Diskusi Buku 'Reset Indonesia' di Madiun Dibubarkan Aparat, Dandhy Laksono: Bukti Indonesia Harus Direset!

Aparat pemerintah dan keamanan meminta acara diskusi buku Reset Indonesia dihentikan. Padahal, panitia telah mengirimkan surat pemberitahuan ke Polsek Madiun.

21 Dec 2025 - 09:35
Diskusi Buku 'Reset Indonesia' di Madiun Dibubarkan Aparat, Dandhy Laksono: Bukti Indonesia Harus Direset!
Dandhy Dwi Laksono salah satu penulis buku Reset Indonesia. (foto: FB Indonesia Baru)

MADIUN, SJP — Diskusi buku Reset Indonesia yang rencananya digelar di Desa Wisata Gunungsari, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Sabtu (20/12/2025) malam, batal terselenggara setelah aparat pemerintah dan keamanan meminta acara dihentikan. Pembubaran ini langsung mendapat sorotan dari salah satu penulis buku, Dandhy Dwi Laksono, yang menilai peristiwa tersebut justru menjadi bukti kuat mengapa Indonesia perlu “direset”.

Diskusi yang sedianya dimulai pukul 19.00 WIB di Pasar Pundensari itu diselenggarakan oleh sejumlah komunitas lokal dan menghadirkan tim lengkap penulis Reset Indonesia, yakni Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu. Namun, saat acara siap dibuka, camat, lurah, sekretaris desa, Babinsa, serta pihak Polsek datang ke lokasi dan meminta diskusi dihentikan dengan alasan belum mengantongi izin.

Panitia menyatakan telah menyampaikan surat pemberitahuan kepada Polsek Madiun sebelum acara digelar. Meski demikian, aparat tetap meminta kegiatan tersebut tidak dilanjutkan.

Dandhy Laksono menyebut peristiwa di Gunungsari sebagai pengalaman pertama diskusi buku Reset Indonesia dibubarkan secara paksa. Padahal, menurutnya, selama dua bulan terakhir sejak buku itu diluncurkan pada Oktober 2025, diskusi telah digelar di sekitar 45 titik di berbagai daerah tanpa hambatan berarti.

“Di tempat ini pembuktian bahwa memang kita perlu mereset Indonesia. Kami hanya menulis buku, kami mendiskusikan isi buku. Teman-teman datang malam-malam ke sini untuk berdiskusi, tapi ternyata ada orang yang tidak suka diskusi buku,” kata Dandhy dalam pernyataannya di hadapan peserta.

Ia menegaskan bahwa keputusan menghentikan acara diambil dengan menghormati pertimbangan warga setempat sebagai tuan rumah. “Kami menghormati keputusan teman-teman yang sehari-hari tinggal dan menetap di sini. Pertimbangan mereka menjadi yang utama,” ujarnya, sembari menyampaikan permohonan maaf kepada peserta yang datang dari luar daerah.

Menurut Dandhy, situasi yang terjadi di Madiun justru mencerminkan kondisi demokrasi dan kebebasan berekspresi yang menjadi salah satu kritik utama dalam buku Reset Indonesia. “Kenapa kami menulis buku ini? Karena persis seperti malam inilah situasi yang kita hadapi di Indonesia sekarang,” tegasnya.

Sebelum peristiwa di Madiun, diskusi Reset Indonesia telah berlangsung di berbagai komunitas, kampus, sekolah, serta kelompok petani dan nelayan di sejumlah wilayah, mulai dari Jabodetabek, Serang, Sumedang, Bandung, Pangandaran, Purwokerto, hingga Yogyakarta dan Solo. Bahkan, pada 4 Desember lalu, diskusi digelar di Pendopo Wakil Bupati Banyumas atas undangan komunitas budaya setempat.

Pasca pembubaran di Madiun, tim penulis Reset Indonesia dijadwalkan memenuhi undangan resmi Bupati Trenggalek untuk menggelar diskusi serupa pada 22 Desember 2025. (*)

Editor: Danu 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow