Sistem Listrik Nasional di Ambang Ancaman Pemadaman Akibat Krisis Batu Bara

Bahlil memaparkan postur kebutuhan batu bara nasional: total kebutuhan PLN pada tahun 2026 ini 154 juta ton, sementara volume kontrak 134 juta ton, sehingga mengalami defisit pasokan 18 juta hingga 20 juta ton.

29 Jun 2026 - 08:30
Sistem Listrik Nasional di Ambang Ancaman Pemadaman Akibat Krisis Batu Bara
Ilustrasi tambang batu bara. (Beritasatu.com)

SUARAJATIMPOST.COM – Sistem kelistrikan nasional yang mayoritas masih bergantung pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) kini menghadapi tantangan serius. 

Dewan Energi Nasional (DEN) mengungkapkan adanya tren penurunan kualitas (degradasi kalori) pada pasokan komoditas batu bara di lapangan, yang tidak lagi sesuai dengan spesifikasi awal kontrak pembangkit.

Jika tidak segera ditangani, ketidaksesuaian spesifikasi bahan bakar ini berpotensi memicu gangguan operasional pembangkit hingga risiko pemadaman listrik massal.

Anggota DEN, Satya Widya Yudha, menjelaskan bahwa mayoritas PLTU di Indonesia dirancang dan terikat kontrak untuk mengonsumsi batu bara berkalori tinggi hingga medium, berkisar antara 4.200 hingga 5.000 GAR (Gross As Received). Namun, realitas di pasar saat ini justru didominasi oleh batu bara berkalori rendah.

"Ternyata jumlah batu bara dengan kalori seperti itu tidak cukup. Banyak sekali klasifikasi pasokan yang ada di lapangan jauh di bawah standar kontrak," ujar Satya pada Ahad (28/6/2026).

Senada dengan DEN, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, membenarkan adanya kendala pemenuhan interkoneksi batu bara untuk menjaga Hari Operasi Pembangkit (HOP) PT PLN (Persero). 

HOP merupakan indikator penting yang mengukur kecukupan stok bahan bakar agar pembangkit dapat terus beroperasi dalam jangka waktu tertentu.

Bahlil memaparkan postur kebutuhan batu bara nasional: total kebutuhan PLN pada tahun 2026 ini 154 juta ton, sementara volume kontrak 134 juta ton, sehingga mengalami defisit pasokan 18 juta hingga 20 juta ton. 

Menurut Bahlil, titik kelangkaan berada pada batu bara kalori medium, khususnya jenis kalori 5.200. Jenis ini sangat dibutuhkan oleh sejumlah pembangkit spesifik, namun ketersediaannya terus menyusut karena kualitas batu bara hasil tambang domestik alami penurunan.

Untuk mengantisipasi ancaman kelangkaan pasokan hulu ini agar tidak berdampak pada kestabilan daya listrik masyarakat, DEN telah menerbitkan arahan strategis kepada para operator pembangkit.

Dua langkah mitigasi yang diwajibkan oleh DEN adalah pembangunan fasilitas pencampuran (Blending Facility), operator diminta mencampur batu bara kalori rendah dengan sisa batu bara kalori tinggi agar mencapai standar minimum yang dibutuhkan mesin.

Kedua modifikasi teknologi (Retrofit) atau melakukan pembaruan teknologi pada unit-unit PLTU lama agar lebih adaptif. Dengan demikian, mesin pembangkit dapat mengonsumsi batu bara kalori rendah secara langsung tanpa mengalami penurunan daya mampu produksi listrik (derating).

Pemerintah dan DEN kini terus memantau percepatan adaptasi teknologi ini pada lini PLTU nasional guna memastikan pasokan listrik ke masyarakat tetap terjaga aman sepanjang tahun 2026. (**) 

Sumber: Beritasatu.com

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow