Dinkes Kota Batu Tegaskan Pemulasaran Jenazah HIV Aman, Kasus Kematian Turun Tajam

Dengan prosedur pemulasaran yang aman serta penurunan kasus kematian HIV yang signifikan, Dinkes Kota Batu berharap masyarakat tidak lagi memberikan stigma berlebihan. Sebaliknya, dukungan keluarga dan lingkungan dinilai sangat penting untuk menjaga martabat pasien, baik ketika masih hidup maupun setelah meninggal dunia.

16 Sep 2025 - 13:04
Dinkes Kota Batu Tegaskan Pemulasaran Jenazah HIV Aman, Kasus Kematian Turun Tajam
Kegiatan Pemulasaran HIV oleh Dinkes Kota Batu (Arul/SJP)

KOTA BATU, SJP – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu menegaskan bahwa pemulasaran jenazah dengan HIV dapat dilakukan secara aman, baik oleh petugas kesehatan maupun keluarga, selama mengikuti prosedur standar. 

Kabid Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Penanganan Bencana Dinkes Kota Batu, dr. Susana Indahwati pada Selasa (16/9/2025) menanggapi masih adanya stigma masyarakat terhadap pemulasaran jenazah HIV.

"Prosedur pemulasaran dilakukan dengan protokol ketat untuk mencegah risiko penularan. Meski potensi penularan HIV dari jenazah sangat kecil bahkan mendekati nol, langkah antisipasi tetap dijalankan," urainya.

Virus HIV sendiri sebenarnya tidak dapat bertahan lama di luar tubuh, tetapi bila ada kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh yang segar pada luka terbuka, maka risiko tetap ada. Karena itu wajib menggunakan alat pelindung diri lengkap.

Prosedur standar yang diterapkan meliputi penggunaan APD, pembersihan dan disinfeksi tubuh jenazah, penutupan rapat pada bagian tubuh yang mengeluarkan cairan, serta pembungkusan berlapis dengan kain kafan atau plastik kedap air. Limbah medis seperti air bekas pemandian dan APD sekali pakai juga wajib dimusnahkan setelah terlebih dahulu didesinfeksi.

Dinkes Kota Batu juga memberi ruang bagi keluarga untuk tetap terlibat dalam proses pemulasaran, mulai dari memandikan, mengkafani, hingga menguburkan, selama mengikuti protokol kesehatan. Mudin desa/kelurahan juga dilatih untuk membantu proses tersebut.

“Edukasi masyarakat penting untuk menghapus stigma. Risiko penularan sangat rendah jika prosedur benar-benar dijalankan. Kami juga rutin memberikan pelatihan kepada petugas pemulasaran jenazah, minimal satu kali dalam setahun,” tandasnya. (adv)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow