Dua Abad Berdiri, Masjid Kuningan Jadi Jejak Syiar Islam di Blitar

Masjid tua yang berusia dua abad di Desa Kuningan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar menjadi saksi perjalanan syiar Islam di Blitar Raya.

19 Feb 2026 - 20:55
Dua Abad Berdiri, Masjid Kuningan Jadi Jejak Syiar Islam di Blitar
Pengurus Masjid Kuningan Pondok Kidul atau Masjid Nurul Huda Kuningan Selatan saat menunjukan bagian yang merupakan peninggalan dua tokoh penting. (Foto:Ninda Kinanti)

BLITAR, SJP - Di tengah perkampungan Desa Kuningan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar berdiri sebuah masjid tua yang menjadi saksi perjalanan panjang syiar agama Islam di wilayah Blitar Raya.

Masjid itu dikenal sebagai Masjid Kuningan Pondok Kidul atau Masjid Nurul Huda Kuningan Selatan.

Dibangun sekitar tahun 1823, Masjid ini tercatat sebagai yang tertua di Kabupaten Blitar. Bahkan usianya lebih senior dibandingkan Masjid Agung, Kota Blitar yang didirikan sekitar tahun 1895. Artinya, Masjid Kuningan telah melewati lebih dari dua abad sejarah.

Saat ditemui, Pengurus Masjid Kuningan Pondok Kidul, Haikal Asfari menceritakan, masjid ini didirikan oleh dua tokoh penting yang disebut sebagai bagian dari pasukan khusus Pangeran Diponegoro, yakni Syekh Abu Hasan dan Syekh Abu Mansur.

Keduanya memiliki hubungan keluarga, dimana Syekh Abu Hasan merupakan mertua dari Syekh Abu Mansur.

"Yang pertama kali datang ke wilayah Blitar adalah Syekh Abu Hasan, kemudian beberapa tahun lagi yang datang menantunya Syekh Abu Mansur," ceritanya, Kamis (19/2/2026).

Sebelum tiba di Blitar, keduanya memiliki peran penting di lingkungan Kerajaan Mataram Islam di Yogyakarta. Syekh Abu Hasan dikenal sebagai tokoh agama atau ulama, sementara Syekh Abu Mansur disebut masih memiliki garis keturunan Panembahan Senopati yang merupakan pendiri Mataram Islam.

Kedatangan Syekh Abu Hasan dan Syekh Abu Mansur ke Blitar memiliki misi untuk menyebarkan ajaran Islam dan misi perjuangan membebaskan rakyat dari penjajahan Belanda.

Kala itu, mereka mendirikan Pondok Pesantren (Ponpes) dan Masjid untuk pusat pendidikan serta kegiatan agama Islam bagi masyarakat di wilayah Blitar.

"Setelah Perang Jawa dan Diponegoro ditangkap, mereka tidak kembali ke Yogyakarta. Mereka tetap disini untuk melanjutkan syiar Islam," terangnya.

Setelah dua abad berlalu, bangunan Masjid dan Pondok Pesantren peninggalan kedua tokoh tersebut masih berdiri kokoh di halaman kompleks. 

Struktur utama berada di bagian dalam Masjid, dan bagian serambi depan serta samping kiri ditambahkan untuk menyesuaikan kebutuhan jemaah. Tercatat, Masjid terakhir kali direnovasi pada tahun 1880.

Haikal menyebut di dalam Masjid, sejumlah peninggalan bersejarah masih digunakan. Mulai dari bedug, mimbar, hingga tombak Dwisula bermata dua yang digunakan saat Khotbah Salat Jumat.

Memasuki bulan Ramadan 1447 H/2026, Masjid tetap menjadi pusat kegiatan ibadah, mulai dari Salat Tarawih, Tadarus, Itikaf. Selain itu, sebanyak 150 anak mengikuti Pondok Ramadan yang digelar santri lokal dan luar Desa.

"Menjelang bulan Ramadan kemarin, banyak peziarah yang datang ke Makam Syekh Abu Hasan dan Syekh Abu Mansur. Jadi, disini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga saksi perjuangan, pendidikan, dan perjalanan panjang syiar Islam di tanah air," tuturnya.

Pada bagian bangunan Pondok Pesantren peninggalan kedua tokoh tersebut juga masih berdiri kokoh di halaman kompleks.

Rumah panggung bergaya joglo itu hampir 90 persen masih mempertahankan material aslinya.

Bagian bawah bangunan menggunakan kombinasi bata, sementara bagian atas didominasi kayu jati. 

Enam kamar berjajar saling berhadapan, dipisahkan anyaman bambu. Pintu dengan engsel kayu model lama serta sebagian besar genteng juga masih asli.

Dari pintu pondok menuju masjid, tersusun batu andesit memanjang sebagai jalan bagi para santri yang telah bersuci menuju tempat ibadah. Detail ukiran di atas pintu kamar pondok memiliki kemiripan dengan ornamen di bagian dalam masjid, menandakan pembangunan keduanya dilakukan hampir bersamaan sekitar 1830.

"Pembangunan pondok dan masjid hampir bersamaan pada sekitar 1830. Bangunan pondok ini untuk pendidikan, sedang masjid untuk ibadah," ujarnya.

Meski sempat aktif menerima santri dari berbagai daerah seperti Tulungagung, Kediri, hingga Sumatera, sejak pandemi 2020 pondok hanya diisi santri lokal. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow