Kisah Pak Asbani, Sang Perajin Payung Kertas Asal Kota Blitar
Kisah seorang pria tua bernama Asbani (70) warga Kelurahan Bendo, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar yang merupakan perajin payung kertas.
KOTA BLITAR, SJP - Payung kertas merupakan salah satu kerajinan yang kini mulai jarang terlihat, khususnya di Kota Blitar. Payung kertas merupakan payung kuno yang terbuat jalinan bambu dan kertas, dengan warna yang beragam.
Menyusuri jalanan Kota Blitar, ada seorang pria tua yang nampak memproduksi payung kertas. Pria itu adalah Pak Asbani (70) warga Kelurahan Bendo, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar.
Saat ditemui di rumahnya, Pak Asbani menceritakan bahwa dirinya sudah menekuni kerajinan payung kertas selama 20 tahunan, tepatnya sejak tahun 1990-an. Dia belajar membuat payung kertas secara mandiri atau otodidak.
Produk payung kertas yang dibuat Pak Asbani awalnya dipesan oleh pelanggan dari Kabupaten Sidoarjo. Pesanan dalam jumlah besar pernah ia lakoni dan sampai membuatnya kewalahan, hingga sempat mengajak beberapa tetangga untuk membantu memproduksi payung kertas.
"Pelanggan tetap itu dari Sidoarjo, tapi tiba-tiba berhenti memesan sama saya sampai akhirnya tutup total, karena sepi pembeli," ceritanya, Sabtu (4/10/2025).
Sejak saat itu, ia bekerja seadanya untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. Mulai dari beternak jangkrik, memelihara kambing hingga sapi untuk menyambung hidup keluarga.
Pak Asbani mengaku bahwa kerajinan payung kertas yang ia buat sudah berjalan hampir 15 tahun. Karena kondisi yang sepi itu, usaha tersebut berhenti selama 10 tahun.
Kemudian, kembali memulai produksi payung kertas sejak empat tahun lalu atau saat terjadi pandemi Covid-19.
"Empat tahunan ini, mulai produksi lagi dan Alhamdulillah selalu ada pesanan, meskipun tidak sebanyak dulu. Dari Tulungagung, Kediri, Surabaya, dan lokal Blitar. Tiap bulan biasanya menjual 350 biji payung kertas ke pelanggannya," ujarnya.
Pak Asbani menjual kerajinan payung kertas seharga Rp10.000 per biji. Ada beberapa jenis pilihan payung kertas yang dibuatnya, yakni warna putih dan ada yang berwarna seperti merah.
Saat ini, Pak Asbani mengerjakan sendiri kerajinan payung, mulai penyiapan bahan sampai produksi. Untuk bahannya, ia sebagian memanfaatkan limbah kayu dari perajin yang harganya lebih murah.
"Yang pesan itu biasanya guru untuk tugas mewarna siswa di sekolah. Ada juga yang pesan untuk payung makam dan lain-lain," kata dia.
Pak Asbani menerangkan proses pembuatan dimulai dari merangkai belahan bambu untuk rangka kerajinan payung kertas. Bambu yang sudah dibelah itu, dirangkai menggunakan benang untuk menjadi bagian atap payung.
"Belahan bambu yang sudah selesai dirangkai, dikaitkan dengan salah satu ujung kayu yang sudah dibentuk bulat panjang yang berfungsi sebagai gagang payung," terakhir.
Tahap terakhir, Pak Asbani memasang atap payung menggunakan bahan kertas. Ia menempelkan kertas pada rangka atap payung menggunakan lem. Selang beberapa saat, payung kertas buatan Pak Asbani pun sudah jadi dan bisa digunakan. (*)
Editor: Rizqi ArdianĀ
What's Your Reaction?

