruf latin, berhitung, dan ilmu umum—sebuah terobosan yang langka pada masanya.

“Dari dulu, Mbah Wahab sudah membuka pandangan santri terhadap ilmu dunia tanpa meninggalkan nilai-nilai agama. Itulah pondasi yang membuat madrasah-madrasah di bawah Bahrul Ulum tetap eksis hingga kini,” jelasnya.

Ditegaskannya, sosok KH. Abdul Wahab Chasbullah bukan hanya ulama, melainkan juga tokoh nasional yang menanamkan semangat kebangsaan dalam tubuh Nahdlatul Ulama (NU). “Spirit itulah yang harus diwarisi para santri sekarang, agar mereka tak hanya berilmu tapi juga punya jiwa penggerak bangsa,” ungkapnya.

Kini, Bahrul Ulum membawahi 19 lembaga pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, dan telah melahirkan 30 profesor dari 16 perguruan tinggi berbeda di Indonesia. Melalui momentum dua abad ini, Bahrul Ulum meneguhkan komitmennya untuk tetap menjadi pusat pendidikan dan peradaban Islam yang relevan sepanjang masa, melahirkan bukan hanya ulama, tetapi juga intelektual dan pemimpin bangsa. (*)

Editor: Danu S 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow