Di Balik Penjara Mojokerto, Cahaya Lilin Natal Nyalakan Harapan
Ibadah yang berlangsung khidmat ini mengusung misi penguatan mental bagi mereka yang tengah menjalani masa pembinaan.
MOJOKERTO, SJP — Dinding beton dan jeruji besi tidak menghalangi kekhusyukan puluhan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Nasrani di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Mojokerto untuk menyambut kelahiran Sang Juru Selamat.
Pada Selasa (24/12/2025), Aula Lapas Mojokerto berubah menjadi ruang refleksi yang sarat akan haru dan pengharapan dalam peringatan ibadah Natal.
Ibadah yang berlangsung khidmat ini mengusung misi penguatan mental bagi mereka yang tengah menjalani masa pembinaan.
Pendeta Erick Yoseph dari GKJW Sukorame, dalam khotbahnya, menekankan bahwa Natal adalah momentum untuk lahir kembali secara spiritual.
Ia mengajak para narapidana untuk tidak terpaku pada kesalahan masa lalu, melainkan fokus pada pembaruan iman dan perbaikan diri.
"Natal bukan sekadar seremoni, tapi tentang keberanian untuk berubah dan menumbuhkan harapan baru di tengah keterbatasan," ujar Pendeta Erick di hadapan para jamaah yang tertunduk khusyuk.
Suasana mencapai puncak emosional saat prosesi candle light (penyulatan lilin) dimulai. Di tengah remang cahaya lilin, isak tangis haru terdengar dari beberapa warga binaan. Salah seorang WBP mengaku bahwa momen ini merupakan titik balik baginya.
"Ibadah ini memberikan ketenangan yang sulit dijelaskan. Di sini kami merasa masih memiliki harapan. Kami dikuatkan untuk menjalani sisa masa pembinaan dengan lebih ikhlas dan bertekad menjadi manusia yang lebih baik," ungkap salah satu warga binaan berinisial BR (38) dengan nada bergetar.
Meski berlangsung dalam pengawalan ketat petugas, seluruh rangkaian acara tetap mengedepankan sisi humanis. Mulai dari puji-pujian, kesaksian, hingga doa berkat penutup, semuanya berjalan aman, tertib, dan kondusif. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

