Dari Blitar, Megawati Soekarnoputri Gagas Konferensi Asia Afrika Plus (KAA Plus), untuk Persatuan Global South
Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menjadi keynote speaker pada kegiatan seminar peringatan 70 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) di Auditorium Perpustakaan Bung Karno, Kota Blitar. Pada kesempatan tersebut, Megawati Soekarnoputri menggagas adanya Konferensi Asia Afrika (KAA-Plus) untuk persatuan Global South.
KOTA BLITAR, SJP - Pada Sabtu (1/11/2025) atau hari kedua berada di Blitar, Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menjadi keynote speaker pada kegiatan seminar peringatan 70 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) di Auditorium Perpustakaan Bung Karno, Kota Blitar.
Di hadapan 32 akademisi dan delegasi dari 32 negara, Megawati Soekarnoputri menggagas adanya Konferensi Asia Afrika Plus (KAA Plus) untuk persatuan Global South. KAA Plus merupakan sebuah forum lanjutan dalam format yang lebih luas, mencangkup negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
Dalam pidatonya, Megawati Soekarnoputri mengatakan forum ini diharapkan menjadi wadah permanen bagi negara-negata Global South untuk membangun masa depan bersama yang bebas dari ketimpangan, hegemoni dan ketidakadilan struktural global.
Gagasan KAA Plus ini menegaskan semangat Bandung 1955 dalam konteks abad ke-21. Jika enam dekade lalu KAA mempersatukan negara-negara yang baru merdeka melawan kolonialisme, kini Megawati menyerukan solidaritas baru untuk menghadapi ketimpangan ekonomi, hegemoni teknologi, dan dominasi geopolitik.
"Jika pada tahun 1955 Bung Karno dan para pemimpin dunia mampu mengguncang tatanan kolonial, maka pada abad ke-21 kita juga mampu mengguncang tatanan digital dan ekonomi yang tidak adil," katanya, Sabtu (1/11/2025).
Gagasan yang diserukan Megawati Soekarnoputri ini dinilai sejalan dengan tren global yakni negara-negara Global South yang saat ini semakin memperkuat koordinasi lewat forum seperti BRICS Plus, G77 + China, dan Non-Aligned Movement Revival.
Tetapi, forum yang menyatukan Asia, Afrika dan Amerika Latin secara permanen belum ada dan gagasan KAA Plus menjadi langkah diplomasi untuk mengisi ruang tersebut.
Secara tegas, Megawati menekankan bahwa arsitektur global saat ini masih timpang. Berdasarkan data World Bank (2025), 84 negara Global South menampung lebih dari 75% populasi dunia, tetapi hanya menguasai sekitar 37 persen PDB global. Selain itu, ketergantungan ekonomi dan teknologi terhadap negara maju semakin tinggi.
Laporan UNCTAD 2024 juga menyoroti bahwa negara berkembang hanya menerima 15 persen investasi global di sektor teknologi tinggi, memperlebar kesenjangan inovasi.
"Asia Afrika dan Amerika Latin perlu membangun arsitektur baru ekonomi dan teknologi global yang lebih setara," tegasnya.
Salah satu putri Presiden Pertama RI Ir Soekarno ini juga menilai bahwa diplomasi internasional kedepan tidak bisa lagi berlandaskan pada kekuatan militer atau dominasi ekonomi semata.
Artinya, dunia memerlukan moralitas peradaban, sebagaimana pernah diserukan Bung Karno dalam pidatonya di PBB tahun 1960 berjudul To Build the World A New.
Melalui KAA Plus, Megawati menginginkan negara-negara Global South harus bersatu dalam agenda bersama. Mulai dari kedaulatan data, ketahanan energi, keadilan ekonomi, dan tata kelola teknologi yang adil.
"Dunia yang baru tidak boleh dibangun diatas kekuasan dan ketakutan, tapi diatas kesetaraan, solidaritas dan keamanan. Dari Blitar, mari kita bangun dunia baru yang tidak tunduk pada mesin dan modal, tetapi menempatkan manusia sebagai pusat peradaban," tutupnya. (*)
Editor : Rizqi Ardia
What's Your Reaction?

