Diduga Terkait Sengketa Tambang, Kades dan Aktivis di Probolinggo Terlibat Adu Jotos

Viral! Kades dan aktivis di Probolinggo terlibat perkelahian diduga akibat sengketa tambang di Sungai Pancar Glagas. Warga pun turun tangan melerai. Kasus ini kini dilaporkan ke polisi.

10 Apr 2026 - 19:30
Diduga Terkait Sengketa Tambang, Kades dan Aktivis di Probolinggo Terlibat Adu Jotos
Rekaman perkelahian antara kativis dan kepala desa (Foto: istimewa)

PROBOLINGGO, SJP - Peristiwa perkelahian antara seorang kepala desa dan aktivis di Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, menghebohkan warga setelah videonya beredar luas di media sosial pada Jumat (10/4/2026). Insiden tersebut diduga dipicu oleh sengketa aktivitas tambang batuan di kawasan Sungai Pancar Glagas, Desa Patemon.

Video berdurasi sekitar 16 detik yang beredar melalui aplikasi WhatsApp memperlihatkan dua pria yang diketahui masing-masing berstatus sebagai kepala desa berinisial M dan seorang aktivis berinisial J terlibat baku hantam.

Dalam rekaman tersebut, keduanya tampak saling menyerang hingga memancing perhatian warga sekitar. Beberapa orang yang berada di lokasi kejadian terlihat berusaha melerai pertikaian tersebut agar tidak semakin memburuk.

Dalam video itu juga terdengar suara seorang warga yang berteriak menggunakan bahasa Madura, berusaha menghentikan perkelahian tersebut.

“Mateh.. Ella gi gi… gi ella gi begh,” ucapnya. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, seruan tersebut bermakna, “Sudah, jangan Pak Kades, jangan… jangan Pak Kades.”

Perkelahian terjadi tepat di area tambang batuan, bahkan berada di dekat alat berat berupa ekskavator yang digunakan untuk aktivitas penambangan di sungai tersebut. Situasi sempat memanas sebelum akhirnya berhasil dikendalikan setelah sejumlah warga turun tangan melerai kedua pihak yang terlibat.

Seorang warga yang berada di lokasi kejadian, namun enggan disebutkan identitasnya, mengungkapkan bahwa konflik tersebut bermula dari perbedaan klaim kepemilikan wilayah tambang. Menurutnya, pihak kepala desa menganggap bahwa lokasi tambang berada dalam wilayah administratif Desa Patemon, Kecamatan Pakuniran.

“Pihak Kades mengklaim lokasi itu masih masuk wilayah Desa Patemon. Sementara pihak aktivis menyebut bahwa tambang tersebut berada di luar batas desa. Jadi keduanya sama-sama merasa memiliki kewenangan,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Perbedaan pandangan tersebut memicu ketegangan yang akhirnya berujung pada aksi kekerasan di lokasi tambang. Sengketa wilayah tambang memang kerap menjadi sumber konflik, terlebih jika berkaitan dengan aktivitas ekonomi yang melibatkan kepentingan banyak pihak.

Sementara itu, berdasarkan informasi yang dihimpun dari rekan aktivis, insiden perkelahian tersebut tidak berhenti di lokasi kejadian saja. Pihak aktivis disebut telah melaporkan peristiwa tersebut ke Polres Probolinggo untuk diproses secara hukum.

Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait penanganan kasus tersebut. Namun, masyarakat berharap agar persoalan ini dapat diselesaikan secara bijak dan tidak kembali memicu konflik serupa di kemudian hari, mengingat dampaknya dapat meresahkan warga sekitar.

Kasus ini menjadi pengingat pentingnya penyelesaian sengketa secara dialog dan jalur hukum, terutama yang berkaitan dengan batas wilayah dan aktivitas tambang. Kejelasan regulasi serta komunikasi yang baik antar pihak dinilai sangat diperlukan guna mencegah terjadinya konflik terbuka seperti yang terjadi di Pakuniran ini. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow