Daya Saing Apel Semakin Lesu, Petani di Kota Batu Beralih Tanam Sayur

Menurut petani, jika tidak ada langkah konkret, bukan tidak mungkin apel akan kehilangan tempatnya sebagai simbol pertanian Kota Batu.

11 Jul 2025 - 19:45
Daya Saing Apel Semakin Lesu, Petani di Kota Batu Beralih Tanam Sayur
Penebangan pohon apel tua di Kota Batu (Arul/SJP)

KOTA BATU, SJPKomoditas apel yang selama ini menjadi ikon pertanian Kota Batu kini menghadapi masa-masa sulit. Penurunan produktivitas, tingginya biaya perawatan, serta ketidakpastian cuaca, memaksa petani mengalihfungsikan lahan dari apel ke tanaman sayuran.

Fenomena ini terlihat jelas di kawasan Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Sejumlah petani tampak membongkar lahan perkebunan apel dan menebangi pohon-pohon tua yang sudah tidak lagi produktif.

Dwiyanto, salah seorang petani setempat, mengaku terpaksa menebang ratusan pohon apel berusia 40 hingga 50 tahun, lantaran tidak lagi mampu menghasilkan buah yang layak jual.

“Kalau terus dipertahankan, malah rugi. Obat-obatan mahal. Panennya sedikit. Harganya juga kadang tidak menentu. Jadi kami beralih ke sayuran yang lebih cepat panen dan risikonya lebih kecil,” ungkapnya, Jumat (11/7/2025).

Pohon apel yang telah berusia tua memang lebih rentan terserang penyakit dan memerlukan perawatan intensif. Ditambah cuaca yang kian sulit diprediksi akibat perubahan iklim, membuat risiko gagal panen semakin tinggi.

Situasi ini menjadikan komoditas apel tak lagi menarik secara ekonomi bagi banyak petani. Para petani berharap ada intervensi dari pemerintah daerah untuk menyelamatkan komoditas apel sebagai ciri khas Kota Batu.

Petani berharap ada bantuan dari pemerintah. Mulai dari pemberian bibit unggul, subsidi pupuk dan pestisida, hingga pelatihan teknis budidaya yang lebih modern dan efisien.

Sebab menurut mereka, jika tidak ada langkah konkret, bukan tidak mungkin apel akan kehilangan tempatnya sebagai simbol pertanian Kota Batu.

“Ladang-ladang apel yang dulu menjadi pemandangan khas kawasan pegunungan itu, perlahan bisa berganti menjadi hamparan sayur-mayur yang lebih menguntungkan secara ekonomi namun kehilangan nilai historis dan identitas lokal," tutupnya.

Diberitakan sebelumnya, berdasar data dari Dinas Pertanian Kota Batu, luas lahan apel terus mengalami penyusutan. Pada 2022, tercatat seluas 1.200 hektare. Namun pada 2025, hanya tersisa 1.092 hektare.

Penurunan ini diakibatkan oleh banyaknya petani yang memilih beralih menanam komoditas lain: seperti kubis, sawi, atau wortel, yang dinilai lebih stabil dari segi harga dan masa panen. (*)

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow